Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Waruga Sawangan, Bayang-bayang Samar Budaya Cina-Mongolia

WARUGA atau makam batu peninggalan Suku Minahasa zaman purbakala menjadi cagar budaya yang selalu dilestarikan pemerintah dan masyarakat di Minahasa.

Penulis: Alexander_Pattyranie | Editor:
TRIBUNMANADO/FINNEKE WOLAJAN
Waruga Sawangan, situs purbakala mahakarya zaman Megalitikum 

Laporan wartawan Tribun  Manado Alexander Pattyranie

TRIBUNMANADO.CO.ID, AIRMADIDI -  WARUGA atau makam batu peninggalan Suku Minahasa zaman purbakala menjadi cagar budaya yang selalu dilestarikan pemerintah dan masyarakat di Minahasa.

Namun, Alex Runtukahu (70), warga keturunan Tionghoa yang cukup lama mempelajari sejarah Cina, menyebut bahwa waruga sesungguhnya merupakan bentuk makam bangsa Mongolia.

Ditemui Tribun Manado di tempat usahanya di Jalan Hasanudin Kecamatan Singkil Manado, Kamis (21/4), Alex tampak semangat mengisahkan pengetahuannya tentang waruga.

Ayah Alex berasal dari Cina daratan yang merantau ke Indonesia pada 1924. Awalnya, ia bermukim di Sangihe. Karena tak mampu menyesuaikan diri, ia pindah ke Desa Sawangan yang kini masuk wilayah Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara. Di desa ini ia menikah dan Alex lahir di situ.

Alex menempuh pendidikan Tionghoa mulai dari sekolah yang kini bernama SD Tridharma. Pada 1935 ia berusia 16 tahun dan menyelesaikan pendidikannya. Dari situ ia mulai mengkaji sejumlah temuan terkait waruga yang tersebar di daerah Nyiur Melambai ini.

"Bicara waruga harus betul-betul tahu kondisi kebudayaan Desa Sawangan yang memiliki 124 waruga. Semulanya itu di hutan belantara pesisir Sungai Tondano," kata dia.

Sejak kecil ia bergaul intens dengan warga Desa Sawangan. "Desa itu punya latar belakang Tionghoa. Waruga ini juga ada di Cina yang disebut tje kwan," beber dia.

Dari hasil kajian yang ia temukan, waruga ada dalam sejarah Cina kuno. Pada tahun 670 Sebelum Masehi sampai 1911 terdapat lima dinasti antara lain Dinasti Tan, Sun, Yoan, Ming, dan Cin.

"Selama dua abad Tan menguasai Cina. Pada zaman kerajaan Mongolia, populer dengan Kubilai Khan yang menguasai Asia Tenggara," kata dia.

Mongolia melihat sesuatu yang luar biasa di seberang Malaysia dan mengirim perahu ke Indonesia. "Zaman itu belum ada Indonesia maupun Hindia Belanda. Kepulauan Indonesia disebut Nan Yan atau daerah kepulauan lautan selatan," tutur dia.
Ratusan kapal dikirim, kala itu Nan Yan milik Kerajaan Sriwijaya yang memiliki armada angkatan laut yang sangat kuat.
"Pasukan Kubilai Khan ini kalah lalu lari ke Kalimantan dan tinggal di tengah hutan belantara, jauh dari pantai," sambung Alex.

Mereka tak ingin menetap di pesisir karena takut diserang pasukan Sriwijaya.

"Dari situlah terbentuk Suku Dayak yang mirip dengan Suku Minahasa. Namun mereka tak bertahan lama sehingga sebagian pindah ke Sulawesi Utara," ujar dia.

Mereka masuk melalui Sindulang atau nama Cina-nya Sintao yang artinya 'Pulau yang baru'. Dalam keadaan yang masih trauma terhadap serangan armada Sriwijaya, mereka masuk ke hutan belantara tepatnya Desa Sawangan.
Desa itu teletak dekat dengan Sungai Tondano, serta subur untuk bercocok tanam. Namun di Minahasa sudah ada juga kehidupan selain mereka.

"Itulah sebab sifat-sifat orang Sawangan berbeda dengan Minahasa lainnya. Misalnya, yang menonjol dulu mereka tak bisa kawin dengan orang luar, seperti budaya Mongolia, karena mereka orang Mongolia," beber dia.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved