Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bantuan

Nelwan Pertanyakan Dana LM3

Menurutnya sejak tahun 2010 telah dilakukan pencairan dari Kementrian Pertanian namun hingga kini tak ada laporan

Editor:
Laporan Wartawan Tribun Manado Susanty Otodu

TRIBUNMANADO.CO.ID, AIRMADIDI - Meybi Nelwan Jemaat Gereja GPDI Parakletos, Desa Likupang Satu, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) mempertanyakan dana bantuan dari Kementrian Pertanian Republik Indonesia atas program Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) yang diberikan kepada Kelompok Jemaat.

Menurutnya sejak tahun 2010 telah dilakukan pencairan dari Kementrian Pertanian namun hingga kini tak ada laporan pertanggungjawaban. Kondisi ini sangat ia sesalkan karena sampai di penghujumg tahun 2012 belum pernah dilaporkan pertanggungjawaban.

"Dananya lumayan besar Rp 100 juta. Dana itu diloloskan karena menggunakan nama Jemaat GPDI Parakletos tetapi hanya digelapkan. Dan kami selaku Jemaat merasa ditipu. Oleh sebab itu tolong masalah imi segera diselesaikan oleh Dinas Pertanian selaku pengawas," tandas Nelwan pada Tribun Manado, Jumat (30/11).

Lanjut Nelwan beberapa pihak mengetahui betul pengajuan dana tersebut ke Kementrian Pertanian. Mereka adalah Hukumtua yang turut menerangkan bahwa Jemaat memiliki lahan untuk dijadikan lokasi pertanian dibidang kultikultura pisang. Juga turut disertai oleh pemimpin wilayah kecamatan dalam hal ini Camat, serta persetujuan dari Dinas Pertanian Kabupaten dan kemudian Dinas Pertanian Propinsi yang mensahkan.

"Mereka semua turut menandatangani proposal itu, sehingga ketika sampai ke Kementrian Pertanian, dari Dirjen Pertanian langsung datang untuk memantau lokasi. Kemudian langsung dilakukan pencairan," tambah Nelwan.

Masih kata Nelwan, dalam proses pencairan, dana kemudian langsung masuk melalui rekening Ketua Pelaksana Kelompok Jemaat GPDI Parakletos, Oni Rumimpunu. Ketika beberapa kali jemaat mengkonfirmasi, Ketua Pelaksana, Rumimpinu bersihkeras bahwa usaha tersebut milik pribadi.

"Dia (Rumimpunu) ditunjuk oleh Jemaat karena dia Gembala di Gereja, kalau di Mesjid contohnya seperti Imam. Namun ketika dikonfirmasi katanya kalau bukan dia, tidak ada itu doi (uang). Masalahnya bantuan itu pakai nama lembaga Jemaat," kesal Nelwan.

Kondisi ini kemudian membuat Nelwan geram selaku Jemaat GPDI Parakletos. Sebab ia menilai dana bantuan dari Kementrian Pertanian tidak mensejahterakan jemaat tapi hanya mensejahterakan diri sendiri. Dan jika masih belum memperoleh titik temu maka ia dan sejumlah Jemaat lainnya akan melanjutkan proses ini ke ranah hukum.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved