Duit Rp 1 Juta Bisa Beli Saham Telkom
Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mengalami kendala mengubah pola pikir masyarakat menyangkut invenstasi di pasar modal.
Penulis: Ryo_Noor | Editor: Andrew_Pattymahu
Laporan Wartawan Tribun Manado, Ryo Noor
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mengalami kendala mengubah pola pikir masyarakat menyangkut invenstasi di pasar modal.
Menurut Fonny The, Kepala PIPM BEI Manado, salah satu kendala tersebut bagaimana mengubah mindset masyarakat tentang pasar modal.
"Pemahaman masyarakat tentang pasar modal masih kurang. Kultur masyarakat beda-beda, karena investasi kebanyakan masyarakat saat masih tradisional misalnya di Kopra, cengkih, sehingga kita memperkenalkan produk invenstasi ini butuh waktu memang," ungkapnya.
Alumni Fakultas Ekonomi Unklab ini menjelasskan, setiap investasi tentu ada risiko, hal itu memang berbanding lurus, "Sebab itu untuk mengetahui potensi untung dan potensi ruginya, harus belajar mengenal produknya seperti apa, mekanismenya seperti apa. Kita bisa ambil potensi untung besar, tapi bisa meminimalisir risiko," kata dia.
Fonny juga ingin agar pemahaman masyarakat bahwa pasar modal hanya untuk kalangan menengah ke atas tak benar. Semisal untuk memilki saham perusahaan di BEI tak harus punya dana miliaran rupiah, invenstasi dengan dana kecil pun bisa, bahkan minimal Rp 100 ribu.
"Mimimal di perusahaan sekuritas, membuka rekening efek tempat berinvestasi itu ada yang Rp 100 ribu. Bisa pakai buat rekening dan pakai buat beli saham. Misalnya ingin beli saham di atas seratus ribu tinggal nambah dana. Kalau ada orang bilang saham itu untuk kelas midle - up (menengah ke atas) dengan keadaan yang sekarang ini tidak juga," ungkapnya.
Bahkan kata Fonny, dengan dana Rp 1 juta, masyarakat bisa membeli saham perusahaan sekelas Telkom
"Misalnya mau beli saham Telkom 1 lot bisa, kurang lebih satu juta rupiah. Sebenarnya terjangku, cuma kendalanya mengubah mindset orang ini dari investasi tradisional ke investasi modern," pungkasnya.