Hongkong tak Punya SDA Tapi Maju
Ketika mendengar kata Hongkong, pasti yang sepintas tersirat dalam pikiran kita adalah gedung-gedung menjulang tinggi ke langit .
Penulis: | Editor:
Laporan Jurnalis Tribun Manado Pengasihan Susanto Amisan
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Ketika mendengar kata Hongkong, pasti yang sepintas tersirat dalam pikiran kita adalah gedung-gedung menjulang tinggi ke langit dengan lampunya yang gemerlap di malam hari, bekas jajahan Inggris, juga pelabuhannya yang ramai oleh aktivitas bongkar muat barang dari penjuru dunia serta tawuran antar geng dan kemajuan pembangunannya yang cukup pesat.
Menariknya walaupun tak memiliki cadangan sumberdaya alam yang memadai baik migas maupun non migas seperti Indonesia, kota ini jauh lebih maju dan menjadi Satu diantara pusat perdagangan dan investasi dunia. Demikian penjelasan Toni Lim, pemandu wisata yang mendampingi rombongan Study Trip Pemerintah Provinsi Sulut bersama Wartawan, yang akan meninjau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Shenzhen, Tiongkhok.
Kemajuan itu yang oleh pemerintah Tiongkhok diberi kekhususan dengan Dua sistem sekaligus, yakni sistemnya Tiongkhok serta Inggris itu ternyata menurut Toni bukan karena sumber daya alam seperti beberapa kota lainnya di dunia, melainkan sektor perdagangan, infestasi dan pariwisata. “Kalian bisa lihat sendiri kondisi daerah ini yang berbukit dan tandus, tentu tak ada yang bisa diandalkan,” ujarnya dengan dialek Indonesia.
Tiga sektor tersebut kata Toni mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat, baik infrastrukturnya maupun regulasi terkait. “Misalnya untuk sektor pariwisata, banyak tempat di Hongkong dikelola jadi destinasi wisata dan didukung oleh fasilitas pendukungnya, demikian juga dengan sektor perdagangan dan investasi. Namun yang terpenting disini adalah peraturannya yang benar-benar ditegakan dan tak neko-neko,” tuturnya.
Penegakan hukum berjalan sesuai harapan, dimana hukumnya sebagian menggunakan sistemnya Inggris, sebagiannya lagi Cina atau Tiongkhok. Kedua sistem itu saling melengkapi sehingga masyarakatnya pun jadi taat hukum. “Meski sudah dikembalikan ke Cina, masih ada peraturan buatan Inggris yang dipergunakan. Yang terpenting adalah aparatnya yang tegas dan tak gampang disuap,” tegasnya.
Dia menjelaskan bahwa dahuli di Hongkong ada kawasan industri, namun semenjak tahun 1995 hingga 2000 dipindahkan ke China daratan, tepatnya di kota Shenzhen, provinsi Guangdong. "Industri di Hongkong pada tahun 1970 hingga 1980 an berkembang pesat. Banyak hadir perusahaan yang buat radio, tape, tv dan lain-lain. tapi sekarang tidak lagi, makanya kawasan industri itu kini mulai dibongkar dan dijadikan kawasan apartemen," katanya.
Soal tawuran antar gengster yang sering disaksikan di layar televisi, diakuinya dahulu perna ada, tapi semenjak tahun 2000 an, peristiwa semacam itu mulai hilang dan yang tersisa tinggal geng-geng yang menjual narkotika. “Kalao gengster itu tahun 80 an sampe 90 an. Sekarang tinggal geng-geng yang menjual narkoba. Tapi mereka tidak ganggu orang biasa seperti kita, hanya sema gengster. Jadi tak perlu kuatir,” pesannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ilustrasi-ikon-hongkong.jpg)