Dulu Saya Pemabuk, Penjudi! Kini Tidak Lagi
Sang Pdt mengawali khotbahnya dengan mengundang para anggotanya sudah dipersiapkan sebelumnya untuk maju dan memberi kesaksian tentang perubahan diri.
Penulis: Maickel Karundeng | Editor:
Renungan Natal oleh Pdt S Tjahjadi
Lukas 2:25-32
SAUDARA-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, tanpa terasa waktu berjalan dengan cepatnya. Hitungan hari lagi umat Kristen di seluruh dunia akan merayakan menyambut Natal Yesus Kristus.
Ada kisah tentang sebuah kebaktian Natal dengan khotbah Natal yang unik namun menggugah hati banyak orang. Unik oleh karena khotbah ini singkat dan tanpa mengeluarkan banyak suara; yang lebih banyak berperan dalam khotbah bukan Pdt tetapi anggota jemaatnya. Lha bagaimana ceritanya? Sang Pdt mengawali khotbahnya dengan mengundang para anggotanya sudah dipersiapkan sebelumnya untuk maju dan memberi kesaksian tentang perubahan yang terjadi dalam hidupnya:
Dulu saya adalah seorang pemabuk dan penjudi tapi sekarang sudah tidak lagi. Dulu saya penakut dan terlalu kuatir tetapi sekarang saya lebih berserah. Saya dulu bersikap kasar terhadap istri dan anak-anak tetapi sekarang saya memperlakukan mereka dengan baik. Dulu saya orang yang cepat marah dan tidak sabaran tetapi sekarang saya lebih bisa menahan diri. Dulu saya tidak peduli pada orang lain tetapi sekarang saya lebih membuka mata dan peka bagi kebutuhan orang lain. Saya dulu suka gosip dan membicarakan kejelekan orang lain.
Tetapi sekarang saya lebih berhati-hati dalam berbicara. Dulu saya sulit sekali untuk bisa mengampuni orang yang menyakiti hati saya. Puji Tuhan sekarang sudah bisa mengampuni. Dan seterusnya. Khotbah Natal ini diakhiri dengan perkataan sang pendeta, ”Untuk perubahan-perubahan seperti itulah Tuhan Yesus datang ke dalam dunia.” Wow, tentu kita semua rindu agar perubahan itu juga terjadi di dalam kehidupan kita masing-masing
Saudara-saudaraku, Tuhan Yesus datang ke dalam dunia untuk merintis dan memulai kehidupan yang baru. Kehidupan baru yang ditandai dengan adanya suatu perubahan, suatu tranformasi yang jelas terlihat dan dirasakan. Perubahan yang dimaksud di sini, adalah suatu perubahan yang menyeluruh yakni menyangkut perubahan sikap, hati dan pikiran kita.
Perubahan atau transformasi seperti ini juga yang seharusnya tampak dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus. Ada dampak perubahan positif sejak kita mengenal dan mengikut Tuhan Yesus. Dari manusia lama menjadi manusia baru dalam Kristus. Dari hamba dosa menjadi hamba kepada Allah. Dari hidup di dalam kegelapan menjadi hidup sebagai anak-anak Terang. Perubahan ini hanya bisa terjadi sebagai dampak dari perjumpa-an pribadi dengan Kristus.
Menjadi pengikut Kristus tidak cukup hanya dibaptis dan menjadi anggota gereja. Tetapi kita juga harus mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus. Perjumpaan dengan Kristus itu yang akan mengubah cara pandang dan hidup kita. Orientasi hidup kita berubah dari berfokus pada diri sendiri menjadi berfokus pada Kristus. Perubahan dan hidup yang senantiasa terfokus kepada Kristus ini terpancar keluar dari dalam diri kita secara konsisten. Bukan hanya pd saat mau dibaptis atau ketika menyambut hari Natal saja.
Simeon tokoh dalam perikop kita, memberi contoh dan teladan, bagaimana seharusnya kita menantikan dan hidup berfokus pada Kristus. Dalam ayat 25, dikatakan Simeon adalah orang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya. Ia adalah orang yang tahu bagaimana menantikan kedatangan Sang Mesias. Simeon tahu apa yang harus ia cari dan nantikan dalam hidup ini.
Ia tahu apa yang harus menjadi prioritas dalam hidupnya! Walaupun, ia harus menanti sampai masa-masa akhir hidupnya. Pencarian dan penantian Simeon ternyata tidak sia-sia. Akhirnya, ia dapat berjumpa dengan Mesias yang selama ini ia nantikan. Mesias yang ia yakini dapat membawa keselamatan dan terang tidak saja bagi hidupnya tetapi juga bagi segala bangsa. Yang unik dari kisah Simeon adalah saat yang penuh mujizat baginya justru terjadi 8 hari setelah kelahiran Tuhan Yesus. Ketika Yusuf dan Maria membawa bayi Yesus ke Bait Suci. Hari itu adalah hari persembahan korban bakaran, dan hari sunatan. Akan tetapi bagi Simeon, hari itu adalah hari yg penuh sukacita karena ia berjumpa dengan Mesias.
Yang menjadi fokus natal, bukanlah pada perayaan atau acaranya, bukan pada kado atau makanannya tetapi pada Yesus yang hari kelahirannya kita rayakan. Saya pernah diundang seorang anggota merayakan ulang tahun anaknya yang ke-4. Perayaannya dilakukan di sebuah restauran. Waktu kami datang sudah banyak orang yang datang. Waktu kami tanya, mana anaknya yang ulang tahun? Ternyata anaknya ada di luar ruangan sedang main sama pembantunya. Lucu, orang-orang merayakan ulang tahun tapi justru yang ulang tahunnya ada di luar.
Demikian juga kalau kita merayakan natal tanpa Yesus di dlm hati kita, maka natal hanya sekedar perayaan atau pesta biasa yg tidak berdampak di dalam persoalan hidup manusia. Tidak aneh jika setelah perayaan natal selesai kehidupan iman kita menjadi hambar dan tawar kembali.
Kesederhanaan, Natal pertama dirayakan dengan sangat sederhana. Tempat kelahiran Bayi Yesus yang sederhana, yakni sebuah palungan kecil dlm kandang domba. Perayaannya juga sederhana hanya dihadiri oleh Yusuf, Maria, para gembala dan orang-orang Majus. Sungguh jauh berbeda dengan perayaan-perayaan natal pada masa kini, yang biasanya dirayakan dengan megahnya dan mengeluarkan banyak dana.
Kerendahan hati, dibutuhkan kerendahan hati untuk dapat melihat dan berjumpa dengan bayi Yesus. Kita lihat, bagaimana Yusuf dan Maria, para gembala dan orang majus, dengan penuh kerendahan hati meninggalkan “tempat nyaman” (comfort zone) mereka masing-masing, untuk dipakai Allah merayakan natal pertama.