Kata Politisi Minahasa Ini, Bahasa Daerah Hanya Digunakan Orangtua
Kesadaran generasi muda mengenai budaya dan bahasa daerah perlu ditingkatkan.
Penulis: Finneke | Editor:
Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan
TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Melihat fenomena anak muda sekarang yang tak tahu bahasa daerah, Feybe Sanger, politisi DPRD Minahasa menyebut bahasa daerah harus mendapat perhatian serius. Sebab lama-kelamaan orang Minahasa akan kehilangan jati dirinya sebagai orang Minahasa.
"Kesadaran generasi muda mengenai budaya dan bahasa daerah perlu ditingkatkan sebab kita harus jujur bahwa sekarang bahasa Minahasa lebih banyak digunakan oleh orangtua. Itu pun bukan dalam pergaulan luas melainkan hanya digunakan dalam komunikasi keluarga," ujar poltisi PDIP ini, Minggu (9/11). (baca: Generasi Muda Minahasa Pun Tak Lagi Cakap Bahasa Daerah )
Dikatakannya, semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi membuat masyarakat minahasa terkesan mengabaikan bahasa daerah yang menjadi salah satu ciri khas budaya Minahasa. "Kecenderungan itu bisa dilihat dari banyaknya anak muda sekarang yang tidak lagi menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi dengan teman sepergaulan bahkan anak-anak sekarang lebih cenderung mengabaikan penggunanaan bahasa daerah, ucapnya menyayangkan. (baca: Orangtua di Sulut Akui tak Bicara Pakai Bahasa Daerah dengan Anak)
Ke depan, kata Feybe, ia akan mendorong kepedulian dan kecintaan orang minahasa akan bahasanya sendiri. Ia pun akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Minahasa sebagai mitra kerja Komisi II untuk memasukan bahasa daerah ke jadwal kegiatan belajar mengajar. "Seperti mencanangkan paling sedikit satu Jam pada hari tertentu seminggu sekali untuk menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi di sekolah dan mengadakan lomba-lomba yang menekankan pada penggunaan bahasa daerah. Kecenderungan mengajarkan bahasa asing tak salah, tapi bahasa daerah harus dilestarikan juga," ujar Sekretaris Komisi II ini. (baca: Ratun Usul Sulut buat Perda Bahasa Daerah)
Selain itu pula, menurutnya, hal lain yang dapat dilakukan yakni dalam setiap iven Pemilihan Waraney dan Wulan Minahasa bahasa daerah harus ditonjolkan juga. "Tentunya perhatian akan pelestarian bahasa daerah bukan hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Minahasa saja, melainkan membutuhkan kepedulian dan kesadaran akan keberlangsungan bahasa daerah. Saat ini belum terlambat sebelum bahasa daerah kebanggan kita terancam punah," tutup politisi perempuan vokal dari PDI Perjuangan ini.
Sementara itu, Talita Rumengan, siswi Kelas VIII di SMP Negeri 1 Tondano mengaku tak tahu bahasa daerah Minahasa, khususnya Tolour. Hal itu karena tak ada yang ajarkan itu padanya. "Dulu waktu SD pernah belajar, tapi minim sekali yang didapat. Kalau sekarang tak ada yang ajarkan," ujarnya.
Saat ini, kata dia, di lingkungannya tak ada yang berbahasa daerah. Itu sejak oma dan opanya meninggal. "Kalau dulu ada oma dan opa, mereka sering berbahasa daerah. Jadi sering dengar. Kalau sekarang mama dan papa tak pernah saya dengar berbahasa daerah," terangnya.
Senada diungkap pemuda lainnya, Natalia Luntungan, mahasiswa Unima. Kalau hanya satu dua kata, gadis asal Tonsea ini masih tahu. Tapi kalau sudah dalam dialog, dia sudah tak tahu sama sekali. "Kalau di rumah pun yang berbahasa daerah tinggal oma, yang berkomunikasi dengan mama atau papa," ujarnya.
Fenomena yang terjadi saat ini, para pemuda tak tahu lagi bahasa daerah Minahasa. Terlebih mereka yang tinggal di kawasan perkotaan. Seperti bahasa Tolour. Para pemuda di kawasan pusat Tondano Tondano tak tahun bahasa daerah. Namun berbeda dengan pemuda - pemuda di kawasan pinggiran seperti wilayah Tataaran, Papakelan, Eris, Remboken dan Tondano wilayah pantai. Mereka fasih berbahasa daerah, kadang di beberapa kesempatan terpantau mereka menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi. (fin)