Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Imlek

Malam Tahun Baru China di Manado Tanpa Pesta Kembang Api

Jalan Sudirman hingga Jalan Wayang yang biasanya padat karena antrean mobil-mobil yang mau menonton pesta kembang api di Kampung

Editor:
TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO
Ilustrasi. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Masih teringat jelas tahun lalu 2013, dua tahun lalu 2012, tiga tahun lalu 2011 dan tahun-tahun sebelumnya kemeriahan pesta kembang api persis saat malam tahun baru China pukul 00.00 Wita, di Kawasan China Town Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Bahkan ada di antara tahun itu pesta kembang api yang diperkirakan menghabiskan dana ratusan juta.

Terang saja karena harga satu kembang api ada yang lebih dari Rp 1 juta. Tapi Kamis (31/1/2014) sudah pukul 24.00 tidak ada bunyi-bunyian ataupun warna-warni yang menguasai langit.

Jalan Sudirman hingga  Jalan Wayang yang biasanya padat karena antrean mobil-mobil yang mau menonton pesta kembang api di Kampung China Manado kini sepi. Hanya beberapa kendaraan yang lewat dan tidak ada kemacetan apapun.

Pantauan Tribun Manado tadi malam, hanya di sekitar klenteng tertua di Manado yaitu Klenteng Ban Hin Kiong dan Kwan Kong yang padat pengunjung. Sebagian besar adalah warga etnis tionghoa yang melakukan ritual sembahyang. Ada juga warga sekitar yang datang untuk menonton prosesi di kedua klenteng yang letaknya berdekatan ini.

Maurits Pangemanan seorang warga Manado, menuturkan, tahun ini suasananya benar-benar berbeda. Namun demikian menjadi keunikan tersendiri karena biasanya pesta sekarang karena banjir bandang tidak ada pesta kembang api sama sekali. 

"Tahun ini tidak ada pesta kembang api. Tapi memang wajar dengan kondisi bencana yang parah tapi salut dengan iman para umat tionghoa yang tetap beribadah beramai-ramai di klenteng karena memang sembahyang yang utama," kata pria yang memiliki darah tionghoa ini kepada Tribun Manado didampingi sang kekasih Yatti Sembung.

Sementara itu, salah seorang petugas altar di Klenteng Ban Hin Kiong mengungkapkan bahwa pesta kembang api merupakan bagian dari ekspresi untuk mengungkapkan rasa syukur kepada para dewa di langit. Jika tahun ini tidak ada bukan berarti tidak ada rasa syukur tapi lebih memfokuskan diri pada sembahyang syukur di dalam klenteng.

"Saat ini para korban banjir lebih membutuhkan berbagai bantuan yang sangat mendesak untuk mempertahankan nyawa mereka. Itulah mengapa tidak ada pesta kembang api tahun ini dan karena dana-dana itu dialihkan untuk membantu para korban banjir di Manado," ucapnya.(dit)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved