Bencana di Sulut
Mantan Wali Kota Manado: Dulu tak Pernah Banjir
SETIAP zaman ada masalah tersendiri, tetapi Tuhan beri akal sehat untuk manusia mencari solusi.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Andrew_Pattymahu
TRIBUNMANADO.CO.ID-SETIAP zaman ada masalah tersendiri, tetapi Tuhan beri akal sehat untuk manusia mencari solusi. Demikian pandangan mantan Wali Kota Manado NH Eman. Semasa ia memerintah dua periode dari tahun 1985 sampai 1995, Manado belum pernah mengalami banjir bandang seperti yang terjadi 15 Januari 2014. Menurut dia, bencana dua pekan lalu merupakan yang terbesar sejak Kota Manado berdiri.
"Dulu kalau ada banjir ya, kecil-kecil saja. Hanya tergenang," katanya kepada Tribun Manado, Minggu (26/1).
NH Eman mengakui, program tata kota Manado pada masa kepemimpinannya belum mengarah ke antisipasi banjir bandang. "Tata kota normal-normal saja. Paling bangun saluran drainase," katanya. Salah satu hasilnya drainase sepanjang 1 kilometer di Jalan Sam Ratulangi yang merupakan perpaduan drainase, taman dan pedesterian.
Pada waktu itu, lanjut dia, sudah ada rencana menata Daerah Aliran Sungai (DAS) Tondano yakni membuat jalan di tepian sungai. Namun, rencana itu terkendala membebaskan permukiman warga di tepian sungai. "Dari dulu memang sudah ada permukiman di tepi sungai, tapi bedanya dulu tidak ada masalah banjir seperti sekarang ini," katanya.
Dijelaskannya, rencana penataan jalan di sisi kiri dan kanan sungai dimaksudkan agar masyarakat Kota Manado tidak menjadikan sungai sebagai bagian belakang rumah, namun teras rumah mereka. "Belum sempat terealisasi, tugas saya sudah selesai. Sebetulnya ide jangka panjang adalah memindahkan penduduk dari pinggir sungai," ujarnya. Eman mengatakan, banjir semakin sering melanda Kota Manado belakangan ini karena daerah resapan air sudah berkurang akibat alih fungsi lahan, baik untuk permukiman, perkantoran atau industri.
"Namun, namanya masalah pasti selalu muncul dari zaman ke zaman, sebab itu Tuhan memberi manusia akal sehat untuk mencari solusinya," kata dia.
Salah satu ide yang terbesit dalam benaknya untuk menanggulangi banjir bandang adalah membendung air menuju ke Kota Manado. Air tersebut dialihkan ke laut Sulawesi. "Cara itu harus bangun kanal, persoalannya biaya mahal. Itu jalan keluar kalau mau aman Manado tidak banjir bandang," paparnya.
Setelah dibendung, lanjut dia, air itu disalurkan ke laut dengan sistem pompa. "Didesain ada penampungan, terus pompa dengan kekuatan 1.000 liter per menit. Memang harus ada kerja sama pemerintah kota dan provinsi siapkan dana untuk itu. Mau bagaimana lagi, harus ada langkah by pass," tandasnya.
Eman mengakui, kerja sama itu berada di bawah koordinasi Pemerintah Provinsi Sulut karena banjir di Manado bukan masalah Manado saja. Wali kota Manado tak punya kewenangan mengatasi sumber masalah di wilayah orang lain. "Harus kerja sama antara Pemda Minahasa, Minahasa Utara dan Manado dengan campur tangan Pemerintah Provinsi Sulut," kata Eman. (ryo)