Breaking News
Jumat, 17 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kain Putih Dipasang di Empat Rumah ABG Korban Lakalantas di Lobong

Kain putih diikatkan pada bagian tengah daun kelapa yang dibuat melengkung membentuk satu gapura kecil.

Penulis: Handhika Dawangi | Editor:

Laporan wartawan Tribun Manado Handhika Dawangi

TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU -  Kain putih diikatkan pada bagian tengah daun kelapa yang dibuat melengkung membentuk satu gapura kecil. 

Itulah yang tampak di depan empat rumah desa Lobong Kecamatan Passi Barat. Rumah tersebut merupakan rumah duka korban meninggal tabrakan maut Minggu (5/4) Dini hari.

Hari itu keempat korban langsung dikebumikan. Secara bergantian, ada yang pukul 09.00 Wita, ada juga yang pukul 12.00 Wita.
Tak ada satupun orangtua yang mengetahui persis bagaimana kronologi kecelakaan lalu lintas yang membuat anak mereka meninggal dunia.

"Saya tak tahu bagaimana kejadiannya. Yang saya tahu anak saya pergi ke satu acara malam itu," ujar Erna Mokodompit (35) ibu
Reki Potabuga.

Lanjut Erna anak pertama dari dua bersaudara tersebut sudah tak bersekolah lagi ia saat ini bekerja di Satu Depot Air di Kotamobagu.

"Sebelum kejadian yakni kemarin dulu memang saya gelisah. Selain itu selama satu minggu terakhir ini Reki selalu memeluk saya. Saya menjadi heran, karena tak biasanya. Memang ia tak sempat pamitan malam itu. Namun saya sempat mendengar percakapan ia dan temannya di Ruang tamu, katanya akan pergi ke acara," ujarnya.

Ia menambahkan anaknya sudah dikuburkan hari itu juga. "Sekitar Pukul 09.00 Wita, ia dikubur," ujarnya.

Hal senada dikatakan ibu Rifalton Tungkagi (16), yakni belum tahu jelas kejadiannya seperti apa.

"Tadi malam saya bersama dengannya dari acara di Lembah Bening, kemudian ia menurunkan saya didepan rumah saya. Setelah meninggalkan motor, ia pun pamit pergi, katanya mau ke Rumah temannya sebentar. Waktu itu sekitar Pukul 22.30 Wita. Setelah itu sekitar Pukul 01.00 kami mendengar kabar, dan langsung ke rumah sakit, Datoe Binangkang," ungkap Asmi Mamonto (Kelahiran 1972).

Lanjut Asmi, sebelum hari kejadian ia pun merasakan sesuatu yang tak biasanya. "Akhir-akhir ini dia sudah sangat membantu keluarga, sudah mau disuruh, bahkan tanpa disuruh ia yang bertanya apa yang akan dilakukan," ujarnya.

Ditambahkan Asmi, Rifalton adalah siswa Kelas Dua SMK Cokroaminoto, sementara PSG di Bengkel Latando.

Sementara itu keluarga Beni Mamonto (17) juga mengakui hal yang sama, tidak mengetahui kejadiannya. Ayahnya Beni yaitu Jen Mamonto (37) mengaku merasa sangat kehilangan hal tersebut sama dirasakan orangtua lainnya. Namun berbeda dengan yang dirasakannya, karena ia telah kehilangan anak satu-satunya.

"Dia itu anak satu-satunya, ia siswa kelas satu di SMK Cokroaminoto. Ia tidak sempat pamit, karena saya dan istri sedang bekerja waktu itu. Saya karywan di Toko Abdi, istri saya karyawan di Toko Dragon. Kami tiba Pukul 22.30 Wita, anak saya tak ada dirumah," ujarnya.

Lanjut dikatakannya, sesampainya dirumah ia langsung mencari keberadaan anak satu-satunya itu.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved