Selasa, 5 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Hingga Februari 2016, Tiga Kasus Gizi Buruk Terjadi di Bolmong Utara

"Saya mengajak kepada seluruh masyarakat di Bolaang Mongondow Utara untuk bersama-sama memerangi gizi buruk, agar kedepan tak terjadi lagi."

Tayang:
Penulis: | Editor: Fransiska_Noel

TRIBUNMANADO.CO.ID, BOROKO - Suriansyah Korompot, Wakil Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow Utara mengajak kepada seluruh masyarakat di daerah untuk ikut memerangi gizi buruk.

Sebab, di Bolaang Mongondow Utara dari informasi yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan dr Djusnan Mokoginta terjadi 3 kasus gizi buruk di awal Tahun 2016.

"Saya mengajak kepada seluruh masyarakat di Bolaang Mongondow Utara untuk bersama-sama memerangi gizi buruk, agar kedepan tak terjadi lagi di daerah ini," kata Korompot saat

Pertemuan Sosialisasi Penyelenggaraan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Bagi Petugas Puskesmas se- Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Tahun 2016, di Kantor Dinas Kesehatan, Senin (29/2).

Adanya kasus gizi buruk tersebut menurut Korompot membuat pemerintah prihatin, dan mendorong seluruh jajaran pemerintah di daerah terutama petugas kesehatan untuk mendeteksi serta mencegah adanya kasus serupa.

"Kesehatan masyarakat itu menjadi tanggungjawab pemerintah daerah juga, makanya sejak dini pemerintah selalu mengimbau masyarakat untuk mengembagkan pola hidup bersih dan teratur. Sebab, dari hasil penelusuran terjadinya kasus gizi buruk ini, salah satunya akibat masyarakat hidup tak mau diatur, misalnya ketika sakit meski sudah diinstruksikan untuk memeriksa kesehatan secara gratis, tetap tidak mau karena masih mengandalkan pengobatan secara tradisional," ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dr Djusnan Mokoginta saat menyampaikan laporan pada kegiatan sosialisasi mengaku sangat terpukul dengan adanya temuan tiga kasus buruk di daerahnya, dimana dua diantaranya akhirnya meninggal dunia meski sudah diupayakan penanganannya secara medis.

"Korban gizi buruk akhirnya meninggal akibat adanya penyakit penyerta, dan cairan di kepala yang secara medis memang sangat sulit untuk di tolong," ungkapnya.

Kasus tersebut kata Djusnan memang sulit dideteksi, sebab para korban yang masih tergolong anak-anak, sering berpindah-pindah tempat tinggal bersama orang tuanya.

"Lemahnya ekonomi keluarga dan faktor kesadaran orang tua untuk melapor serta membiasakan diri hidup dalam pola hidup sehat, juga menjadi pemicu adanya kasus gizi buruk ini," sesalnya.

Kendati sudah terjadi kasus, namun Djusnan mengaku pemerintah tidak berputus asa, tapi akan mengoptimalkan peran seluruh jajarannya untuk mendorong masyarakat keluar dari gizi buruk.

"Seluruh jajaran kesehatan di Bolaang Mongondow Utara sudah diinstruksikan untuk tidak berpuas diri dalam melaksanakan tugas, tapi selalu berpacu meningkatkan

kinerja, sehingga dapat mencegah agar gizi buruk tak ada lagi di daerah ini," tukasnya. (Tribun Manado/Warsteff Abisada)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved