Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Edisi Minggu Smart Woman

Jayanty Areros: Belajar Seumur Hidup

"Jika tidak ingin belajar maka kita akan ketinggalan. Selama bekerja di klinik ini, saya dituntut untuk selalu menguasai bidang."

Penulis: | Editor: Fransiska_Noel
ISTIMEWA
Jayanty Areros SPsi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Belajar seumur hidup atau Learning by doing.

Itulah kesimpulan yang didapat usai berbincang dengan wanita bernama lengkap Jayanty Areros.

Bagi Unit Customer Service Manager, Prodia Manado ini meski sudah bekerja, namun harus ada kemauan untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan keadaan sekarang demi pengembangan diri.

Pada awal membangun karirnya, dia bekerja di Rumah Sakit Teling. Namun pada 2004, dia bergabung dengan Klinik Prodia Manado. Masih dibidang yang sama yaitu kesehatan.

Lulusan Psikologi UKIT ini membangun karirnya sejak usia 18 tahun.

Karena pola lingkungan kerjanya yang menuntut inovasi, sehingga dia pun mem-push dirinya untuk belajar.

"Jika tidak ingin belajar maka kita akan ketinggalan. Selama bekerja di klinik ini, saya dituntut untuk selalu menguasai bidang bahkan menciptakan inovasi," kata wanita yang biasa disapa Anty ini.

Kemauannya untuk terus belajar membuat karirnya terus naik.Jabatan pertamanya sebagai Phlebotomis atau pengambil darah.

Pada 2007 dia diangkat menjadi Branch Customer Service Supervisor, dan pada tahun 2015 dia kembali diangkat menjadi Unit Customer Service Manager.

Selama 11 tahun bekerja, kelahiran Manado 29 Januari 1986 ini memiliki kisah suka-duka yang selalu menjadi bagian dalam perjalanan karirnya.

Dia merasa cukup beruntung, karena lewat pekerjaannya dia bisa mengenal banyak orang termsuk para pejabat dan pimpinan daerah.

"Ada begitu banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda yang saya temui. Termasuk para pejabat bahkan Gubernur dan Wali Kota. Saya merasa terhormat bisa melayani mereka," ujarnya.

Sedangkan duka yang dia rasakan ketika menerima komplain pelanggan. Apalagi terkadang, komplain yang diberikan dengan menggunakan kata-kata yang kasar.

"Jangan sampai terpancing dengan kata-kata kasar yang mereka ucapkan. Karena jika kita juga emosi, maka masalah tidak dapat terselesaikan. Meski kita tidak salah, harus minta maaf duluan, mencari tahu keinginan pasien, lalu mencoba memberikan solusi," kisah putri dari pasangan suami-isteri Boni Areros, dan Mietje Takumansang ini.

Pengalaman dijadikannya sebagai pelajaran kedepan. Dia mengaku terus memperbaharui diri demi memberikan pelayanan terbaik kepada para pasien yang datang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved