Rabu, 8 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Revolusi Mental di Sekolah

Kontrol Perilaku Murid, Kini Guru Pakai Rapor Harian

Revolusi mental yang dimulai dari dunia pendidikan menggema kala berlangsungnya kampanye Pemilihan Presiden 2014.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor:

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Revolusi mental yang dimulai dari dunia pendidikan menggema kala berlangsungnya kampanye Pemilihan Presiden 2014. Adalah Presiden terpilih Joko Widodo yang menggemakan ide tersebut.

Namun, jauh sebelum Jokowi menggemakan revolusi mental, para guru di sekolah sudah berusaha menerapkan Kurikulum 2013 yang dikenal sebagai Pendidikan Berbasis Karakter.

Bahkan, guru untuk tingkat pendidikan Taman Kanak-kanak, setiap mengajar menyiapkan rapor harian untuk memantau perilaku muridnya. Semua tingkah anak dicatat dalam rapor harian tersebut.

Guru TK Bhayangkari 1 Brimob Sulut di Manado, Mariana Yunus kepada Tribun Manado, Selasa (26/8) menjelaskan, murid satu dengan yang lain itu memiliki perbedaan karakter. Untuk memantau perkembangan karakter tersebut, guru memakai rapor harian.

Selama di sekolah, kata dia, anak-anak dinilai kesehariannya dari moral, bahasa, karakter, kognitif dan perkembangan anak.

"Misalnya cara memerhatikan kala saya memberi penjelasan, itu dinilai. Bahkan sampai misalnya kencing dan BAB di sekolah," katanya.

Kepala TK Bhayangkari 1 Brimob Sulut,
Beatrix Kastiana Lontoh menjelaskan,
sebelum Kurikulum 2013 atau K-13 diterbitkan, sekolahnya sudah lama mengedepankan pendidikan karakter.

"Pembelajaran K-13 itu intinya anak mau belajar sesuai dengan umur, apakah mampu atau belum. Kalau kurikulum sebelumnya mereka dipisahkan sesuai usia. Tetapi saat ini sudah digabungkan seperti usia 4 tahun masuk belajar di umur 5 tahun," tutur Lontoh.

Taman kanak-kanak yang dibangun pada 21 April 1965 kini memiliki 6 tenaga pengajar, tercatat 56 murid, dari usia 3 tahun 9 bulan-6 tahun. Selama ini, materi ajarnya untuk pendidikan moral memiliki porsi 80 persen.

Meski sudah lama menerapkan K-13, namun dua guru di TK tersebut, Mariana Yunus dan Irja Mandang mewakili Sulut untuk mengikuti pelatihan K-13.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Nasional Sulut, Gemmy Kawatu mengakui K-13 memang untuk merangsang kreativitas dan membentuk moralitas dan budi pekerti yang baik.

"Saat ini Kurikulum 2013 sudah jalan, mau tidak mau karena ini program nasional," katanya.

Namun ada saja kendala, semisal penyaluran buku ke sekolah-sekolah. Sulut, kata Kawatu, memperoleh 23 kontainer buku dari Kementerian Pendidikan namun baru 8 kontainer yang diperoleh. Ini menyebabkan belum semua sekolah menerima buku.

"Sementara sekolah yang belum dapat buku kurikulum bisa menggunakan e-book yang sudah dibagikan dalam bentuk CD," katanya.

Senada disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Manado, Corry Tendean. Bahkan, Corry yang belum genap sepekan menjadi kepala dinas ini meyakini K-13 mampu mengubah siswa menjadi lebih baik.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved