Cap Tikus Itu Ibarat Pisau! Tergantung Pemakainya, Anda Setuju?
Katanya, Cap Tikus itu ibarat pisau, Tergantung pemakainya. Apakah anda setuju?
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO.CO.ID - Para petani Cap Tikus Desa Wangkay, Kabupaten Mitra, mengecam tindakan segelintir orang yang mencampur cap tikus dengan bahan berbahaya demi menangguk untung sebesar-besarnya. Mereka mengutuk keras tindakan itu.
Menurut mereka, aksi "gampangan" itu telah memberi stigma buruk bagi produk mereka.
"Biadab" umpat Tonny, Petani Desa setempat mengomentari aksi pengoplosan Cap Tikus yang lagi marak.
Tonny menyebut pengoplosan adalah aksi gampangan karena tak mudah membuat Cap Tikus.
"Aksi mereka itu ibarat "makang tulang", atau aksi ambil untung di atas penderitaan Petani Cap Tikus," kata dia.
Dibebernya, pengolahan Cap Tikus dimulai dari mengetuk pohon aren untuk beroleh air nira. Tak semudah kedengarannya, proses mengetuk butuh teknik serta kesabaran.
"Jika ketukan tak pas, maka air nira akan terasa asam, itu tak cocok untuk Cap Tikus," ujarnya.
Proses selanjutnya adalah memasak air nira yang berlangsung selama dua jam. "Kita harus aduk hati - hati, adonan harus terus ditunggui," kata dia.
Uap hasil pembakaran disalurkan melalui bambu. Uap yang mengembun itu yang akan menjadi Cap Tikus. Proses ini pun cukup rumit. "Untuk itu harus cermat meletakkan bambu," kata dia.
Ketegangan berpuncak saat ia mencicipi adonan Cap Tikus untuk memastikan kelayakannya. Ia akan berseru kegirangan jika Cap Tikus terasa manis serta hangat di dada.
Sebaliknya, akan menggerutu bila rasa Cap Tikus asam serta langsung hangat di mulut. Ditegaskannya, Cap Tikus buatan warga murni tanpa pengawet.
Meminumnya dalam takaran tertentu akan menyehatkan. "Jika berlebih tentu akan bikin sakit," ujarnya.
Ia menyebut warga yang mencampur cap tikus dengan minuman lain adalah penakut. "Mereka ingin menghindar dari rasa pahit," ujarnya.
Ia menolak anggapan Cap Tikus sebagai penyebab kejahatan. Diibaratkannya, cap tikus sama dengan pisau. "Pisau bisa digunakan membunuh atau mengupas bawang, tergantung siapa pemakainya," kata dia.
Penelusuran Tribun Manado, Cap Tikus sering dicampur dengan susu, minuman energi, coca cola, hingga obat generik. Campuran dengan minuman berenergi paling diminati. Peminatnya luas, mulai dari, siswa, anak muda hingga orang dewasa.
Tembi, warga Ratahan mengaku meminatinya karena bisa meningkatkan gairah seksual. "Rasanya hebat," kata dia.
Perkawinan Cap Tikus dengan minuman lain menghasilkan sejumlah istilah. Cako misalnya adalah istilah lawas untuk campuran Cap Tikus dengan Coca Cola.
Istilah terbaru yang beken adalah Capgen atau Cap Tikus campur obat Generik. Penggemar Capgen - juga kalangan muda - menyukainya karena seolah memberi memberi efek pengobatan. Didi warga Wioy mengaku sakit kepalanya sembuh dengan meminum Capgen.
Selain untuk dijadikan Cap Tikus, nira sebenarnya dapat dikembangkan menjadi Bio Etanol. Sewaktu dipamerkan dalam pameran pembangunan memperingati hut Sulut di Kayuwatu September lalu, stand petani Tombatu yang menampilkan teknologi mengundang kekaguman sejumlah pihak, termasuk Gubernur Sulut SH Sarundajang.
Kala itu, Sarundajang mengatakan, produk Bio Etanol Petani Tombatu sebagai karya emas yang patut diberi apresiasi dalam perayaan tahun emas Sulut.
Dikatakannya, penemuan Bioetanol bukan hanya solusi bagi dunia yang ingin melepaskan diri dari ketergantungan terhadap minyak, namun juga solusi bagi Petani pohon aren yang ingin lepas dari Cap Tikus.
Sarundajang meminta para Petani untuk terus mengembangkan Bio Etanol. Ia menjanjikan dukungan bagi mereka.
Lukas salah satu penjaga stan mengatakan, semenjak dikembangkan di Minahasa Tenggara beberapa waktu lalu, Bio Etanol telah mencuri hati petani Tombatu. "Banyak yang sudah beralih jadi Petani Etanol, ada pula yang masih produksi Cap Tikus namun siap beralih," kata dia.
Keuntungan yang dirasa oleh Petani Etanol, menurut dia, hasil Etanol banyak diburu industri besar.
Bupati Mitra James Sumendap mengatakan, Bio Etanol di Tombatu merupakan contoh dari pengembangan Desa mandiri.
"Nantinya setiap desa akan didorong untuk mengolah potensi mereka, hingga nantinya menguntungkan mereka," kata dia.
Menurut James, salah satu bagian dari program Samisade adalah menjadikan Mitra sebagai daerah yang berdikari. Syaratnya, kata dia, setiap Desa harus mandiri. (art)
Update terus informasi terbaru setiap hari di Tribun Manado edisi cetak, dan di www.tribunmanado.co.id