Renungan Minggu
Perayaan Kemanusiaan
KWI dan PGI bersama‑sama menetapkan tema dari Pesan Natal Bersama 2013.
Penulis: | Editor:
Oleh: Pst Ventje F Runtulalo Pr Dosen STF Seminari Pineleng
KONFERENSI Waligereja Indonesia (KWI) dan Persatuan Gereja‑Gereja di Indonesia (PGI) bersama‑sama menetapkan tema dari Pesan Natal Bersama 2013 yaitu " Datanglah, ya Raja Damai". Dalam pesan Natal tahun ini, KWI dan PGI mengingatkan kita umat Kristiani beberapa persoalan yang sedang dihadapi oleh bangsa kita.
Pertama, " dalam praktk kehidupan berbangsa dan bernegara, kita masih merasakan adanya tindakan‑tindakan intoleran yang mengancam kerukunan, dengan dihembuskannya isu mayoritas dan minoritas di tengah‑tengah masyarakat oleh pihak‑pihak yang memiliki kepentingan kekuasaan ".
Perbedaan, pemisahan, dan malahan pertentangan antar kelompok diangkat ke permukaan. Aku begini, engkau begitu. Kita berbeda, kita terpisah, kita bertentangan.
Perbedaan bukanlah sebuah keindahan atau pun kekayaan. Bhineka Tunggal Ika sepertinya mulai dihapus dari pita yang dicengkram kuat oleh Garuda, lambang negara kita. Apa yang menjadi roh yang menjiwai pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia terkesan mulai mati.
Kedua, " di depan mata kita juga tampak perusakan alam melalui cara‑cara hidup keseharian yang tidak mengindahkan kelestarian lingkungan seperti kurang peduli terhadap sampah, polusi, dan lingkungan hijau ".
Pemandangan yang kotor kita lihat setiap hari. Sampah menumpuk dan membusuk begitu dekat dengan hidup kita. Banjir yang disebabkan oleh sampah yang menutup selokan dan sungai adalah masalah besar kita. Perusakan lingkungan alam telah menyebabkan erosi, tanah longsor, bencana alam, tragedi kemanusiaan. Tanpa terasa langit biru kota‑kota kita mulai berwarna kelabu. Akibatnya, orang kota bergerak ke gunung dan tempat‑tempat sejuk di pegunungan mulai menjadi panas.
Ketiga, " kejahatan korupsi yang semakin menggurita ". Kasus‑kasus suap, gratifikasi seks, pencucian uang, pencurian uang negara dan uang rakyat memenuhi koran, majalah, dan berita televisi.
Ada pemegang kekuasaan yang menyalahgunakan uang untuk kesejahteraan rakyat banyak demi kesenangan pribadi atau kelompok. Keadilan dapat dibeli dengan uang di lembaga peradilan sekalipun.
Lebih memiriskan lagi karena semua hal itu terjadi mulai dari pusat sampai ke daerah‑daerah. Kearifan lokal seperti tak kuasa membendung pengaruh busuk korupsi. Memang sungguh sudah menggurita. Mulai menjadi kuat melekat dalam praktek hidup dan semakin memanjang seperti jari‑jari gurita.
Keempat, kasus narkoba. Kita semua ketakutan mendengar bagaimana narkoba mengorbankan generasi muda kita. Tak jarang, ada juga pemimpin bangsa yang menggunakannya. Penggunaannya menimbulkan masalah saat ini dan menghancurkan masa depan. Pemakaian narkotik, psikotropika, dan bahan adiktif tak jarang berbarengan dengan praktek seks bebas yang berujung pada penyebaran virus HIV yang semakin meningkat di negara kita, termasuk di Manado.
Menyaksikan dan mengalami semua persoalan itu, kita menjadi bertanya‑tanya, penuh kebimbangan dan keraguan memasuki tahun baru. Kita menjadi pesimis menghadapi tahun 2014. Lain kali kita menjadi marah dan bertindak tanpa akal sehat lagi.
Berhadapan dengan kelompok‑kelompok yang mengedepankan perbedaan sebagai sumber pemisahan dan pertentangan, tak jarang kita membalas dengan tindak kekerasan. Kelompok mayoritas mulai membangun kekuatan untuk membatasi, mengerem atau malahan menghancurkan golongan minoritas. Pikiran dan tindakan membalas dendam menjadi semangat yang mulai hidup di kelompok‑kelompok masyarakat. Kasih dan persaudaraan, persatuan dan perdamaian sepertinya mulai menjauh.
Berhadapan dengan perusakan alam, kita merasa tak berdaya. Kita seperti pasrah terhadap sebuah sistem pengolahan yang tidak betul atas sumber‑sumber alam. Kita tak berkutik berhadapan dengan pengambil kebijakan dan keputusan menyangkut pengolahan sumber‑sumber alam di sekitar kita. Adakalanya, kita malahan menjadi korban dari bencana yang diakibatkan oleh perusakan alam itu.
Berhadapan dengan korupsi yang menggurita, kita lain kali hanya bisa protes di dalam diri atau malahan mengikuti arus. Kita patah arang saat mengetahui bahwa di Mahkamah Agung sekalipun ada praktek korupsi. Kita hilang harapan waktu menyadari bahwa praktek gratifikasi seks dan suap uang masih saja terjadi walaupun sudah ada yang ditangkap dan dihukum karenanya. Kita sepertinya tidak melihat bahwa usaha luar biasa dan pantas diacungi jempol dari Komisi Pemberantasan Korupsi adalah mimpi buruk di siang hari untuk para pencuri uang rakyat.
Berhadapan dengan narkoba, orangtua gelisah di rumah, takut dengan masa depan anak‑anak. Anak‑anak tak bisa dibatasi oleh tembok rumah atau dikurung dalam kamar. Komunikasi lewat internet telah membuka jendela‑jendela kamar anak‑anak kita. Mereka tidak perlu melompat jendela atau mencungkel kunci pintu rumah untuk keluar dan bercakap‑cakap dengan orang lain. Orang tua seperti tidak punya kekuatan lagi untuk melindungi anak‑anak dari pengaruh‑pengaruh buruk dunia luar.
Berhadapan dengan kehidupan sekarang yang serba sulit karena dollar Amerika naik, kita hanya bisa mengelus‑elus dada. Elpiji, gas yang sebelum Desember hanya berharga 20 ribu rupiah sekarang bisa menjadi 40 ribu rupiah. Biaya transportasi naik. Akibatnya, harga barang‑barang juga melonjak. Biaya kesehatan menjadi mahal, ongkos pendidikan tidaklah murah.
Berhadapan dengan itu semua, di satu pihak kita menjadi pesimis, ragu dan bimbang. Kita bertanya‑tanya tentang masa depan bagaimana yang akan kita hadapi di tahun 2014 nanti.
Di hari Natal yang membahagiakan ini kita mendengar sebuah cerita tentang satu hal yang luar biasa istimewa dan membangkitkan harapan dan optimisme untuk umat manusia. " Para gembala cepat‑cepat berangkat ke Bethlehem dan mendapati Maria dan Yosef serta Bayi yang terbaring di dalam palungan " (Luk. 2:16).
Allah menjadi manusia dalam kehidupan sebuah keluarga sederhana, yang tidak mendapatkan tempat yang layak untuk melahirkan bayi mereka. Allah datang ke dunia dalam sebuah kampung kecil, Bethlehem.
Allah menjelma dalam rupa seorang bayi lemah yang dibaringkan di dalam palungan. Allah tidak takut memasuki kehidupan keluarga yang sederhana. Allah tidak ragu masuk dalam desa yang sunyi dan tak diperhitungkan. Allah tidak enggan masuk ke dalam kemanusiaan kita yang lemah. Allah tidak bimbang memilih menjadi bagian dari kita umat manusia yang penuh dengan pergumulan.
Inilah berita suka cita untuk kita yang lain kali pesimis memikirkan kehidupan keluarga kita. Inilah warta optimis untuk kita yang sering kali memandang apatis tempat tinggal kita. Inilah kabar gembira untuk kita yang acapkali takut menghadapi keadaan hari esok dan tahun yang baru. Inilah kekuatan baru untuk kita yang tak jarang putus asa berhadapan dengan persoalan‑persoalan hidup sekarang ini.
Di hari Natal yang penuh sukacita ini, saat Allah menjelma menjadi manusia, ketika yang ilahi menjadi insani dan yang insani menjadi ilahi, mari kita rayakan kemanusiaan kita yang sungguh luhur, mulia nan agung. (david manewus)
Sumber: Tribun Manado cetak, Minggu (29/12/2013).