Pascapembukaan Jalur Manado/Tomohon, Antrean Kendaraan 2 Km
Setelah dua hari dibuka, jalur utama Manado-Tomohon kian ramai dilalui kendaraan beragam bentuk dan ukuran.
Penulis: | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Warstef Abisada
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Setelah dua hari dibuka, jalur utama Manado-Tomohon kian ramai dilalui kendaraan beragam bentuk dan ukuran. Jalur ini ditutup akibat longsor tanggal 15 Januri lalu.
Pantauan Tribun Manado, Selasa (11/3/2014), ribuan kendaraan baik roda dua, roda empat, bus, hingga truk mengantre sepanjang hingga dua kilometer (km) untuk melintas di jembatan Bailey yang dibuat TNI baik di km 13 dan 16 ruas jalan tersebut.
Senyum terlihat terus mengembang dari warga yang melintas. Mereka tampak saling pengertian dengan tidak saling mendahului ketika memasuki area jembatan dan dengan sabar satu per satu mengantre untuk lewat. Bahkan penumpang dari bus tak segan untuk turun dari kendaraan dan berjalan kaki, guna mengurangi beban ketika melintas di atas jembatan dan naik lagi, mengingat maksimum berat kendaraan yang bisa lewat hanya lima ton saja.
Di km 13, lokasi longsor yang sempat mengakibatkan tiga warga Tomohon meningggal, puluhan orang tampak memadati dan melihat-lihat sisa puing rumah yang berserakan di ke dalaman tebing curam. Mereka adalah warga setempat yang dulunya bermukim di situ, juga warga yang kebetulan singgah dan sekadar mencari tahu kejadian sebenarnya sewaktu bencana longsor dan banjir bandang terjadi.
"Terus terang sebagai warga, saya juga senang dan bersyukur jalan ini bisa dibuka lagi untuk umum. Arus lalu lintas boleh kembali lancar dan kawasan ini menjadi ramai kembali," kata Welly Mantik, warga Kelurahan Tinoor II, Lingkungan V.
Welly adalah salah satu warga yang sudah puluhan tahun tinggal di pingir ruas jalan Manado-Tomohon, tak jauh dari lokasi longsor di Km 13. Rumahnya masih berdiri kokoh di sana, namun pascabencana longsor terjadi, tak lagi dijadikan tempat hunian utama. Sebab, bersama istrinya Yenny Rapar, kini telah mengungsi untuk sementara waktu ke Balai Pertemuan Umum (BPU) Kelurahan Tinoor II, guna menghindari bahaya longsor lagi.
Rumah milik Welly kini hanya menjadi tempat singgah warga untuk berteduh, kadang juga dijadikan lokasi berkumpul untuk mencari informasi akurat seputar peristiwa naas yang menelan tiga korban jiwa, yang menjadi tetangganya. "Saya dan keluarga memang belum tinggal lagi di sini, sebab perasaan trauma itu masih ada. Jadi, hanya datang-datang saja untuk memantau situasi di sini, ke depan mungkin jika sudah stabil akan kembali berjualan di sini lagi," ungkapnya.
Rumah yang ada di pinggiran ruas jalan Manado-Tomohon, kata dia memang belum layak untuk dihuni, mengingat longsor susulan masih mungkin terjadi dalam skala lebih besar. "Tanah di sini memang belum stabil, apalagi setelah digusur untuk normalisasi jalan, masih sangat mudah longsor. Jadi, ketika hujan turun, kami langsung kembali ke kampung, tak berani untuk berdiam lama-lama disini, karena takut terkena longsor lagi," tutur Welly.
Ridwan Nusa, mahasiswa Fisip Unsrat Manado yang kebetulan melintas di ruas jalan tersebut berharap pemerintah membuat jembatan dan jalan yang lebih representatif lagi, agar dapat menjamin keselamatan warga setiap waktu.
"Sudah baik jalan Manado-Tomohon dibuka, tapi lebih baik lagi jika ke depan diperbaiki, sebab sudah mulai rusak. Apalagi di jembatan yang menyambungkan jalan yang putus, harus dibuat lebih baik, sebab sangat mengerikan ketika lewat di situ," kata Ridwan yang mengaku baru dari Tondano lewat Tomohon.
Gairahkan ekonomi warga
Dibukanya ruas jalan Manado-Tomohon berdampak positif terhadap perekonomian warga. Rumah makan dan restoran serta warung yang awalnya tutup kini sudah mulai buka dan beraktiitas lagi. Rumah Makan Heng Mien misalnya, sejak kemarin terlihat sudah buka. Ratusan pengunjung tampak mendatangi dan menikmati menu yang disediakan, tepat berada di pinggir jalan.
"Sebagai pengusaha rumah makan, tentu sangat bersyukur jalan ini bisa dibuka kembali, sebab menggairahkan usaha yang sudah dirintis puluhan tahun lamanya," kata putri Norma Nangka, Cindy Wongkar, kemarin.
Sejak bencana longsor 15 Januari lalu, rumah makan yang sangat terkenal dan digemari masyarakat ini memang tutup hingga Senin (10/3). "Hari ini memang sudah dibuka, sudah banyak pengunjung yang datang, meski tak sebanyak dulu. Tapi, sudah baik karena ekonomi masyarakat sudah bergeliat lagi," kata Sandy Wongkar.
Ia berharap ke depan jalur ini dapat difungsikan terus, sebab menjadi urat nadi untuk peningkatan ekonomi masyarakat. "Di sini tak hanya kami saja yang mencari nafkah, tapi warga lain juga yang hari-hari melintas di sini, jadi diharapkan dapat terus digunakan," tutur Sandy sembari menambahkan rumah makan Heng Mien kini beroperasi normal mulai pukul 10 pagi hinggi 10 malam.
Sementara itu, Jemmy Montolalu, sopir bus Manado-Tomohon juga bersyukur ruas jalan utama dapat dibuka kembali, sebab memperpendek jarak dan waktu tempuh untuk ke Manado atau sebaliknya untuk mengantar penumpang.
"Waktu kami untuk ke Manado menjadi lebih singkat untuk mengantar penumpang, karena jaraknya lebih dekat, jadi cukup menguntungkan. Hanya ke depan perlu direhabilitasi lagi, agar ketika hujan turun tak membahayakan misalnya terjadi longsor atau adanya lumpur yang mengalir ke jalan dan bisa membuat jalan licin," tukasnya.