Hallowen, Perayaan Yang Telah Banyak Dipelintir
Gereja Kristen Katolik merayakan imannya terhadap persekutuan umat Allah mulai Minggu (1/11) kemarin.
Penulis: | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado David Manewus
TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO - Gereja Kristen Katolik merayakan imannya terhadap persekutuan umat Allah mulai Minggu (1/11) kemarin.
Sebelum memperingati arwah semua orang beriman, arwah mereka yang diyakini berada dalam api pencucian, Gereja merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus, mereka yang telah berbahagia di surga, yang secara indah disebut tak terpisahkan dengan mereka yang berada di dunia.
Karena kebetulan jatuh pada hari Minggu, umat merayakannya dalam misa di hari Minggu. Untuk stasi Fransiskus Xaverius Maumbi paroki Santa Ursula Watutumou, misa dipimpin pastor paroki, Pastor Joseph Ansouw.
Dalam renungannya, ia menceritakan tentang kekuatan roda kendaraan. Ia mengatakan di jaman dahulu, kekuatan ditempatkan di roda belakang sebagai daya dorong.
"Pada kendaraan moderen, mereka menempatkan kekuatan kendaraan pada roda depan. Ada daya tarik ke depan," katanya.
Terlepas dari benar atau tidaknya itu, Pastor Joseph Ansouw, meminta umat merenung ke depan. Mereka diminta merenung kehidupan bersama orang kudus.
"Biasanya, ada tradisi hallowen. Dalam tradisi Gereja sebenarnya menjelang hari orang kudus, ada kebiasaan di daerah tertentu, umat memakai kostum mirip pelindungnya. Misalnya umat yang pelindungnya Santo Yoseph memakai baju Santo Yoseph. Itu pun sesuai dengan klasifikasi hidup mereka mereka seperti biarawan dan martir yang berdarah. Tapi ada yang mempelintirnya jadi lain bahkan cenderung menakutkan orang," katanya.
Sejak awal, kata Pastor Ansow, orang kudus menjaga dan memelihara iman sampai mati. Mereka mengikuti Yesus jalan kebenaran dan hidup.
"Bacaan pertama mengingatkan hidup kita, untuk membangun persaudaraan hidup kita. Kita membangun umat Allah sendiri seperti para kudus," katanya.
Gereja Maumbi, kata pastor Ansouw, warisan iman. Umat harus menjaga persekutuan umat yang telah diwariskan itu.
"Keselamatan bukan hanya persekutuan orang-orang tapi persatuan universal, universe artinya alam semesta. Paulus mengatakan jangan merusak pohon, kita harus menghargai dan menghormati bumi alam ciptaaan seperti yang telah ditunjukkan Santo Fransiskus Asisi dengan memanggil alam sebagai saudara," katanya.
Menurutnya pusat perhatian agar bisa menjadi orang kudus ialah Kristus sendiri pusat hidup kita. Kita harus menempatkan Kristus, jalan kebenaran dan hidup.
"Ia rela menjadi manusia, disembelih menjadi kurban persembahan. Ia menjadi pepulih kita," ujarnya.
Indikator pencapaiannya, kata Pastor Ansouw ialah melakukan seperti yang tertulis dalam Sabda Bahagia yang dibacakan dalam Injil. Dengan berpikir, merasa, mereka disebut berbahagia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ziarah-ke-kevikepan-tomohon_20151025_235440.jpg)