Renungan

Pendeta Dan Sompe: Jadilah Transformer

Syallom bagi kita sekalian. Bagian Alkitab yang menjadi bacaan hari ini, menceritakan perjalanan panjang dari Naomi dan Rut.


Pendeta Dan Sompe
Ketua Jemaat GMIM Maranatha Paslaten

Bacaan, Rut 4:1-17, Kisah Para Rasul 17:16-34

Syallom bagi kita sekalian. Bagian Alkitab yang menjadi bacaan hari ini, menceritakan perjalanan panjang dari Naomi dan Rut. Cerita mereka berawal dari terjadinya kelaparan di tanah Israel. Pergilah Elimelek bersama isterinya Naomi dan kedua anak mereka Mahlon dan Kilyon ke tanah Moab. Disana Elimelek meninggal, dan anaknya mengambil perempuan Moab sebagaiisteri mereka. Namun, mereka juga meninggal dan meninggalkan isteri dan ibu mereka Naomi. Dengan dukacita yang sangat dalam Naomi mengambil keputusan untuk kembali ke tanah Israel. Menantunya Rut, berkeras hati untuk mengikuti Naomi sambil berkata, bangsamu adalah bangsaku, Allahmu adalah Allahku.
Ketika Naomi dan Rut kembali ke tanah Israel, mereka berhadapan dengan adanya aturan jika seorang laki-laki telah menikah meninggal tanpa ana, maka saudara atau keluarganya yang terdekat harus mengambil atau menebus perempuan yang ditinggalkannya sebagai isterinya. Demikianlah Boasa menjadi penebus bagi Rut, menebusnya dan menjadikan Rut sebagai isterinya.
Renungan Minggu ini dilingkungan GMIM, diberi tema : Allah adalah transformator budaya. Kalau kita lihat dari sudut pandang transformasi budaya, dimana Tuhan adalah transformator, artinya Allah yang mengubah budaya melalui pekerjaan-pekerjaan, peristiwa-peristiwa, maka : peristiwa kematian orang-orang yang dikasihi Naomi dan Rut, telah membawa mereka kembali ke tanah Israel. Memang sulit untuk kita katakana hal ini, karena mengapa harus dengan cara seperti itu? Mengapa harus dengancara mengambil orang-orang yang dikasihi untuk mengubah nasib keluarga atau bangsa? Tapi itulah yang terjadi, Tuhan bisa memakai banyak cara, termasuk mengambil orang yang dikasihi. Dan biasanya jauh sesudah peristiwa itu, kita baru mengerti apa maksud Tuhan, termasuk kita yang melihat cerita ini sekarang, bahwa melalui peristiwa kematina orang-orang yang dikasihi Rut dan Naomi, ternyata ada rencana besar Tuhan untuk keluarga dan bangsa mereka, serta bagi kepentingan pengajaran Tuhan untuk orang –orang beriman.
Jadi bisa dikatakan bahwa segala perkara dalam hidup kita, termasuk kehilangan orang-orang yang dikasihi, selalu berada dalam rancangan Tuhan. Yang penting adalah ketika kita mengalami peristiwa seperti itu, tetaplah dalam pengakuan iman kepada Allah atau kembalilah dalam persekutuan yang takut dan beribadah kepada Allah, seperti Naomi membawa Rut ke tanah Israel sebagai symbol kembali ke pusat peribadan di Sion.
Penataan budaya, adalah bagian dari transformasi, bahwa keadilan, kebenaran, kejujuran, dan keteraturan yang ada dalam unsure-unsur budaya itu harus ditegakkan seperti yang dilakukan Boas. Ia memanggil saki sepuluh orang tua di kota itu, untuk memulai proses penebusan terhadap Rut. Ini adalah gerakan moral yang dibangun supaya orang lain turut menyaksikan, tetapi juga untuk melegitimasi penegakkan keteraturan dan tercapainya cita-cita luhur yang ada dalam budaya itu. Ada komunikasi atau dialog dengan orang yang berhak sesuai urutan untuk menjadi penebus, baik menebus tanah milik Elimelekh, Kilon dan Mahlon yang akan dijual oleh Naomi, dan penebusan itu termasuk Rut. Tapi, rupanya penebus yang dimaksud seperti pada ayat 3 tidak tersedia. Dan akhirnya Boas yang menjadi penebus, termasuk Rut menjadi isterinya. Jadi menegakkan keadilan, kejujuran, kesejahteraan adalah bagian dari transformasi budaya, yakni dari budaya yang tidak adil, melawan keegoisan, individualistis, kerakusan, dan ketamakan. Apalagi ketika kita berhadapan dengan pluralism, pendekatan dialog, apakah dalam bentuk ide, konsep, nilai-nilai, dialog kerja perlu menjadi gaya hidup dalam penataan masyarakat yang lebih baik.
Transformasi budaya berarti, dari eksklusif menjadi inklusif. Tertutup menjadi terbuka. Tapi, bukan berarti buka-bukaan dalam ketelanjangan. Terbuka tapi tidak kehilangan identitas atau jati diri. Disebutkan lalu Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka, atas karunia Tuhan perempuan itu mengandung lalu melahirkan anak laki-laki.
Rut bukanlah keturunan orang Israel, ia adalah orang Moab, Tapi ia masuk dalam keluarga Israel menjadi isteri Boas. Itu berarti ia berhak atas tanah, hartai, tapi juga atas perlakuan yang adil, menikmati kesejahteraan dan berhak atas keselamatan secara rohani. Artinya, Israel terbuka bagi kehadiran bangsa lain, tapi tidak kehilangan identitas. Hal ini mengingatkan kita ketika bersentuhan dengan orang yang berkepercayaan lain, baiklah kita tidak kehilangan identitas termasuk dalam pernikahan. Kita yang membawa orang untuk menikmati keadilan dan kesejahteraan, jangan kita yang justru menjadi sumber masalah. Kita yang membawa mereka kepada Tuhan, jangan kita yang jauh dari Tuhan, kita yang menggarami dunia, bukan dunia yang menggarami kita apalagi menjadi serupa dengan dunia ini.
Secara rohani, keselamatan tidak hanya menjadi milik orang Israel, tapi juga termasuk untuk bangsa-bangsa lain. Ini artinya, pribadi, keluarga dan jemaat harus menjadi alat bagi terjadinya transformasi kehidupan bagi orang lain.
Jadi, transformsai harus dimulai dari kesaksian-kesaksian pribadi, sebab Tuhan memakai orang-orang yang sungguh-sungguh mau melayani Dia. Amin. (*)
Penulis: Warsteff_Abisada
Editor: Andrew_Pattymahu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved