Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

RENUNGAN NYEPI: Hutang kepada Alam

PERAYAAN Nyepi Tahun Baru Saka 1938 dimulai Melasti 3 hari sebelum Nyepi yaitu sembahyang di pantai.

Penulis: Alexander_Pattyranie | Editor:
istimewa/rahman rahim
Umat Hindu di Mopuya, Dumoga, Minggu (6/3/2016), menggelar upacara Melasti jelang Hari Nyepi. 

Ida Bagus Ketut Alit
Ketua Parisada Hindu Kota Manado

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - PERAYAAN Nyepi Tahun Baru Saka 1938 dimulai Melasti 3 hari sebelum Nyepi yaitu sembahyang di pantai dengan tujuan untuk melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan atau kekotoran alam, dan mengambil sari-sari kehidupan di tengah-tengah samudera.

Menghilangkan penderitaan masyarakat atau penderitaan sosial yang dimaksud adalah kesenjangan ekonmi, jarak kaya dan miskin terlalu tajam, perbedaan paham dan sebagainya.

Menghilangkan unsur-unsur negatif di dalam diri manusia dan mendorong manusia untuk berprilaku yang baik untuk kepentingan bersama.

Melasti juga untuk menanamkan sikap spiritual untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Kalau kita sudah mampu menghilangkan kesenjangan sosial dengan segala bentuknya, maka barulah kita berhak menikmati hidup ini dengan mengambil sari-sari alam yang lestari.

Sehari sebelum Nyepi dilaksanakan upacara Tawur Agung dengan tujuan untuk membayar hutang kepada alam, karena udah setahun kita menikmatinya.

Kata tawur berarti membayar atau mengembalikan, dan agung berarti besar. Perbuatan mengambil harus diimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan yang tulus dan ikhlas, hal ini perlu selalu dilakukan agar alam tetap seimbang dan lestari.

Inilah yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Baru Saka yang kita kenal dengan Hari Raya Nyepi.

Di samping itu upacara Bhuta Yadna bermakna memarisuda bumi artinya membersihkan bumi atau alam.

Pada saat hari raya Nyepi umat melaksanakan Catur Brata, yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan) selama 24 jam, melainkan kita tinggal di rumah untuk introspeksi diri tentang apa yang telah kita laksanakan setahun lalu dan merencanakan kehidupan setahun yang akan datang.

Sehari setelah Nyepi disebut Ngembak Geni artinya umat telah selesai melaksanakan Catur Brata, yaitu melaksanakan simekrame atau silaturahmi kepada keluarga atau kerabat dan diawali dengan persembahyangan bersama.

Hari Raya Nyepi merupakan hari raya istimewa karena bertepatan dengan gerhana matahari, di dalam Slokan Tara dinyatakan bahwa, jika pada gerhana matahari kita melaksanakan Yadna atau bersedekah, maka dari satu Tuhan akan membalas 100 kali lipat. (alp)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved