Generasi Muda Minahasa Pun Tak Lagi Cakap Bahasa Daerah
Hasil penelitian menunjukan Minahasa raya masuk wilayah danger linguistik (bahasa daerahnya terancam punah).
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Fransiska_Noel
Senada diungkap pemuda lainnya, Natalia Luntungan, mahasiswa Unima. Kalau hanya satu dua kata, gadis asal Tonsea ini masih tahu. Tapi kalau sudah dalam dialog, dia sudah tak tahu sama sekali.
Untuk bahasa Tolour pemuda di seputaran kawasan pusat kota tak lagi berbahasa daerah. Namun berbeda dengan pemuda di kawasan pinggiran seperti wilayah Tataaran, Papakelan, Eris, Remboken dan Tondano wilayah pantai. Mereka fasih berbahasa daerah, kadang di beberapa kesempatan terpantau mereka menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi.
Julius Ondang, Kepala SMAN 2 Bitung, mengatakan kalau pengajaran secara kurikulum di sekolah saat ini sudah tidak ada lagi yang spesifik mengajarkan delapan etnik bahasa Minahasa. "Selain itu terkendala di tenaga guru. Sudah jarang orang Tonsea, Tondano dan Tountenboan serta Tombulu yang berbahasa daerah," katanya.
Menurut pria yang sangat fasi bahasa Tontemboan ini, di Wali Kota Bitung SH Sarundajang seluruh PNS diminta untuk mempergunakan bahasa daerah. "Memang dulu dan sekarang sudah jauh beda, kami dulu Pak Sarundajang bilang harus bahasa meski tidak sering," ujarnya. Ia mengusulkan digelar lomba pidato bahasa daerah jangan hanya pidato bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. (warstef abisada/christian wayongkere/arthur rompis/finneke wolajan)
Baca selengkapnya di Tribun Manado edisi cetak hari ini, Kamis (6/11/2014).
Update terus informasi terbaru di www.tribunmanado.co.id