Senin, 20 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Lipsus Alih Fungsi Sawah

Lahan Sawah Beralih Fungsi Jadi Kawasan Perumahan

Alih fungsi lahan, termasuk lahan persawahan menjadi persoalan serius di Kabupaten Minahasa Utara (Minut).

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Fransiska_Noel

TRIBUNMANADO.CO.ID, AIRMADIDI - Alih fungsi lahan, termasuk lahan persawahan menjadi persoalan serius di Kabupaten Minahasa Utara (Minut). Hal ini diakui Kadis Pertanian Minut, Ir Wangke Karundeng, Jumat (22/8/2014).

Wangke mengatakan, satu diantara penyebab banyaknya lahan persawahan yang beralih fungsi, disebabkan menjamurnya bisnis perumahan di Minut.''Ini memang menjadi persoalan, tapi kami mempunyai strategi menghadapinya, '' ujarnya.

Dia mengaku, strategi program sentuh tanah serta sebagai contoh seperti Dirjen datang menanam serentak menjadi bagian strategi. AdanyaSekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) kata Wangke, merupakan tempat petani melakukan pertemuan membahas pengelolaan padi dari awal hingga panen didampingi petugas lapangan.
Meningkatkan Indeks pertanaman jika ada penyusutan lahan.  Ketika terjadi penyusutan 5 hektar lahan, maka harus ada lahan baru 5 hektar lebih disiapkan mengganti lahan yang digunakan.

Peningkatan produktifitas kuantitas dengan fasilitas teknologi terbaru, SRI system Rise Intensifikasi, pengelolaan lahan sesuai standar, penggunaan bio organik, pemilihan bibit unggul dan sistem jajah serta ukuran.

''Kami akan menerapkan bio organik secara perlahan sehingga menghilangkan bubuk organik. Menggunakan bio organik akan meningkatkan kuantitas beras," ucapnya.
"Jika ada yang ingin mengganti lahan persawahan dengan gedung atau perumahan maka syaratnya harus membuka lahan baru sebagai mengganti. Memang sebagai salah satu problem pertanian tapi dengan strategi-strategi yang ada maka pertanian harus memperluas area baru sehingga adanya keseimbangan," ujarnya.

Total luas sawah baku kurang lebih 4.000 hektar dengan rata-rata per tahun yang ditanami hingga 6.000 hektar.

Logikanya  dalam setahun ada 2 kali pengerjaan sampai panen dengan total 6.000 hektar dari seharusnya 8.000 hektar, tapi kadang 2.000 hektar tidak dikerjakan. "Bisa saja dalam setahun untuk meningkatkan hasil panen dapat 3 kali panen setahun sehingga produksi beras tetap terjaga," ujarnya.

Pertanian terbantu dengan padi yang ditanam di ladang. Padi ladang paling banyak di wilayah Kauditan dan Dimembe, Likupang Barat, Selatan, Wori sekitar 2.000 hektar. Untuk pada ladang satu tahun sekali panen, lokasinya di Kecamatan Kema, Kecamatan Kauditan, Kecamatan Airmadidi.

Aliks Josep, Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan mengatakan, memang terjadi penyusutan lahan tapi tak mempengaruhi kualitas beras.  
Aliks menegaskan, luas perawahan di Minut yang berfungsi 3.100 hektar irigasi. Untuk besaran penyusutan yang terjadi hampir setiap tahun 3 sampai 5 persen. Lahan beralih fungsi menjadi bangunan gudang, tol, perumahan. Tapi tidak mempengaruhi kualitas swasembada beras, sesuai target Provinsi Sulut.

"Aspeknya perluasan area dan skenario produksi pada lahan kering dengan menggunakan padi ladang di Lipungan Timur, Selatan, Wori dan Kema menjadi strategi penyeimbang, '' ujarnya.

Lanjutnya, target Provinsi Sulut untuk swasembada beras tahun 2014 selalu mencapai target. Melalui gabah kering panen mencapai 46 ribu ton.

Penghasil padi terdapat di Kecamatan Kalawat, Kecamatan Kauditan, Kecamatan Airmadidi, Kecamatan Dimembe dan Kecamatan Talawaan.

"Yang jelas terjadi penyusutan setiap tahun tapi khususnya mengenai kualitas suasembada tetap terjaga terbukti dengan capaian target Provinsi," ujarnya.

Sesuai data dari Dinas Pertanian tahun 2013. Luas tanam yang dikerjakan totalnya 8.931 hektar di 10 kecamatan. Penghasil padi paling banyak terdapat di Kecamatan Kauditan yakni mencapai 13.655 ton. Total hasil produksi di 10 kecamatan mencapai 57.506 ton.

Padi ladang tahun 2013, terdapat di 10 kecamatan 3.716 hektar yang dikerjakan dengan produksi 6.639 ton.

Sedangkan data tahun 2014 dari Januari hingga Juli, untuk 10 kecamatan mencapai 3.199 hektar dengan total produksi 22.116 ton padi sawah.(kel)

Baca selengkapnya di Tribun Manado edisi cetak hari ini, Sabtu (23/8/2014).

Update terus informasi terbaru di tribunmanado.co.id

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved