Catatan Sepakbola
Oh Mace, Ya Yabes!
Menumpang tenar Yabes Roni Malaifani pakai parfum politik. Politik parfum, konon kabarnya, kalau over dosis malah menjadi bau
Penulis: | Editor: Fernando_Lumowa
***
DEMAM Yabes. Ya, demam Yabes Roni Malaifani! Begitu atmoster Nusa Tenggara Timur sepekan terakhir, sejak remaja hitam manis rambut keriting riwil riwil dari Moru, Pulau Alor menjebol gawang Filipina di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Kamis 10 Oktober 2013.
Yabes menjebol jala gawang dengan kostum berlambang Garuda di dada, jersey pemain tim nasional sepakbola Indonesia, Merah Putih. NTT terhenyak bergetar tercengang. Bangga! Ada lagi putra Flobamora membela timnas Indonesia di cabang sepakbola setelah Om Sinyo Aliandoe melakoninya di waktu yang amat lampau, akhir 1970-an. Lama nian mimpi itu baru terwujud lagi melalui Yabes.
Bertahun-tahun yang langganan memakai kostum Garuda adalah anak Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Jawa dan Sumatera. NTT, entah di mana?
Bila Pulau Alor gempar, jika Kamis malam 10 Oktober 2013 penduduk Flobamora jingkrak bergirang ria, itu sebuah pemenuhan dahaga. Oase di tengah gurun prestasi bola yang hening sepi di kawasan tenggara Republik Indonesia. Yabes mencetak gol, ada yang sampai memeluk televisi segala. Ada juga yang melempar layar lebar untuk nobar (nonton bareng) karena kegirangan hingga layar robek berhamburan. Pesona bola memang menghipnotis manusia. Bola bikin orang jadi setengah gila!
Heboh penyambutan Yabes di Kota Kupang pada 16 Oktober 2013 dan di Kalabahi sehari kemudian mencerminkan betapa dahaganya Flobamora akan prestasi di cabang sepakbola. Untung mimpi Yabes kesampaian berkat rejeki blusukan ala Pelatih Timnas Indonesia U-19 Indra Sjafri.
Seandainya Indra tidak melirik NTT, tidak mencari talenta dari seluruh pelosok Indonesia, nasib Yabes pastilah sama dengan anak-anak NTT lainnya. Mereka punya talenta, punya kemauan untuk meraih prestasi, tetapi peluang itu tidak pernah datang. Mereka layu sebelum berkembang. Saat remaja menjelang, mereka lebih piawai menenggak arak, mengisap rokok sambil bermain kartu remi berjam- jam. Badan tambun. Tambun bonsai. Tambun dengan penyakit sesak berdesak.
Begitulah. Kompetisi sepakbola di NTT memang hidup enggan mati pun tak mau. Dari waktu ke waktu begitu saja yang tergelar. Menu yang itu itu juga yang tersaji di altar bola Flobamora. Kejuaraan El Tari Memorial Cup adalah ritual tahunan. Ritual sang jago kandang yang begitu susah menembus kasta kompetisi divisi sedikit lebih tinggi di Indonesia. Jangankan Divisi Utama apalagi Liga Super, sekadar divisi II pun begitu rapuh tim-tim asal NTT mampu bertahan. Warta kekalahan merupakan derita panjang tim-tim Flobamora.
Begitulah hukumnya. Kompetisi berjenjang berkelanjutan merupakan keniscayaan sepakbola. Tatkala dunia gemas dan girang melihat anak bola yang sehat dan menghibur seperti Pele, Maradona, David Beckham, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi atau Neymar, ketahuilah mereka tidak lahir begitu saja. Mereka lahir dari rahim ibu bola yang kerja keras memeras keringat bahkan air mata.
Ketika suatu kabupaten, kota, provinsi di ini negeri tidak memiliki kompetisi sepakbola yang kompetitif, sumbangan pemain untuk tim nasional adalah mimpi di siang bolong. Kalau elit pemimpin daerah lebih sibuk berkompetisi politik, lebih doyan bermain jurus di rimba persilatan pemilukada dan setelah itu lupa urus rakyat, anak-anak bola Indonesia tak pernah mengguncang dunia.
Ini memang bukan hanya masalah Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Utara, Sumatera Utara serta sejumlah daerah lain di Indonesia yang dulu rutin melahirkan anak-anak bola berbakat, saat ini sepi dari nama besar.
Yabes, ya Yabes Roni Malaifani! Apakah dia sudah memiliki nama besar? Saya kira belum saatnya Yabes berbangga secara berlebihan sebagai duta sepakbola Flobamora. Yabes Roni barulah sekuncup, belum mekar mewangi apalagi sampai legendaris.
Siapa saja yang tergetar oleh demam Yabes hari ini, oleh daya itu, oleh pesona bola yang mengantar Yabes disambut bak pahlawan, melebihi atlet kempo, tinju, atletik asal NTT yang prestasinya bahkan sudah menembus dunia, mestilah merawat momentum ini dengan bijak. Yabes tak patut dibelai disanjung dengan kebanggaan terburu-buru karena ia akan merasa tak sanggup memikul beban yang bejibun.
Putaran final Piala Asia U-19 di Myamar, tempat di mana Yabes dkk akan mempertaruhkan kehormatan tim Merah Putih di level Asia masih setahun lagi. Dalam 12 bulan ke depan segala sesuatu masih mungkin terjadi. Yabes, apakah Yabes masih mengenakan kostum berlogo Garuda? Indra Sjafri, sehari setelah timnas U-19 memastikan lolos ke putaran final lewat kemenangan bersejarah atas timnas Korea Selatan 3-2, lantang berkata, rotasi, promosi dan degradasi pemain masih berlaku di Timnas U-19 yang dia targetkan bisa menembus final Piala Dunia U-20 tahun 2015 di Selandia Baru.
Kata Indra, pelatih berkumis kelahiran Sumatera Barat, bahkan seorang Evan Dimas Daryono pun bisa digantikan manakala dalam setahun ini performanya anjlok atau ada pemain lain yang lebih bagus darinya. Jadi, pencapaian seorang Yabes belum apa-apa. Jalan anak yatim itu masih panjang dan berliku, penuh onak dan duri. Tugas kita mendukung Yabes agar jalan yang telah dia rintis dengan manis, dia akhiri pula dengan indah berseri-seri.
Di antara celah gunung-gemunung, ngarai dan juga lembah Indonesia, hari ini masih riuh terngiang nama Yabes. Ya Yabes! Sungguh terlalu kalau ada yang iri dan dengki, juga berpikir praktis dengan agendanya sendiri. Menumpang tenar Yabes Roni Malaifani pakai parfum politik. Politik parfum, konon kabarnya, kalau over dosis malah menjadi bau. Jauh dari harum, semerbak mewangi. *
* Dion DB Putra, wartawan Tribun Manado, penggemar sepakbola.