Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tak Lagi Diterima Keluarga, Ada Eks Pasien Kerja di Rumah Sakit

Beberapa di antaranya ditampung pihak rumah sakit sebagai tenaga pekerja. Mereka bekerja atas kemauan sendiri serta memenuhi klasifikasi

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: David_Kusuma

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Terik matahari membakar kota Manado, Selasa (10/5). Namun, itu seolah tak terasakan pria tua ini. Di tengah halaman yang terlindung pepohonan, ia mengatur parkiran sepeda motor di halaman RS Ratumbuysang.

Kala Tribun menghampiri, ia tengah menuntun sebuah motor yang hendak keluar. "Kiri - kiri," perintahnya.

Si pengendara, seorang remaja, hanya membayar seribu rupiah.
Ia tak protes. Malah berterima kasih.

Tak jauh situ, terdapat seorang pria. Duduk di taman, ia menggoyang - goyangkan kepalanya. Tak lama kemudian, datang seorang pria lainnya, berteriak-teriak memaki, tak lama kemudian menangis.

Melihat tingkah itu, si pria tua tadi menyilangkan kedua jarinya di dahi. "Mereka gila," kata dia.

Dulunya pria tua tadi juga memiliki penyakit jiwa, namun, ia sudah sembuh setelah menjalani perawatan bertahun-tahun di rumah sakit itu.

Meski sudah sembuh dia tak 'diterima' anggota keluarganya.
Kemurahan hati pihak rumah sakitlah yang membuat dia bekerja di sana. Sejumlah 'alumnus' rumah sakit tersebut, utamanya yang berusia tua, mengalami nasib menyedihkan, mereka tidak lagi diterima keluarganya.

Beberapa di antaranya membantu di rumah sakit itu. Wadir RS Ratumbuysang Frida Agu membenarkan jika beberapa pasien rumah sakit jiwa tidak diterima lagi keluarga mereka.
"Ada yang seperti itu," kata dia.

Dibeberkan Frida, beberapa di antaranya ditampung pihak rumah sakit sebagai tenaga pekerja. Mereka bekerja atas kemauan sendiri serta memenuhi klasifikasi, antaranya sudah sembuh. "Kami perhatikan mereka," kata dia.

Frida membeberkan, pihaknya mengusahakan berdirinya panti agar bisa menampung 'alumnus' Rumah sakit jiwa itu yang tidak diterima keluarganya.

Panti itu bakal berdiri bersamaan dengan naik kelasnya rumah sakit itu, dari tipe B ke A. "Kita rencanakan dirikan panti, agar mereka bisa dilatih bekerja," kata dia.
Pada kesempatan itu, Frida menuturkan, rumah sakit jiwa itu kekurangan daya tampung. Hanya tersedia 200 tempat tidur, sedang pasien yang datang setiap harinya berjumlah 40 sampai 90 pasien.

"Jika tiap hari saja ada 30 persen pasien yang nginap, maka jumlah pasien melebihi daya tampung," kata dia.

Menurutnya, banyaknya pasien disebabkan RS tersebut satu satunya di Sulut. Bahkan Gorontalo belum punya RS jiwa.
"Makanya semuanya datang kemari," kata dia.

Kendala lainnya, beber dia, adalah jumlah tenaga ahli. Hanya ada 4 tenaga ahli, untuk ratusan pasien. "Mustinya lebih dari itu," kata dia.

Menyiasatinya, pihak rumah sakit menggunakan dokter umum.
Mereka menopang kerja dokter ahli. "Namun untuk kasus khusus, tetap harus ditangani dokter ahli," ujar dia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved