Breaking News:

Catatan Sepakbola

Oh Mace, Ya Yabes!

Menumpang tenar Yabes Roni Malaifani pakai parfum politik. Politik parfum, konon kabarnya, kalau over dosis malah menjadi bau

Penulis: | Editor: Fernando_Lumowa
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Pemain Timnas Indonesia U-19 asal NTT, Yabes Roni Malaifani (dua kanan) bersama Muchlis Hadi Ning Syaifulloh (kiri), Evan Dimas Darmono (dua kiri), dan Putu Gede Juti Antara (kanan) berselebrasi usai membobol gawang Filipina pada pertandingan kualifikasi Piala Asia U-19 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (10/10/2013). Indonesia unggul dengan skor 2-0. 

Maka ketika Mace Siahainenia menghembuskan napas terakhir di RS Bhayangkara Kupang 5 Mei 2011, saya menyaksikan begitu banyak orang menitikkan air mata.
Di sudut rumah duka di  Jalan Sam Ratulangi, Kota Baru, Kupang kala itu, Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si berkali-kali mengambil sapu tangan, mengusap lelehan air bening di pipinya.

Air mata duka atas kepergian Mace. Tapi Esthon dan semua yang hadir kala itu bangga atas dedikasi tanta Mace untuk ini negeri hingga akhir hayatnya. Di luar nama besarnya sebagai atlet, Mace adalah abdi negara, pegawai negeri sipil yang berbakti melalui  Bidang Keolahragaan Dinas PPO Provinsi NTT.

Banyak nian kenangan indah yang terungkap dari sesepuh atletik NTT seperti Wellem Radja, Fredik Tunliu, Eduard Setty, Saturnus Serajawa, hingga mantan atlet atletik  Anton Fallo dan Tersiana Riwu Rohi. Pribadi Mace dikenal sangat bersahaja. Tapi dia sangat disiplin dalam berlatih. Disiplinlah yang bikin Mace tetap berprestasi belasan tahun, sampai batas usia atlet  tak bisa lagi kompromi.

Beberapa yang masih terbayang dalam ingatan, Mace memulai prestasi di PON VIII tahun 1975 dengan merebut medali perak lempar cakram. PON IX 1977 Jakarta,  emas tolak peluru dan perunggu lempar cakram. Medali emas PON X 1981, medali perak PON XI 1985,   perunggu PON XIII 1993 dan perunggu PON XII 1989.  

Kesederhaan, ketekunan berlatih serta konsistensi menjaga kebugaran tubuh hingga prestasi bertahan lama, itulah warisan terindah Mace Siahainenia. Siapapun atlet Indonesia yang masih aktif saat ini di cabang olahraga manapun mestinya meniru jejak Mace. Mengambil warisannya yang tetap relevan sampai kapan pun!

                        ***
DEMAM Yabes. Ya, demam Yabes  Roni Malaifani! Begitu atmoster Nusa Tenggara Timur sepekan terakhir, sejak remaja  hitam manis rambut keriting riwil riwil dari Moru, Pulau  Alor menjebol gawang Filipina di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Kamis 10 Oktober 2013.

Yabes menjebol jala gawang dengan kostum berlambang Garuda di dada, jersey pemain tim nasional sepakbola  Indonesia, Merah Putih. NTT terhenyak bergetar tercengang. Bangga! Ada lagi putra Flobamora membela timnas Indonesia di cabang sepakbola setelah Om Sinyo Aliandoe melakoninya di waktu yang amat lampau,  akhir 1970-an. Lama nian mimpi itu baru terwujud lagi melalui Yabes.
Bertahun-tahun yang langganan memakai kostum Garuda adalah anak Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Jawa dan Sumatera. NTT, entah di mana?

Bila Pulau Alor gempar, jika Kamis malam 10 Oktober 2013 penduduk Flobamora jingkrak bergirang ria, itu sebuah pemenuhan dahaga. Oase di tengah gurun prestasi bola yang hening sepi di kawasan  tenggara Republik Indonesia. Yabes mencetak gol, ada yang sampai memeluk televisi segala. Ada juga yang melempar layar lebar untuk nobar (nonton bareng)  karena kegirangan hingga layar robek berhamburan. Pesona bola memang menghipnotis manusia. Bola bikin orang jadi setengah gila!

Heboh penyambutan Yabes di  Kota Kupang pada 16 Oktober 2013 dan di Kalabahi sehari kemudian mencerminkan betapa dahaganya Flobamora akan prestasi di cabang sepakbola. Untung mimpi Yabes kesampaian berkat rejeki blusukan ala Pelatih Timnas Indonesia U-19 Indra Sjafri.

Seandainya Indra tidak melirik NTT, tidak  mencari talenta dari seluruh pelosok Indonesia, nasib Yabes pastilah sama dengan anak-anak NTT lainnya. Mereka punya talenta, punya kemauan untuk meraih prestasi, tetapi peluang itu tidak pernah datang. Mereka layu sebelum berkembang. Saat remaja menjelang, mereka lebih piawai menenggak arak, mengisap rokok sambil bermain kartu remi berjam- jam. Badan tambun. Tambun bonsai. Tambun dengan penyakit sesak berdesak.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved