Wisata ke Tanah Suci Israel, Berdoa di Tembok Ratapan
TEMBOK ini merupakan dinding batu yang menjulang sekitar 18,9 m dari atas tanah.
Penulis: Andrew_Pattymahu | Editor:
Pada tahun 2000, Paus Yohanes Paulus II menjadi Paus pertama yang berdoa di Tembok Ratapan. Paus juga meminta maaf akibat penganiayaan Katolik terhadap Yahudi selama berabad‑abad.
Umat Yahudi dari semua negara, dan juga wisatawan dari berbagai latar belakang agama lazim berdoa di Tembok Ratapan karena diyakini memiliki "telinga Tuhan."
Orang yang tidak dapat berdoa langsung di tembok dapat mengirimkan doa atau menggunakan Kaddish, sebuah doa khusus untuk orang Yahudi.
Doa yang dikirim tersebut ditulis dalam sebuah kertas dan diselipkan di celah‑celah dinding yang disebut sebagai kvitelach.
Tembok Ratapan dapat dikunjungi setiap saat sepanjang hari. Pengunjung biasanya digeledah secara menyeluruh untuk tujuan keamanan.
Perempuan dari agama apapun, untuk menghormati hukum Yahudi, harus mengenakan pakaian yang sopan.
Ada pintu masuk terpisah untuk pria dan wanita, meskipun mereka dapat berkumpul kembali di dalam tembok.
Struktur
Bagian utama dari tembok, di mana orang pergi untuk berdoa, memiliki panjang sekitar 57 m dan terbuat dari batu kapur meleke.
Sebagian besar batu memiliki berat hingga 1,814.4 kg atau lebih, dan satu batu terbesar yang disebut Batu Barat, beratnya mencapai lebih dari 500.000 kg.
Jacko Dengarkan Khotbah di Danau Galilea
Pada Oktober 2013 lalu, Jackson Kumaat bersama keluarga serta kerabatnya berkesempatan untuk mengunjungi Israel, negara yang oleh agama Kristen, Islam dan Yahudi dijuluki sebabai tanah suci.
Staf Khusus Gubernur Sulut Bidang Investasi ini menikmati setiap keindahan alam serta tempat‑tempat yang dianggap religius khususnya bagi umat Kristen.
Selama hampir dua pekan di negara ini, Jacko sapaan akrabnya kepada Tim Edisi Minggu Tribun Manado menuturkan Israel merupakan negara yang aman dan damai tidak seperti yang diumbar media selama ini. Penduduknya pun ramah dan welcome dengan siapa saja.
Jacko mengunjungi Tembok Ratapan, Laut Mati, Dataran Tinggi Golan, Bukit Golgota, Jalan Via Dolorosa, Gereja Navinity atau tempat kelahiran Yesus dan tempat‑tempat lainnya. Ketua DPD I KNPI Provinsi Sulut ini mengaku merasakan suasana travelling yang berbeda, tidak sama ketika ia mengunjungi atau berwisata ke Eropa ataupun negara Asia.