Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Dokter Denny RS Siloam Manado: Saya Pernah Hadapi Pasien Mabuk

Dengan sabar dia mendengarkan keluhan pasien serta segera mengambil tidakan medis yang diperlukan.

Penulis: | Editor:

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Suasana UGD Siloam Hospital Manado tampak ramai. Siang itu, satu per satu pasien yang masuk diperiksa oleh dr. Jorgen Pamantung yang adalah Kepala UGD atau Department Head Emergency Rumah Sakit Siloam Manado.

Dengan sabar dia mendengarkan keluhan pasien serta segera mengambil tidakan medis yang diperlukan sesuai dengan gejala yang diderita pasien dibantu oleh para suster.

Menurut dokter yang berkulit putih ini, ketika bertugas di ruang emergency memang menguras tenaga dan pikiran. "Kita menghadapi pasien yang cukup banyak dengan penyakit yang berbeda serta karakter yang berbeda pula," katanya kepada Tribun Manado, Sabtu (28/2) saat ditemui disela-sela rehat setelah merawat pasien.

Meski demikian dia mengaku tidak pernah mengeluh akan tugas tanggung jawabnya selama berada diruang UGD. "Sudah tugas saya sebagai dokter untuk menolong orang. Dari awal kita harus berkomitment untuk berusaha semaksimal mungkin membantu pasien," ujarnya.

Seringkali memang ada sikap pasien atau keluarga pasien yang membuat ia tertekan saat bekerja. Bahkan selalu menuntut perubahan secepatnya. Namun dia hanya bisa bersabar sembari memberikan penjelasan yang mudah dimengerti.

Hal yang sama juga pernah dirasakan oleh dr Denny Ngantung SpS. Dokter yang juga bekerja di Rumah Sakit Siloam Manado bahkan mengaku pernah menghadapi perselisihan antara dua kubu/keluarga pasien yang cedera akibat saling pukul.

Diceritakannya waktu itu ada perkelahian yang berujung saling tikam antara dua orang di daerah tambang Tatelu. Korban yang meninggal dan kritis dibawa ke rumah sakit yang sama. Situasi tak terduga ada teman korban yang meninggal menyusup di ruang steril atau ruang pemulihan pasien yang berhasil diselamatkan. Pada waktu itu pasien sudah sadar dan berteriak memanggil perawat. Penyusup tersebut langsung diamankan oleh petugas keamanan rumah sakit. Namun keributan antar dua kubu pasien tidak terhindarkan. Bahkan sempat terjadi kejar-kejaran dengan menggunakan senjata tajam antar dua kubu di rumah sakit.

"Beruntung polisi langsung datang dilokasi sehingga situasi masih bisa dikendalikan," katanya.

Lanjut Denny penanganan terhadap pasien yang mabuk juga cukup sulit. "Dibutuhkan kesabaran yang tinggi jika menangani pasien yang cedera kepala namun dalam kondisi yang mabuk," katanya.

Hal ini diperparah ketika pasien terus memberontak. "Cederanya mungkin tidak terlalu parah. Tapi karena mabuk kesadaran menurun. Padahal sudah luka. Ketika hendak dibersihkan dan merasa sakit, dia menolak mendapatkan tindakan medis dari kami. Lebih-lebih lagi jika yang mengantar pasien juga berada dalam kondisi yang mabuk," ujarnya.

Cacian bahkan teriakan sering menghiasi penanganan medis pada pasien yang mabuk. Jika berada dalam kondisi yang tertekan, dan sudah tidak tertahankan lagi, maka dia meminta waktu sejenak dan meminta digantikan oleh dokter yang lain. "Kalau sudah tertekan saya minta teman dokter yang tangani. Begitulah cara kerja tim. Jika berada dalam keadaan bahaya seperti yang saya ceritakan tadi, maka kami langsung bekerja sama dengan tim pengamanan. Mereka ada link langsung dengan kepolisian," tuturnya.

Namun dari semua kenangan tersebut, lulusan spesialis UI pada tahun 2008 ini mendapatkan banyak pelajaran yang berharga. "Saya belajar untuk memahami berbagai karakter pasien dan keluarga pasien serta belajar untuk sabar serta gesit dalam menangani pasien," tutupnya mengakhiri pembicaraan. (tribunmanado/fionalois watania)

Ikuti berita-berita terbaru di tribunmanado.co.id yang senantiasa menyajikan secara lengkap berita-berita nasional, olah raga maupun berita-berita Manado terkini.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved