Sabtu, 2 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Eh Ternyata Minahasa Pernah Ada Pabrik Rokok

Kini bangunan tersebut sudah berpindah tangan, dan terlihat sudah direhab, dan menurut informasi akan digunakan juga sebagai gudang rokok.

Tayang:
Penulis: Alpen_Martinus | Editor:

TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Mungkin bagi sebagian orang berpikir bahwa pabrik rokok itu hanya ada dan berkembang di Pulau Jawa. Namun siapa sangka, jika di Minahasa juga pernah ada pabrik rokok terbesar mungkin se Asia Timur.

Ya, pabrik rokok yang pernah ada tersebut terletak di desa Kiawa II kecamatan Kawangkoan, yang berdiri pada tahun 1992.

"Pabrik rokok tersebut didirikan oleh 11 KUD yang membentuk satu wadah bernama Koperasi Industri Rakyat Mandala, dan bapak angkatnya adalah Tommy Soeharto dan PT Bantul," jelas Dance Tumober mantan karyawan pabrik rokok tersebut. Menurutnya pabrik rokok tersebut didirikan untuk mengatasi persoalan harga cengkeh pada saat itu.

Awal beroperasinya pabrik rokok tersebut, hanya merekrut 11 orang untuk dilatih di Bantul."Kami sebelas orang dikirim untuk belajar di pabrik Bantul, ada yang belajar pemasaran, produksi, dan keuangan, sebab pabrik ini kerjasama dengan Bantul," jelas dia.

Pertama berproduksi, pabrik tersebut mengeluarkan dua produk yaitu rokok sigaret kretek tangan Tapos (kretek), dan sigaret kretek mesin Trikora (filter), kemudian mucul Tapos Elit (filter), dan Patriot.

"Untuk pencampuran dengan sous, itu dilakukan di Bantul, tapi untuk percetakan di sini, selain itu, bahan-bahan untuk cengkih dari Minahasa, sementara untuk tembakau dan bahan lainnya, tetap dari Jawa," ujarnya.

Pada puncaknya sekitar tahun 1996, pabrik tersebut mampu menghasilkan 4800 batang per minggu."Sempat produksi sampai 3,5 juta batang per tahun, dan memang rokok tersebut populer pada saat itu," kata dia.

Namun kesuksesan tersebut tidak bertahan lama, pada tahun 1998, bantul melepaskan perusahaan tersebut."Setelah itu mulai menurun produksinya, soalnya rasanya sudah berbeda, sebab kami tidak diajarkan cara membuat sous tersebut," ujarnya.

Selepas dengan Bantul, perusahaan mencoba untuk bekerjasama dengan PT Mandala Patriot Nusantara, namun tak berhasil menaikkan rating perusahaan tersebut, hingga mulai redup pada tahun 2003."Tahun 2005 perusahaan tutup, maski banyak yang coba bertahan," jelasnya. Semua mesin dan alat pencetak rokok dibawa kembali ke Jawa.

Kini bangunan tersebut sudah berpindah tangan, dan terlihat sudah direhab, dan menurut informasi akan digunakan juga sebagai gudang rokok oleh satu perusahaan rokok, dan penampungan cengkih."Katanya seperti itu, namun tembusan suratnya belum masuk kepada kami," jelas Jemmy Suak Hukum Tua Kiawa II.

Namun, meski sudah direhab, peninggalan pabrik rokok tersebut masih ada, berupa prasasti pabrik rokok yang ditandangi Presiden Soeharto tertanggal 24 Desember 1992, tepat di depan pabrik. (tribunmanado/alpen martinus)

Ikuti berita-berita terbaru di tribunmanado.co.id yang senantiasa menyajikan secara lengkap berita-berita nasional, olah raga maupun berita-berita Manado terkini.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved