Minggu, 19 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kontras Beber 'Borok' di Antara Segudang Prestasi Calon Tunggal Kapolri

Berdasarkan catatan Kontras tidak sedikit kasus terorisme yang memiliki indikasi adanya pelanggaran HAM.

Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNEWS / HERUDIN
Tito Karnavian saat masih menjabat Kapolda Metro Jaya dan berpangkat Inspektur Jenderal, memberikan rilis kasus pembunuhan bocah di dalam kardus, di Polda Metro Jaya, Jakarta, pada Sabtu (10/10/2015). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Presiden Joko Widodo akhirnya menunjuk Komjen Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kepala Kepolisian RI (Kapolri) untuk menggantikan Jenderal Badrodin Haiti yang segera memasuki masa pensiun.

Presiden Jokowi berharap keputusannya itu mampu meningkatkan profesionalisme Polri sebagai pengayom masyarakat dan memperbaiki kualitas penegakan hukum, terutama terhadap kejahatan narkoba, korupsi, dan terorisme.

Semasa berkiprah di kepolisian, Tito memang berpengalaman di bidang terorisme.

Dia berhasil menangkap teroris Azahari Husin dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur, membongkar orang-orang di balik konflik Poso dan penumpasan jaringan terorisme pimpinan Noordin Mohammad Top tahun 2009.

Tak lama setelah itu, Tito dipromosikan menjadi Kepala Densus 88 Antiteror Polri dan mengalami kenaikan pangkat dari Komisaris Besar ke Brigadir Jenderal.

Namun, segala prestasi dan capaian yang berhasil diraih Tito selama menjabat Kadensus 88 Antiteror polri 2009-2010 tidak berarti mulus tanpa catatan.

Menurut Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) rekam jejak Tito amat terkait dengan minimnya evaluasi institusional Densus 88.

Wakil Koordinator Kontras Puri Kencana Putri mengatakan selama ini Polri tidak pernah memiliki mekanisme evaluasi atas penanganan Densus 88 terhadap terduga teroris.

Apalagi, berdasarkan catatan Kontras tidak sedikit kasus terorisme yang memiliki indikasi adanya pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

"Jadi sepanjang Densus 88 tidak teraudit, jerih payah Tito membangun reputasi keamanan Indonesia akan sia-sia," ujar Puri saat dihubungi Kompas.com, Kamis (16/6/2016).

Puri menuturkan, Kontras telah mengompilasi beberapa catatan penting terkait penanganan terorisme selama Tito menjabat sebagai Kadensus.

Catatan ini penting untuk menjadi bahan kritik jika nanti Tito terpilih menjadi Kapolri.

1. Penggerebekan Jalin Jantho

Kasus pertama, penggerebekan kelompok teroris di Pegunungan Jalin Jantho, Provinsi Aceh awal tahun 2010. Saat itu Polisi menduga tempat tersebut merupakan lokasi latihan militer teroris kelompok Jamaah Islamiyah.

Dalam penggerebekan polisi berhasil menangkap tiga orang tersangka dan beberapa barang bukti. Menurut Puri tidak terdapat tindakan perlawanan dari para tersangka, namun seorang warga sipil bernama Kamaruddin (37 tahun) tewas tertembak dan dua warga lainnya juga mengalami luka akibat tembakan dari pihak Densus 88.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved