Pantang Menyerah dan Tak Kenal Lelah Demi Selamatkan Hutan Tangkoko
Pantang menyerah, tak kenal lelah, kompak hingga sempat terjadi riak-riak kecil adalah kondisi para relawan pemadaman kebakaran hutan Tangkoko.
Penulis: Christian_Wayongkere | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Christian Wayongkere
TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Pantang menyerah, tak kenal lelah, kompak hingga sempat terjadi riak-riak kecil adalah kondisi para relawan pemadaman kebakaran hutan Cagar Alam Tangkoko untuk menyelamatan satwa.
Beranggotakan personel dari Forum Komunikasi Pencinta Alam (FKPA) Sulut, tim Manggala Agni BKSD, warga dan awak media berjibaku masuk ke dalam hutan setelah sebelumnya melalui medan ekstrim yang landai, berbukit hingga curam hanya.
"Jarak titik api terdekat 11 kilometer dari posko induk ditempuh dengan jalan kaki tidak bisa dengan kendaraan," tutur Komandan Operasi BKSD, Hambali Mokoagow, Minggu (4/10).
Menurutnya, menyangkut satwa yang diselamatkan relawan menemukan satwa jenis ular piton dan tarsius di tengah kobakaran api langsung dievakuasi dengan cara manual karena kondisi mereka dalam keadaan terdesak harus segera diselamatkan.
"Satwa yang berhasil diselamatkan dua ekor ular piton dengan ukuran 4 meter dan 7 meter serta satu ekor tarsius langsung dibawa ke posko karena dalam keadaan lemas. Mereka dipulihkan dua tiga hari kemudian dikembalikan lagi ke habitatnya," terangnya.
Wesli Tamasiro, satu di antara relawan yang terus mengikuti proses pemadaman dan isolasi lahan yang belum terbakar mengutarakan keterlibatan dalam pemadaman dilakukan tanpa ada kepentingan apapun.
"Saya dan teman-teman murni dengan hati yang tulus ikhlas rela menjadi relawan pemadaman hutan Tangkoko yang terbakar untuk kelangsungan dan kelestarian alam," kata Tamasiro.

Kata dia, kalau bukan para relawan bersama tim Manggala Agni serta warga sekitar siapa lagi yang punya kemauan dan keberanian masuk keluar hutan, berjibaku dengan api dan tantangan lainnya. Saat tiba di lokasi kebakaran Tamasiro menceritakan bagaimana suka dukanya, mulai dari harus terjerembat dalam kepulan asap tebal hingga jarak pandang tak normal lagi.
"Mata kami sering perih hingga meneteskan air mata karena asap," tambahnya.
Bukan hanya itu saja yang dialami para relawan, sudah lebih dari satu bulan mereka meninggalkan tugas pekerjaan hingga rumah dan orangtua untuk menolong hutan Tangkoko serta habitatnya. Kulitt hitam kering sudah biasa dirasakan para relawan, meski begitu dibantu para pihak seperti awak media yang menggalang bantuan untuk logistik makanan dan minuman para relawan masih sehat dan kuat hingga saat ini.
"Paling sulit kami melakukan pemadaman menggunakan alat-alat tradisional sepertu garuk-garuk, sekop dan lainnya," tukasnya.
Penjabat Gubernur Sulut, Sonny Sumarsono menilai status bencana tak hanya di Bitung hampir seluruh daerah di Sulut dan Indonesia. "Kami imbau lakukan langkah yang paling realisatis, kalau sudah kebakaran kepala daerah segara tetapkan status tanggap darutat untuk administratif bantuan bisa turun atau dicairankan," tutur Sumarsono.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/macaca-nigra-turun-ke-posko-induk_20151002_114912.jpg)