Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Rumondor Cerita Tentang Martin Luther

Puncak ibadah syukur Hari Pria Kaum Bapa (PKB) Gereja Masehi Injil Bolaang Mongondow (GMIBM) dibuat di lapangan Dumagin.

Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO/DAVID MANEWUS
Puncak ibadah syukur Hari Pria Kaum Bapa (PKB) Gereja Masehi Injil Bolaang Mongondow (GMIBM) dibuat di lapangan Dumagin, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sabtu (21/11). 

Laporan wartawan Tribun Manado David Manewus

TRIBUNMANADO.CO.ID, MOLIBAGU - Puncak ibadah syukur Hari Pria Kaum Bapa (PKB) Gereja Masehi Injil Bolaang Mongondow (GMIBM) dibuat di lapangan Dumagin, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sabtu (21/11). Ibadah dipimpin wakil ketua sinode GMIBM Pendeta John Karel Rumondor STh

Berlandaskan pembadari Kitab Zefanya 3:1-8, ia menceritakan bahwa sebenarnya Hari PKB diperingati 31 Oktober. Tanggal itu dipilih karena suatu peristiwa besar yaitu gerakan reformasi yang dipelopori Martin Luther.

"Tanggal 31 Oktober 1517, ada gerakan reformasi. Gerakan dan ajaran Martin Luther melawan doktrin yang salah waktu itu," katanya.

Di tahun 1517, kata Rumondor, menyerukan kembali untuk kembali pada ajaran Alkitab. Itu membawa dampai besar dalam lingkungan Gereja dan kehidupan masyarakat.

"Pemimpin Gereja begitu kuat dan menekan. Gerakan Martin Luther membuat pembaharuan dalam kehidupan Gereja," katanya.

Dikatakannya, sumbangan karya Marthin Luther dalam kehidupan masyarakat membuat kehidupan menjadi lebih baik.
Satu hal yang dilakukan Luther ialah menerjemahkan Alkitab dalam Bahasa Jerman yang dahulu hanya dalam Bahasa Latin.

"Bahasa Latin itu hanya dikuasai dan dimengerti kelompok atas. Lagu-lagu rohani juga dikembangkan Martin Luther," katanya.

Martin Luther juga akhirnya menikah. Sebelumnya pemimpin Gereja saat itu tidak menikah.

"Martin Luther saat itu terpelajar, ia mengenyam pendidikan S3. Ia melakukan yang baik, melakukan apa yang diajarkan Gereja," katanya.

Semakin lama ia berbuat kebaikan, kata Rumondor, Martin merasa ada sesuatu yang tidak mengembirakan. Ada suatu hal yang dilakukan Gereja yang membuatnya gelisah.

"Luther bereaksi terhadap ajaran Gereja yang menyimpang. Keselamatan olehnya akhirnya ialah anugerah Allah (Sola Gratia), dan semua sumber hanya ada dalam Alkitab (Sola scriptura)," katanya.

Rumondor mengatakan Luther sangat mencela otoritas Gereja pada saat itu. Kepemimpinan dan struktur Gereja itu menyimpang dan lari dari Alkitab.

"Bukan hanya di Witternberg, tapi juga akhirnya di Eropa dan Asia, ia telah mengerakkan pembaharuan. Ada upaya pihak tertentu untuk mengagalkan, ia dimusuhi dan dianggap otoritas Gereja sebagai bidaan yang sesat," katanya.

Marthin Luher, katanya saat itu diperintah otoritas Gereja harus dibunuh. Darah Marthin Luther layak ditumpahkan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved