Ini Dia Cikal Bakal Munculnya Nama Ragey, Menu Sate 'Jumbo' Khas Minahasa yang Tersohor Itu
Di Sulawesi Utara, makanan ragey sudah sangat dikenal oleh masyarakat, bahkan menjadi makanan khas yang harus ada di setiap acara.
Penulis: Alpen_Martinus | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Di Sulawesi Utara, makanan ragey sudah sangat dikenal oleh masyarakat, bahkan menjadi makanan khas yang harus ada di setiap acara.
Saat ini banyak rumah makan yang menyediakan atau menjadikan ragey sebagai menu utama.
Tapi tahukah Anda siapa dan rumah makan mana yang terlebih dahulu menjajakan dan memopulerkan nama ragey untuk menu sate 'jumbo' daging babi bakar tersebut?
Sekadar informasi, ragey adalah makanan sejenis sate yang berbahan dasar daging babi.
Bedanya dengan sate, ragey bukan hanya daging, tapi juga ada bagian lemak dan kulit dengan campuran jeruk dan garam, kemudian ditusuk seperti sate dan dibakar menggunakan bara api.
Menurut informasi, yang mengenalkan kata ragey untuk masakan tersebut dan menjualnya pertama kali adalah pemilik Rumah Makan Ragey yang terletak di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan, Minahasa.
Jika ke Kawangkoan Anda bisa dengan mudah mendapatkan rumah makan tersebut karena di depannya ada patung tangan yang memegang dua tusuk regey.
Rumah makan itu milik keluarga Adri Lomboan-Tarandung yang mulai membuka usaha sekitar tahun 1987.
"Awalnya saya jual makanan biasa. Sekitar tahun 1987 suami saya bilang, bagaimana kalau buka rumah makan dan menjual sate babi bakar itu (ragey). Lantaran suami saya kan tukan potong babi, akhirnya saya setuju. Akhirnya coba-coba mulai usaha rumah makan, tapi posisinya masih di depan pompa minyak (SPBU) di Kawangkoan, sewa di situ," ujar Meva Tarandung, pemilik Rumah Makan Ragey.
Ia ingat pelanggan pertama rumah makannya adalah para sopir Kawangkoan-Manado. Karena kelezatannya, mulai banyak yang datang ke rumah makan tersebut. "Dari mulut ke mulut saja," kata dia.
Ketika masa sewa di tempat tersebut habis, rumah makan mereka harus pindah.
"Ada tujuh kali kami pindah tempat usaha sampai di tempat sekarang, tapi pindahnya di sekitar sini saja lantaran hanya sewa. Akhirnya kami dapat tempat yang sekarang. Memang awalnya kami sewa juga, akhirnya kami beli dan kembangkan seperti sekarang," jelas dia.
Nama ragey untuk makanan tersebut, menurutnya, diambil dari kebiasaan penyebutan masyarakat Minahasa.
"Biasanya kalau ada yang potong babi, mereka potong beberapa bagian dan bilang rageyen atau dalam bahasa Tountemboan artinya 'bakar akang' (tolong dibakar). Nah, kami ambil dari bagian kata itu yaitu ragey untuk menyebut sate babi bakar tersebut," ujarnya.
Nama ragey tersebut kemudian diambil untuk dijadikan nama untuk rumah makan mereka. Dan nama makanan tersebut pun mulai dikenal dengan nama ragey.
"Kami punya lisensi juga yang keluar tahun 1998 dari Kemenkumham untuk nama ragey ini," jelas dia.
Belakangan mulai bermunculan rumah makan dengan menu makanan ragey tersebut.
"Lantaran sudah banyak rumah makan yang jual ragey juga, makanya sekitar tahun 2002 kami buat patung ragey sebagai identitas dan pelanggan mudah dapat tempat kami," jelasnya.
Sekarang, meski banyak rumah makan yang menyediakan ragey, namun Rumah Makan Ragey tetap diincar oleh penikmat ragey.
"Mereka bilang ragey kami enak sekali. Saya juga tidak tahu, padahal bumbunya biasa, garam dan lemon, ricanya juga biasa terbuat dari campuran bawang merah, rica, tomat, dan garam," ungkapnya.
Rumah makan ragey dengan menu utama ragey tersebut memang sudah tersohor sejak dulu, bahkan sering menjadi tempat makan favorit para pejabat.
"Banyak sekali, baik dari gubernur pernah kemari, bahkan ada yang langganan di sini. Ragey di sini juga sering dibawa ke luar negeri," ujar dia.
Opa Sonny Palit mengatakan, memang dulunya penyebutan nama ragey untuk babi bakar tersebut belum ada. Ketika muncul Rumah Makan Ragey tersebut baru masyarakat menyebut nama makanan itu dengan nama ragey sampai sekarang.
"Kalau kita dulu, semisal ada pesta dan ada orang potong babi, dan kita mau makan daging babi bakar tersebut cuma bilang rageyen artinya 'bakar akang'. Nah, nanti rumah makan ini yang ambil kata ragey dan dipakai sampai sekarang," jelas dia.(Tribun Manado/Alpen Martinus)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/tugu-ragey_20160306_110230.jpg)