Renungan Minggu
Bijaksana dalam Penantian
Persoalannya adalah bagaimanakah caranya kita menunggu? Dengan apa kita mengisi waktu penantian itu?
(Matius 25:1-13)
Oleh Pdt Stenly J Sela STh, Pendeta Jemaat GMIM Victory Minanga Indah Malalayang
TRIBUNMANADO.CO.ID - Saudara-saudara yang kekasih dalam Tuhan Yesus Kristus, banyak orang mengatakan bahwa menunggu adalah pekerjaan yang paling berat. Dalam banyak pengalaman, ketidaksabaran manusia menjadi faktor yang paling berpengaruh ketika pekerjaan menunggu harus dilakukan.
Tak jarang orang menjadi kesal bahkan marah ketika sesuatu atau seseorang yang ditunggu itu tak kunjung datang, apalagi kalau memang pertemuan dengan seseorang itu sudah direncanakan. Maka dalam kasus-kasus tertentu, seseorang melampiaskan kekesalan atau kekecewaannya dengan sesuatu yang kurang baik, atau yang paling sering adalah mengeluarkan umpatan atau kata-kata makian.
Barangkali semua kita telah pernah mengalami atau mempraktekkannya, baik menunggu atau ditunggu, sebab menunggu adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Sebagai orang percaya kepada Yesus Kristus, kita pun adalah orang-orang yang sedang berarak dalam penantian. Artinya, kita sedang menunggu sesuatu dan menunggu seseorang yang akan datang.
Siapa dan apa yang sedang kita nantikan atau kita tunggu? Dialah Yesus Kristus, Sang Tuhan yang akan datang kembali sebagai hakim yang adil dikali kedua. Dalam khasanah teologi, inilah yang disebut Parousia. Parousia adalah kata Yunani yang berarti "kehadiran" dan dalam PB digunakan untuk kedatangan Kristus dalam kerangka eskatologis. Artinya, Parousia dipahami sebagai kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Inilah yang kita nantikan. Inilah yang kita tungu-tunggu.
Persoalannya adalah bagaimanakah caranya kita menunggu? Dengan apa kita mengisi waktu penantian itu? Mari kita coba memahami cerita tentang lima gadis bijaksana dan lima gadis yang bodoh dalam Matius 25:1-13. Bagian ini adalah suatu perumpamaan dan dalam perumpamaan ini terlihat jelas bahwa tujuan/penekanan utama dari perumpamaan ini adalah supaya kita semua siap sedia, berjaga-jaga menghadapi akhir zaman atau kedatangan Yesus yang kedua kalinya (ayat 13).
Dikisahkan ada 10 gadis yang sedang menunggu datangnya mempelai. Ada lima yang disebut bodoh dan lima lagi disebut bijaksana. Kebodohan dan kebijaksanaan 10 gadis ini ditandai dengan kesiapan mereka soal minyak yang dipakai untuk menyalakan pelita.
Lima yang bijaksana membawa pelita mereka dengan cadangan minyak sedangkan lima yang bodoh tidak menyediakan cadangan minyak. Karena lama menunggu, mereka tertidur sambil pelita dibiarkan menyala dan secara otomatis menguras persediaan minyak mereka. Sayang sekali, ketika mempelai akhirnya datang, persediaan minyak lima gadis yang bodoh sudah menipis bahkan habis dan karena itu mereka pergi membelinya. Sial bagi lima gadis itu, manakala mereka kembali ke tempat perjamuan, pintu sudah ditutup dan walaupun mereka mengetuk pintu minta dibukakan, mereka tetap tak bisa masuk. Apalagi dari dalam tempat perjamuan terdengar suara dari Sang Mempelai: "Sesungguhnya aku tidak mengenal kamu."
Kisah lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh hendak mengingatkan kita bahwa tindakan menunggu kedatangan Kristus haruslah dilakukan secara sigap dan tekun. Sigap berarti melakukan segala tanggung jawab kita dengan baik, sesuai kemauan Tuhan. Tekun mengandung pengertian bertanggungjawab sampai akhir. Kita sementara berada di minggu adven kedua. Adven selalu bermakna penantian. Di satu sisi kita sedang menanti hari Natal sebagai hari perayaan kelahiran Yesus Kristus dan di sisi satunya lagi kita sedang menanti datangnya Hari Tuhan di mana Dia akan datang kembali sebagai hakim yang adil.
Bagaimanakah cara kita mengisi waktu penantian itu? Bijaksanalah dalam penantian kita! Hari-hari hidup kita adalah waktu persiapan dimana hati kita didekorasi seindah mungkin dengan sikap dan perilaku yang santun dan memiliki nilai kekekalan baik ketika kita hendak menyambut Natal tahun ini dan ketika kita menyambut hari datangnya Sang Hakim adil. Sekarang waktunya untuk bersiap!
Jangan menunda persiapan kita! Lakukanlah sekarang, sebelum semuanya terlambat! Dan kalau kita mau giat bagi Tuhan, rajinlah dan giatlah sekarang!
Besok mungkin sudah terlambat! Kekristenan kita harus benar-benar tangguh dan militan. Semoga waktu menunggu kita akan sungguh-sungguh punya makna sehingga pada saatnya kita tidak ditolak oleh Dia, Sang Juruselamat, tetapi kita akan mendengar: "Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu". Amin. (*)