Herry Diadang Pola Pikir Petani
Merubah paradigma petani dari cara bercocok tanam dengan menggunakan pupuk pestisida dan bahan kimia.
Penulis: | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Susanto Amisan
TRIBUNMANADO.CO.ID, AIRMADIDI - Merubah paradigma petani dari cara bercocok tanam dengan menggunakan pupuk pestisida dan bahan kimia lain ke cara alamiah dengan pupuk organik dari limbah peternakan memang bukan perkara mudah.
Banyak tenaga penyuluh maupun relawan instansi pemerintah dan swasta mengakui kendala itu dalam kegiatan pendampingannya.
Seperti yang diutarakan Herry Rumimpar, tenaga pendamping teknis pertanian organik dalam Program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Tirta InvestamaAirmadidi (Aqua) di beberapa desa dan kelurahan di Minut.
Katanya, untuk meyakinkan petani sehingga bisa beralih ke pola pertanian yang alamiah, memang bukan perkara mudah "Tantangan yang paling berpengaruh adalah pola hidup masyarakat yang cenderung mau yang praktis atau instan tanpa melihat mana yang bahan makanan yang sehat, mana yang tidak sehat. Mereka lebih memilih langsung membeli di pasar, padahal untuk kebutuhan rempah-rempah bisa bercocok tanam sendiri di pekarangan, yang tentunya hasilnya dijamin sehat," tuturnya.
Selengkapnya baca Tribun Manado Edisi Cetak (26/11)
Tak hanya itu hambatan yang juga dihadapi dalam pengembangan pertanian organik adalah ketersediaan pasar.
"Sebab jika pasarnya tak mampu dijamin, pasti petani enggan mengembangkan pertaniannya, apalagi jika harga tak kompetitif. Untuk pasar, saat ini kami sudah fasilitasi pemasaran dari petani langsung ke pedagang. Hanya saja untuk harga masih sama dengan harga pasar, padahal harusnya produk pertanian organik ini lebih mahal," ujarnya.
Pengakuan yang sama, soal tantangan dan hambatan melaksanakan program tersebut ikut diakui rekannya, Yudi Taroreh, tenaga pendamping pemberdayaan pada program CSR Aqua bagi masyarakat Minut.
Kata dia sikap saling curiga sering kali jadi penyebab tidak solidnya kelompok, yang pada akhirnya pasti akan berimbas pada keberlangsungan program.
"Makanya yang saya lakukan adalah penguatan kelembagaan kelompok tani yang kami dampingi. Tak hentinya kami memberikan dorongan, pada individu yang ada dalam kelompok maupun secara kelembagaan kelompok. Dan yang paling sering saya lakukan adalah menyelesaikan konflik antar anggota kelompok. Jika tak cepat ditangani maka akan menggangu program," tuturnya.