Breaking News:

Imlek

Makan Bersama di Klenteng Manado

Karena masih dalam suasana keprihatinan itulah, tak ada pesta kembang api dan petasan dalam perayaan Tahun Baru Imlek 2565 kali ini.

Penulis: | Editor:
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Banjir bandang yang memorak- porandakan Kota Manado, Rabu (15/1) lalu menyisakan duka mendalam bagi warga etnis Tionghoa. Tidak sedikit dari mereka yang menjadi korban. Tempat usahanya bahkan berantakan.

Karena masih dalam suasana keprihatinan itulah, tak ada pesta kembang api dan petasan dalam perayaan Tahun Baru Imlek 2565 kali ini.

Keheningan sangat terasa di Klenteng Kong Miao Litang Manado. Hanya terlihat beberapa umat bersembahyang memegang dupa dan memanjatkan.

Selain sembahyang, kemarin, Klenteng Kong Miao Litang menggelar acara makan bersama. Ketua Pengurus Majelis Agama Konghucu Indonesia, Jemmy Sanger Wong mengatakan, di tahun baru kuda kayu ini, klenteng menggelar ibadah dan makan bersama.

"Makan bersama digelar mengingat kondisi kerabat kita tertimpa banjir bandang sehingga tidak berkesempatan open house. Mereka bisa datang ke klenteng dan saling bertukar pikiran," ujar Wong.

Dia mengatakan, bagi kerabat yang tertimpa bencana diharapkan tidak terlalu larut dalam kesedihan. "Banyak yang tertimpa bencana, kita berharap semua bisa maju di tahun kuda ini. Banyak yang terpukul rumah mereka hanyut dan usaha jadi menurun  karena bencana." ujarnya.

Di tempat berbeda, Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia Riano Boggy mengatakan, dibandingkan dengan tahun kemarin, baru pertama kali, pengurus mengadakan makan bersama di klenteng. Alasannya karena tahun ini banyak kerabat yang bersedih.

"Kita harus optimistis di tahun kuda kayu. Mungkin usaha kita di tahun kemarin mengalami pasang surut, optimistis ke depan pasti meraih kesuksesan," kata Riano.

Di Klenteng Altar Agung Thian Tan Kiong, Jumat (31/1) terlihat puluhan bendera berkibar di depan klenteng itu. Juga aroma dupa tercium harum.

Dikatakan pembina klenteng, Soei Ronny Loho, bendera itu berjumlah 36 bendera, itu melambangkan 36 jenderal langit membantu membasmi hawa-hawa atau para setan iblis.

"Ditahun kuda kayu ini, kita saling memaafkan dan bermohon supaya tahun baru ini lebih baik dan sejahtera, wan shi ru yi yang artinya harapan kita di tahun ini bisa terkabul, shi nen quaile yang artinya tahun membawa kebahagiaan dan keberuntungan," ujar Loho.

Dikatakannya, tahun baru imlek ini dirayakan secara sederhana, mengingat beberapa di antara kerabat tertimpa bencana. Jadi sebaiknya bagi yang berlebihan berbagi sebagian miliknya kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Tahun ini melambangkan kekuatan, semakin semangat, tinggalkan kejadian yang kemarin tidak melihat ke belakang, kejadian yang terjadi kita semakin kuat. Kumpul bersama keluarga, sembahyang leluhur.

"Torang berlaku bakti mengenang jasa semasa orangtua masih hidup, biarpun mereka (orangtua) sudah tidak ada, kita harus sembahyang dan menganggap mereka itu masih ada seperti pada masa hidup mereka mendidik dan menyekolahkan kita pada saat ini," tutur Loho. (fer)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved