Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Renungan Minggu

Antara Kekeuasaan dan Pelayaanan

Kerja pelayanan yang mendatangkan keselamatan, yang ditandai dengan dibangkitkannya Lazarus justru dianggap ancaman.

Penulis: | Editor:
ilustrasi 

Oleh: Pendeta Nico Gara

Yohanes 12:9-19

PEMBACAAN alkitab dalam Yohanes 12:9-19 membuat saya berkesimpulan bahwa inilah kisah tentang dua karakter kepemimpinan. Kedua karakter itu adalah kepemimpinan yang beroreintasi pada kekuasaan dan kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan.

Kepemimpinan yang berorientasi pada kekuasaan tergambar jelas dalam peran para orang Farisi dan imam-imam kepala (baca ayat 10, 19). Sedangkan kepemimpinan yang berorientasi pelayanan dapat dikenali dalam diri Yesus.

Karena berorientasi pada kekuasaan, maka kerja pelayanan yang mendatangkan keselamatan, yang ditandai dengan dibangkitkannya Lazarus justru dianggap ancaman. Maka tidaklah mengherankan kalau para imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga (baca ayat 10), selain berencana untuk menangkap dan membunuh Yesus.

Popularitas diri serta genggaman kekuasaan, itulah yang diutamakan. Kekuasaan dikejar dan digenggam demi kekuasaan itu sendiri. Kebenaranpun hendak diredam bahkan dihapuskan. Dalam kondisi organisasi, agama maupun sekuler, yang berorientasi pada kekuasaan seperti ini, maka berlaku semboyan: “segenggam kekuasaan bisa mengalahkan setumpuk kebenaran.” Menutupi atau bahkan memutar-balikkan kebenaran dihalalkan demi kekuasaan.

Pada kutub yang lain, bacaan Injil Yohanes ini menggambarkan kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan, dalam diri dan pelayanan Yesus. KaryaNya demikian besar (membangkitkan Lazarus) yang dengan sendirinya mengangkat popularitasnya di mata rakyat, seperti terlukis dalam ayat 12-13.

Ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!"

Hosana dalam bahasa Ibrani datanglah membantu. Mazmur 118:25 merupakan sebuah permintaan untuk sebuah bantuan yang tetap.

Situasi ini jelas menjadi pertanda bahwa Yesus telah dipandang sebagai pemimpin oleh rakyat. Tetapi Yesus merespons dengan mengendarai keledai muda, yang merupakan simbol kerendahan hati, tetapi juga simbol untuk melukiskan ciri khas perdamaian.

Yesus yang kehidupan dan pelayanannya berorientasi pada keselamatan orang banyak, dijalaninya dengan rendah hati, dengan semangat perdamaian, jauh dari niat dan rencana melakukan kekerasan.

Risikonya adalah penderitaan dan bahkan kematian yang menimpa diriNya. Dia tidak mau mengorbankan orang lain, demi perjuanganNya yang suci itu.

Bagaimana dengan orientasi kepemipinan dan perjuangan kita? Kekuasaan atau pelayanan? Sejarah membuktikan bahwa kepemimpinan dan perjuangan yang berorientasi pada kekuasaan pada akhirnya bermuara pada konflik dan bahkan peperangan. Sekarang ini kita banyak mendengar orang berjuang “demi kepentingan rakyat”.

Mari kita introspeksi: apakah benar kepentingan rakyat, atau kepentingan kekuasaan? Sebagaimana keselamatan yang dikerjakan Allah melalui Yesus Kristus ditempuh dengan jalan pengorbanan (bukan mengorbankan rakyat), maka saya berani mengatakan bahwa bangsa ini hanya dapat dibangun dengan gaya atau karakter kepemimpinan ang berorientasi pada pelayanan. Hai kamu semua yang berseru-seru berjuang demi kepentingan rakyat: LAYANILAH RAKYAT!! (*)

Ikuti berita-berita terbaru di tribunmanado.co.id yang senantiasa menyajikan secara lengkap berita-berita nasional, olah raga maupun berita-berita Manado terkini.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved