Renungan Minggu
Minggu Pentakosta Bawa Keberanian
Di hari Pentakosta saat ini (Perjanjian Baru), Roh Kudus itu datang untuk membaharui kehidupan umat.
Penulis: | Editor:
Oleh Diakon Audi Kaunang
HARI ini adalah Pesta Pentakosta. Pesta ini memiliki tiga arti. Arti pertama: hari Pentakosta sebagai hari Raya Panen, yang mengingatkan bahwa Allah telah memberikan berkat yang berlimpah kepada umat-Nya, sebagai bukti pemeliharaan Allah kepada umat-Nya, di hari itulah umat bersyukur kepada Allah. Arti kedua: hari Pentakosta adalah hari turunnya Taurat kepada umat Allah. Arti ketiga: seperti yang kita ketahui dari bacaan pertama, Pentakosta adalah hari pencurahan atau turunnya Roh Kudus. Sesuai dengan nubuat dalam kitab nabi Yoel 2:28-32.
Arti pertama dan kedua dari Pesta Pentakosta, bisa kita kenal dari kehidupan umat Perjanjian Lama. Jika penulis Kisah Para Rasul mengisahkan peristiwa Pentakosta berkaitan dengan tradisi Perjanjian Lama, dia ingin menunjukkan pembaharuan yang dibawa oleh Roh Kudus dalam kehidupan umat. Sejak dahulu, umat sudah memperingati dan mensyukuri berkat fisik, berupa panenan dan juga berkat rohani (aturan keagamaan), berupa Taurat dari Allah.
Di hari Pentakosta saat ini (Perjanjian Baru), Roh Kudus itu datang untuk membaharui kehidupan umat. Ia datang lewat para murid yang menjadi berani berkata-kata mengenai perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Padahal, sebelumnya para murid berkumpul secara sembunyi-sembunyi. Maka, sangat jelas bagi kita: Roh Kudus menghasilkan keberanian bagi para murid untuk bersaksi mengenai pengalaman mereka.
Di sisi para pendengar, yang berasal dari rupa-rupa daerah dan bahasa, Roh Kudus menjadi pemersatu. Hal ini dengan mudah kita mengerti karena kita membaca bahwa orang-orang dari Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, dan sebagainya, bisa mengerti apa yang dikatakan oleh para murid padahal bahasa mereka berbeda-beda.
Roh Kudus memang selayaknya membawa kesatuan dalam umat beriman, bukannya perpecahan; memang perbedaan pendapat tidak dapat dihindari, tapi pada akhirnya kesatuan sebagai umat Allah harus dijunjung tinggi.
Tak mungkin kita bisa menjadi saksi-saksi kebangkitan dan karya keselamatan Kristus, jika kita tidak bersatu. Yesus sendiri, dalam bacaan Injil telah bersabda kepada para murid untuk bersaksi. Sabda itu bukan hanya berlaku bagi para murid yang mengalami kehadiran Yesus secara fisik. Sabda itu berlaku hingga kini untuk kita sebagai Gereja.
Menjadi saksi Kristus berarti menjadi saksi keindahan dan kebaikan Injil, serta hidup seturut Injil. Jika kemudian orang tertarik untuk mengimani Kristus, tentu syukur kepada Allah. Namun, hal itu bukanlah tujuan utama Gereja.
Artinya, menjadi saksi sudah merupakan keharusan, bahkan dengan sendirinya diusahakan dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi saksi, memang tidak berarti harus selalu dilakukan dengan berkhotbah dan kegiatan pewartaan yang lain.
Dalam praktek kehidupan yang sederhana, menjadi saksi bisa kita artikan sebagai hidup dalam Roh. Dalam bacaan II, Rasul Paulus telah menunjukkan perbedaan hidup dalam roh dan hidup dalam daging. Jika kita hidup dalam roh, dengan sendirinya orang di sekitar kita akan melihat keindahan dan kebaikan Injil lewat diri kita, inilah kesaksian kita. Jika kita hidup dalam daging, maka dengan sendirinya kita tidak menjadi saksi Injil yang hidup. Bukankah percabulan, hawa nafsu, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri, dan sebagainya tidak menunjukkan keindahan Injil.
Semoga novena Roh Kudus yang kita laksakan sesudah Hari Kenaikan Yesus Kristus, membuat kita kembali makin menyadari peran Roh Kudus dalam kehidupan kita. Ingatlah, Roh Kudus itu tidak bisa lagi kita lihat lewat nyala api di atas kepala kita tapi dalam perannya dalam hidup kita.
Bukalah hati dan hidup saudara sekalian, supaya peran Roh Kudus lebih besar lagi. Dengan itu, pilihan serta perilaku hidup saudara semakin menjadi kesaksian bagi sesama.
Pesan Hari Minggu Pentakosta ini, kiranya makin sejalan dengan Pesan Minggu Komunikasi Sosial yang lalu. Gunakanlah pribadi Anda untuk mengkomunikasikan / bersaksi tentang kebaikan Allah lewat peran Roh Kudus. Berpartisipasilah juga secara pribadi atau keluarga pada media-media agar media-media itu bisa menjadi sarana pewartaan. Dengan demikian, suka cita Injil sungguh terpancar lewat cinta sesama dan cinta semesta. (tribunmanado/david manewus)
Ikuti berita-berita terbaru di tribunmanado.co.id yang senantiasa menyajikan secara lengkap berita-berita nasional, olah raga maupun berita-berita Manado terkini.