Minggu, 26 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Lipsus Awas Anjing Rabies

Kasus Unik Rabies di Minut, Korban Gigitan Meninggal setelah Dua Tahun

Penyakit akibat gigitan anjing ini tengah menghantui sejumlah daerah di Sulawesi Utara.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor:

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Berita meninggalnya Sheik Umar Khan karena serangan virus mematikan, ebola, mengguncang dunia. Maklum, Sheik Umar Khan adalah tokoh yang memerangi ebola itu sendiri.

Ebola yang menjadi wabah mematikan di kawasan Afrika Barat merebak tahun ini sejak Maret. Pada kurun waktu tiga bulan sejak Maret, ebola sudah menewaskan 400 orang di Liberia, Sierra Leone, dan Guinea.

Namun demikian, para pakar kesehatan meminta kepada masyarakat di Indonesia tidak perlu mencemaskan penyebaran virus ebola ini. Sebab, virus ini hanya menyebar di Afrika Barat.

Justru yang harus diwaspadai adalah penyebaran penyakit mematikan lainnya seperti rabies. Terlebih sekarang merupakan musim panas, sangat rentan penularan rabies.

Penyakit akibat gigitan anjing ini tengah menghantui sejumlah daerah di Sulawesi Utara.

Di Minahasa Utara misalnya, warga yang tinggal di sejumlah perumahan selalu mengusir jika ada anjing yang berkeliaran di kompleks. Warga menengarai anjing tersebut dalam kategori liar dan tidak diketahui siapa pemeliharanya.

"Sekarang anjing liar sudah tidak masuk ke perumahan kami karena selalu kami usir. Kami takut rabies," ungkap seorang warga Minahasa Utara, Jumat (1/8).

Bahkan di Minahasa Utara, tepatnya di Desa Kinabuhutan, ada seorang warga meninggal akibat rabies pada September 2013. Padahal dia digigit anjing pada 2010.

Kepala Dinas Kesehatan Minut, Sandra Rotty mengakui hal tersebut merupakan kasus unik. Berselang dua pekan menggigit warga Kinabuhutan tersebut, anjing tersebut mati.

Menurut Sandra, selama dua tahun, warga tersebut tampak baik-baik saja. Namun pertengahan 2013, ia mendadak sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia.

"Gejala yang ia alami seperti penderita rabies, kami pun meneliti dan benar saja, ia meninggal karena rabies," katanya.

Kejadian langka itu pun diteliti. Hasilnya, kematian lambat terjadi karena kuman rabies bereaksi lambat di tubuh pasien itu.

"Anjing itu menggigit di bagian tubuh tertentu, itu salah satu faktor, disamping ada faktor lain yang masih diteliti," katanya.

Menurut Sandra, kasus kematian di Kinabuhutan itu adalah yang pertama. Sepanjang 2014, sudah terjadi 20 kasus. Di 2013, dari 50 kasus, tiga orang meninggal dunia.

Prosedur penanganan gigitan anjing, kata dia, sudah baku yakni suntikan mesti langsung dilakukan. Apalagi bila gigitan terjadi pada bagian tubuh sensitif seperti alat kelamin dan ujung jari.

Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved