Smart Women
Virgie Baker: Hidup Jadi Lebih Hidup
Ketika semua wartawan masih harus berpikir dua kali ketika diminta meliput konflik di Ambon 2000, ibu dua anak ini tanpa pikir panjang
Oleh Yudith Rondonuwu
TRIBUNMANADO.CO.ID - Virgie Baker pertama dikenal luas sebagai seorang presenter televisi nasional. Seorang jurnalis perempuan yang selalu tampil enerjik, komunikatif dan semangatnya pernah tak pernah surut dalam keadaan apapun.
Bagaimana tidak? Ketika semua wartawan masih harus berpikir dua kali ketika diminta meliput konflik di Ambon 2000 silam, ibu dua anak ini tanpa berpikir panjang langsung menerima tawaran sekaligus tantangan tersebut. "Waktu itu saya benar-benar tertantang. Saya anak tunggal tapi saya sejak kecil dididik mandiri, harus selalu bertanggungjawab dan tidak boleh menolak tugas," ungkap wanita berambut panjang ini saat diwawancarai Tim Edisi Minggu Harian Tribun Manado di The Sense Cafe and Resto Kawasan Megamas Manado.
Pengalaman liputan di daerah konflik bukan hal baru baginya. Demikian juga liputan bencana yang membuatnya harus meliput sembari menitikkan air mata. Itu terjadi ketika Virgie ditugaskan meliput korban tsunami di Aceh. "Mayat di mana-mana. Saya harus berjalan bersama kameramen dengan pemandangan debu, bau tidak sedap dan mayat bergelimpangan. Bisa dibayangkan, orang melihat dari televisi saja sudah miris apalagi saya yang benar-benar di lapangan. Tapi inilah tugas. Bagaimana memberitakan fakta tentang bencana agar bisa diambil hikmahnya oleh masyarakat yang lain," ungkap alumnus SMP Penabur Jakarta dan SMAN 68 Jakarta ini.
Sebelum menjadi jurnalis, perempuan berdarah Manado ini pernah bekerja di satu perusahaan Jepang yang berkantor di Jakarta. Hanya dua tahun bekerja sebagai sekretaris di perusahaan tersebut, Virgie merasa tidak betah. "Jiwa saya bukan di kantoran. Saya tidak suka pekerjaan yang monoton. Makanya saya mencari pekerjaan lain yang bisa membuat saya bisa lebih bisa bereksprasi dan menjadi diri sendiri," ungkap Virgie yang memiliki rumah di Tomohon.
Puteri pasangan Alm Karel Baker dan Masye Bororing ini mengakui mengalami kepuasan batin berkarir 13 tahun menjadi jurnalis. Ia merasa menemukan dunianya. Bahkan ia mendapatkan suami yang sama-sama jurnalis dan sudah dikaruniai dua orang anak.
"Saya sangat bersyukur dengan kehidupan saya. Pekerjaan saya benar-benar membuat saya merasa hidup dan lebih hidup. Saya bersyukur punya suami yang berlatarbelakang jurnalis jadi bisa mengerti pekerjaan saya," ujarnya.
Sebagai seorang perempuan yang berprofesi sebagai jurnalis, membina rumah tangga bukanlah hal yang mudah. "Ketika orang lain selesai ngantor kita (jurnalis) masih kerja bahkan baru mau mulai kerja. Jadi memang butuh pasangan yang mengerti kerjaan kita kalau nggak bahaya," katanya.
Kendati sudah mulai merambah dunia politik, dunia jurnalis tidak hilang begitu saja. Menjadi jurnalis tak harus tampil di layar kaca, tetapi juga bisa lewat tulisan. "Saya ingin sekali menulis tentang perjalanan-perjalanan saya. Pengalaman saat traveling rasanya seru dan bisa menghibur sekaligus memberi informasi bagi orang lain," tutur Virgie yang kini memegang jabatan penting di satu televisi swasta.
Pernah Jadi SPG Rokok
Virgie selalu terfokus pada pesan papanya. Satu kalimat panjang yang menurut Virgie menjadi pemberi makna hidup dalam kebahagiaan dalam hidupnya. "Tidak dan tidak bisa. Perempuan harus tangguh. Tak boleh mengandalkan orang lain. Harus mandiri, jangan pernah mengeluh dan berkata tidak. Kalau diberikan kepercayaan dan ada keinginan untuk pekerjaan itu harus mencobanya karena kesempatan itu tidak datang dua kali. Daripada kamu menyesali kamu coba saja. Jangan pernah menolak tugas," ungkap Virgie.
Itulah mengapa ketika kuliah, Virgie yang senang mengikuti mode tak mau merepotkan orangtuanya. "Saya itu senang beli baju-baju baru. Nah, kebetulan teman-teman saya di Sastra Jepang UI ada yang suka part time kerja halal. Saya pernah ikutan jadi SPG rokok dan honornya lumayan bisa buat beli baju baru," kenangnya.
Bukan hanya itu saja, ketika kuliah, Virgie yang sejak kecil sudah pintar menari Bali ini pernah menjadi pedagang baju bekas (cabo istilah orang Manado). "Baju-baju impor dari Bandung itu di zaman saya kuliah bagus-bagus. Saya pernah beberapa kali beli langsung dari Bandung dan saya bawa ke laundry kemudian saya jual lagi di kampus. Saya kan pinter milihnya dan banyak teman- teman yang senang dan membeli. Pendapatannya sangat cukup untuk beli baju baru dan kebutuhan saya yang lain," ceritanya.
Pekerjaan lainnya adalah menjadi bagian dari sebuah Event Organizer (EO) di Jakarta. Saat itu Virgie pun masih berstatus mahasiswa namun Ia dan beberapa temannya sesama mahasiswa sudah bergabung dalam EO yang mengelola jadwal kunjungan event sebuah grup band ternama saat itu. "Honornya nggak cuma lumayan. Dan dari pekerjaan inilah saya menyadari kalau jiwa saya bukan di kantoran tapi di lapangan," kata Virgie.
Soal pekerjaan bagi Virgie, bukan soal honor atau gajinya saja tapi soal pilihan agar hidup bisa dinikmati. "Saya gak pernah minta naik gaji. Prinsip saya yang di atas paling lihat. Saya sudah melakukan pekerjaan saya. Yang terbaik dan saya yakin Tuhan lihat kerja keras kita." katanya. (*)