Bisnis Batu Akik Lesu, Dari Rp 3 Juta Sekarang Rp 300 Ribu
Dengan menjual batu akik, Kevin Dulman berharap bisa mendapat tambahan uang kuliah.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Arthur Rompis
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Dengan menjual batu akik, Kevin Dulman berharap bisa mendapat tambahan uang kuliah.
Kevin yang merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsrat berencana membuat skripsi tentang tingginya minat warga terhadap batu akik.
Namun, kini penjual batu akik di seputaran Taman Kesatuan Bangsa (TKB) ini siap - siap mengganti judul akibat turunnya minat warga terhadap batu akik.
Ya. Pesona batu akik kini tengah memudar. Warga yang dulu gila batu akik kini mulai melupakannya.
Bisnis batu akik pun kembang - kempis.
Hal itu dirasakan Kevin. Kevin yang menjual bongkahan batu akik mengatakan penghasilannya sehari kini berkisar Rp 200 ribu. Turun jauh dari sebelumnya yakni Rp 2 juta perhari. "Pendapatan turun jauh," kata dia.
Kevin mengaku terpaksa menurunkan harga bongkahan batu agar supaya laku. Batu Doko elektrik kini dijualnya Rp 500 ribu dari semula Rp 1 juta per bongkahan. Begitupun batu bacan kembang dari Rp 130 ribu menjadi Rp 50 ribu.
Kevin menengarai, turunnya pendapatan pedagang merupakan akumulasi dari sejumlah faktor.
"Minat warga mulai berkurang sedang pedagang makin banyak," katanya.
Menurut dia, pendapatan pedagang bisa terjaga jika ada standar harga. Sayangnya, tak ada standar harga di kalangan pedagang batu akik di Manado.
"Beda dengan di Jakarta serta kota besar lainnya, ada standar harganya, hingga harga stabil," ujarnya.
Marini pedagang bongkahan batu akik lainnya mengaku terus merugi. Pendapatan tak bisa menutup pengeluaran. "Pulang pokok saja tidak," kata dia.
Pedagang asal Maluku ini menuturkan pendapatannya sehari berkurang jauh dari Rp 3 juta menjadi Rp 300 ribu.
Jika ingin untung, pendapatan perharinya harus berkisar Rp 1 jutaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/batu-akik-rp-1-miliar_20150509_103519.jpg)