"Teror Sampah" Mengancam Kota Manado
Tiap bulan adasekitar 90.000 ton sampah masuk ke TPA
Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Volume sampah di Kota Manado meningkat menjadi 3.000 ton per hari dari kondisi normal 2.700 ton per hari. Jika hal ini terus terjadi maka Kota Nyiur Melambai bisa jadi lautan sampah.
Menyikapi hal ini Pemerintah Kota Melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Manado menambah lahan 4 hektare untuk mencukupi kebutuhan tempat penampungan akhir sampah (TPA).
"Jadi memang dari tahun ke tahun terus terjadi peningkatan sampah, dan tahun 2015 sampai 2016 naik 300 ton. Memang harus disadari dengan meningkatnya pertumbuhan masyarakat lewat kelahiran dan perpindahan masyarakat ke Kota Manado sudah memberikan dampak besar dalam peningkatan sampah," ungkap Julises Oehlers Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Manado.
Menurut dia pertambahan volume sampah tiap tahun merupakan bentuk ancaman bagi masyarakat Kota Manado, karena lahan tempat pembuangan akhir sampah semakin sempit. Oleh karena itu ia sedikit bersyukur dengan kebijakan Wali Kota Manado untuk menambah besar lokasi TPA.
"Jadi kita sudah ketambahan lahan sebesar 4 hektare, cukuplah untuk menampung sampah buangan masyarakat meski tidak bisa diprediksi sampai kapan akan penuh. Jelas semakin banyak sampah maka banyak dampaknya, seperti bau dan gangguan kesehatan lainnya. Kemudian kalau di hitung tiap bulan 90.000 ton sampah masuk ke TPA," jelas Julises, Senin (18/01).
Kadis Kebersihan juga meminta agar masyarakat mengurangi penggunaan bungkusan plastik seperti tas kresek. Sebab salah satu sampah terbesar di kota Manado adalah tas kresek dan botol mineral.
"Kita harus menyadari bahwa sampah jenis ini akan sulit terurai oleh alam. Saat ini kedua jenis sampah tersebut adalah jenis terbesar yang menyumbang dan menambah sesak gundukan- gundukan sampah yang ada di TPA Sumompo," ujar Kadis.
Selain itu, ia juga mengeluh tentang kerusakan kendaraan dan alat pengangkut sampah, yang dinilai menghambat proses pembuangan sampah.
"Sebenarnya kita butuh dana sebesar Rp 1,5 triliun untuk pengelolaan tempat sampah, namun sayang dananya sangat kurang. Bayangkan saja untuk perbaikan satu alat berat seperti traktor di United Tractor kami harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 200 juta, dan ini sudah paling murah,"ungkap Julises.
Bagi dia pengelolaan tempat sampah yang layak selain membutuhkan dana sebesar Rp 1,5 triliun, harus ditopang dengan enam buah alat berat seperti traktor dan eskafator. Hal ini bertujuan mempercepat proses kerja dan menciptakan TPA yang layak bagi kota berkembang.
"Hal ini sudah pernah dirapatkan kemarin di Jakarta bersama Kementerian Lingkungan Hidup, dan ini merupakan kendala terbesar kita dalam pemanfatan dan pengelolaan TPA. Bagi saya ini harus menjadi perhatian khusus Pemerintah Pusat agar Kota Tinutuan ini bersih dari segala sampah ini," ungkapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ring-road-penuh-sampah_20151106_105618.jpg)