Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Renungan Minggu

Jangan Merasa Sendiri, Karena Kristus Selalu Setia!

Musuh yang paling ditakuti manusia bukanlah maut atau kematian tetapi kebanyakan rasa kesepian, keterasingan, dan kesendirian.

Penulis: | Editor: Fransiska_Noel
NET
Ilustrasi 

Pdt Silvana LM Kaunang-Tuwaidan STh
Ketua BPMJ GMIM Petra Ranomuut

(Matius 27:45-50)

TRIBUNMANADO.CO.ID - Musuh yang paling ditakuti manusia bukanlah maut atau kematian tetapi kebanyakan rasa kesepian, keterasingan, dan kesendirian seringkali menjadikan seseorang merasa tidak tenang bahkan depresi.

Terbukti bahwa orang yang mengalami sakit parah yang berhadapan langsung dengan kematian biasanya akan lebih tenang bila ia dikelilingi oleh sanak keluarga yang menyatakan kebersamaan dan kasih mereka kepadanya.

Sebaliknya ada orang yang nekat bunuh diri oleh karena kesepian dan merasa sudah tidak ada lagi yang mempedulikan, tidak ada yang mengasihi, serta tidak ada yang menolong.

Sebagai orang beriman seharusnya kita tidak takut menghadapi kematian walaupun sendirian, bukan karena kita hebat tetapi karena kita yakin yaitu sahabat kita setia menunggu di seberang kehidupan ini.

Orang yang benar-benar beriman juga tidak akan bunuh diri dalam bentuk apapun. Sebab walaupun sobat dan kenalan meninggalkan dia, tetapi dia mengimani bahwa Kristus akan tetap setia mendampinginya.

Yesus Kristus telah melewati maut yang begitu ngeri. Dia telah merasakan kesengsaraan yang terdalam, bahkan kesepian yang mematikan ketika di atas salib saat dia menghembuskan napasnya yang terakhir. Maut membuat kita terasing dari Allah yang adalah sumber kehidupan.

Ketika Kristus menghadapi maut, Dia merasa ditinggalkan oleh sanak kelurga, sahabat, dan murid-Nya termasuk Bapa-Nya yang disurga.

Inilah kesengsaraan yang terdalam bagi-Nya yang menyebabkan Dia berseru: "Eloi-eloi lama sabatani?" Yang berarti "Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku?".

Kristus telah melewati semua ini agar Dia dapat menjadi sahabat kita baik dalam kesukacitaan, dalam kesukaran dalam penderitaan, kesengsaraan, dan juga dalam kematian.

Meskipun kita telah melewati masa Paskah, namun jangan pernah kita lupa untuk menghayati serta memaknai kesengsaraan dan penderitaan Kristus yang merupakan kemenangan-Nya atas kematian itu sendiri oleh karena Dia bangkit dan menggenapi apa yang difirmankan oleh Allah.

Bagaimana respons kita terhadap pengorbanan-Nya untuk memberikan kita keselamatan yang seringkali kita rayakan sebagai Paskah?

Selagi napas di kandung badan, jangan kita sia-siakan kepercayaan Tuhan. Mari berkarya bagi dunia ini, mari kita berupaya hidup berkenan kepada-Nya dan menjadi saksi Kristus dimanapun kita berada walau kita diperhadapkan dengan tantangan. Jangan pernah kita sia-siakan anugrah keselamatan Kristus.

Amanat agung Tuhan sesudah dia bangkit berkata dalam Matius 28: 19-20 bahwa 'Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman'. Amin. (Tribun Manado/Fionalois Watania)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved