Daerah
Joutje : Bebaskan Danau Tondano dari Limbah dan Budidaya Ikan
Pendangkalan Danau Tondano yang terletak di Kabupaten Minahasa kian mengkhawatirkan
Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO- - Pendangkalan Danau Tondano yang terletak di Kabupaten
Minahasa kian mengkhawatirkan. Debet air yang kian menurun saat musim
kemarau dituding menjadi penyebab 'byar pet' listrik di wilayah Manado,
karena selama ini PLTA DAS Tondano menjadi andalan bagi tenaga
pembangkit listrik. Joutje Koapaha seorang Limnolog atau ahli air tawar
mengatakan demikian pada Tribun Manado, Minggu (30/9).
Pria yang juga dosen di Universitas Negeri Manado (Unima) menilai pendangkalan Danau Tondano ia nilai sudah berada di titik kritis. Berdasar catatannya Danau Tondano pada tahun 1920 dasar danau capai kedalaman antara 38-40 meter. "Kalau sekarang saya belum memastikan tapi kira-kira hanya belasan meter bahkan mungkin hanya 8 meter," ujarnya.
Joutje mengatakan kondisi ini harus diperbaiki, Danau Tondano menurutnya harus dikembalikan pada kondisi semula menjadi ekosistem dan alami. Karena ketika hujan air meluap sedangkan ketika kemarau air menyusut.
Ia menilai hal tersebut tak sehat, idealnya baik hujan maupun kemarau debet air di Danau Tondano harus stabil. Penyebabnya air tidak lagi bisa meresap dan hanya menjadi aliran permukaan. Maka saat hujan tiba air akan meluap.
Faktor lainnya yaitu banyaknya eceng gondok, berdasar kajiannya eceng gondok merupakan tumbuhan yang menyerap air dua kali lipat lebih banyak dibandingkan makhluk hidup lain. Meski demikian dengan mengambil eceng gondok dengan kapal pengeruk saja bukanlah solusi yang tepat.
Kemudian hal lainnya adalah budidaya ikan di Danau Tondano yang menurutnya mengganggu ekosistem alami. "Dulu pernah dilakukan penelitian, pakan ikan yang dimasukkan ke Danau Tondano tidak semua habis dimakan ikan," katanya. Budidaya dengan karamba maupun jaring banyak meninggalkan sisa pakan yang bila diakumulasikan bisa berton-ton ada di dasar danau. Menurutnya pakan-pakan tersebut tak terurai, lalu menutupi tumbuhan dalam danau sebagai penghasil oksigen. "Beberapa waktu lalu banyak ikan yang mati, penyebabnya bisa karena hal itu," jelas dia.
Lalu masuknya lumpur dan pasir dari sungai juga menambah daftar panjang pemicu kondisi kritis Danau Tondano. Belum lagi limbah cair rumah tangga yang juga mencemari Danau Tondano.
Solusi
Solusinya, Joutje sudah memiliki daftar panjang. Pertama harus dibuat resapan air di sekitar Danau Tondano, dibuat lubang di sekitar hulu sungai, sehingga air yang mengalir bukan menjadi aliran permukaan melainkan meresap ke dalam tanah dan menjadi air cadangan bawah tanah. "Nantinya saat kemarai debet air stabil demikian saat hujan," katanya.
Langkah kedua dengan mengungsikan para pembudidaya ikan. Menurutnya pemerintah harus mencarikan alternatif mata pencaharian lainnya karena menurutn Joutje budidaya ikan justru merusak ekosistem Danau Tondano. Dan nantinya Danau Tondano benar-benar menjadi dana yang alami dan memiliki fungsi wisata serta sebagai pembangkit listrik.
Langkah ketiga dengan menyetop aliran limbah cair maupun limbah rumah tangga masuk ke Danau Tondano. "Coba lihat limbah restoran, limbah rumah tangga masuk ke danau," katanya. Imbasnya, jumlah eceng gondok berkembangbiak dengan sangat cepat. Limbah cair yang didominasi dengan sabun atau dterjen menurutnya mengandung nitrogen dan fosfat yang secara ilmiah merupakan nutrisi atau penyubur bagi eceng gondok.
"Makanya kalaupun secara terus menerus dikeruk, eceng gondok akan cepat tumbuh, kapal pengeruk itu bukan solusi yang bagus," katanya.
Jadi diperlukan kesadaran dari masyarakat untuk bersama-sama menjaga keaslian hayati di Danau Tondano. "Bilsa saya pemegang kebijakan, yang saya lakukan pertama adalah bikin perda yang benar-benar mengatasi persoalan tersebut," katanya.
Selama ini ia menilai solusi atas perbaikan Danau Tondano merupakan hanya untuk kepentingan politik bukan kepentingan yang dikaji secara ilmiah. Dengan perda maka jelas ada kebijakan misalnya membuat resapan air, tak boleh ada limbah masuk, dan sebagainya.
Kemudian ada juga pendekatan sosial kemasyarakatan yaitu memberikan penyadaran pada masyarakat melalui sosialisasi, seminar-seminar maupun pembuatan media yang mendukung pelestarian Danau Tondano.
Solusi lainnya adalah menghidupkan kembali Forum DAS Tondano (Fordaston). Namun sebelum dihidupkan ia meminta dilakukan penyelidikan atas hilangnya aset dan harta Fordaston lebih dari ratusan juta rupiah. "Saya sudah laporkan ke gubernur (Gubernur Sulut Dr Sinyo Harry Sarundajang) sudah beberapa tahun lalu tapi belum ada tindak lanjut," jelasnya.
Ia ingat setelah Ketua Umum Fordaston, Freddy Sualang tertimpa masalah hukum lalu dikelola oleh ketua pelaksana harian aset ratusan juta tak tahu rimbanya. "Ini harusnya masuk ranah hukum, harus diusut tuntas karena komputer, data-data atau baseline data sekarang raib," katanya.
Aset, peralatan maupun uang merupakan dana bantuan dari lembaga nirlaba luar negeri seperti JICA Jepang. Lembaga nirlaba menurut dia tidak bersedia untuk membantu lagi karena terjadi penggelapan," jelasnya. (rob)
Pria yang juga dosen di Universitas Negeri Manado (Unima) menilai pendangkalan Danau Tondano ia nilai sudah berada di titik kritis. Berdasar catatannya Danau Tondano pada tahun 1920 dasar danau capai kedalaman antara 38-40 meter. "Kalau sekarang saya belum memastikan tapi kira-kira hanya belasan meter bahkan mungkin hanya 8 meter," ujarnya.
Joutje mengatakan kondisi ini harus diperbaiki, Danau Tondano menurutnya harus dikembalikan pada kondisi semula menjadi ekosistem dan alami. Karena ketika hujan air meluap sedangkan ketika kemarau air menyusut.
Ia menilai hal tersebut tak sehat, idealnya baik hujan maupun kemarau debet air di Danau Tondano harus stabil. Penyebabnya air tidak lagi bisa meresap dan hanya menjadi aliran permukaan. Maka saat hujan tiba air akan meluap.
Faktor lainnya yaitu banyaknya eceng gondok, berdasar kajiannya eceng gondok merupakan tumbuhan yang menyerap air dua kali lipat lebih banyak dibandingkan makhluk hidup lain. Meski demikian dengan mengambil eceng gondok dengan kapal pengeruk saja bukanlah solusi yang tepat.
Kemudian hal lainnya adalah budidaya ikan di Danau Tondano yang menurutnya mengganggu ekosistem alami. "Dulu pernah dilakukan penelitian, pakan ikan yang dimasukkan ke Danau Tondano tidak semua habis dimakan ikan," katanya. Budidaya dengan karamba maupun jaring banyak meninggalkan sisa pakan yang bila diakumulasikan bisa berton-ton ada di dasar danau. Menurutnya pakan-pakan tersebut tak terurai, lalu menutupi tumbuhan dalam danau sebagai penghasil oksigen. "Beberapa waktu lalu banyak ikan yang mati, penyebabnya bisa karena hal itu," jelas dia.
Lalu masuknya lumpur dan pasir dari sungai juga menambah daftar panjang pemicu kondisi kritis Danau Tondano. Belum lagi limbah cair rumah tangga yang juga mencemari Danau Tondano.
Solusi
Solusinya, Joutje sudah memiliki daftar panjang. Pertama harus dibuat resapan air di sekitar Danau Tondano, dibuat lubang di sekitar hulu sungai, sehingga air yang mengalir bukan menjadi aliran permukaan melainkan meresap ke dalam tanah dan menjadi air cadangan bawah tanah. "Nantinya saat kemarai debet air stabil demikian saat hujan," katanya.
Langkah kedua dengan mengungsikan para pembudidaya ikan. Menurutnya pemerintah harus mencarikan alternatif mata pencaharian lainnya karena menurutn Joutje budidaya ikan justru merusak ekosistem Danau Tondano. Dan nantinya Danau Tondano benar-benar menjadi dana yang alami dan memiliki fungsi wisata serta sebagai pembangkit listrik.
Langkah ketiga dengan menyetop aliran limbah cair maupun limbah rumah tangga masuk ke Danau Tondano. "Coba lihat limbah restoran, limbah rumah tangga masuk ke danau," katanya. Imbasnya, jumlah eceng gondok berkembangbiak dengan sangat cepat. Limbah cair yang didominasi dengan sabun atau dterjen menurutnya mengandung nitrogen dan fosfat yang secara ilmiah merupakan nutrisi atau penyubur bagi eceng gondok.
"Makanya kalaupun secara terus menerus dikeruk, eceng gondok akan cepat tumbuh, kapal pengeruk itu bukan solusi yang bagus," katanya.
Jadi diperlukan kesadaran dari masyarakat untuk bersama-sama menjaga keaslian hayati di Danau Tondano. "Bilsa saya pemegang kebijakan, yang saya lakukan pertama adalah bikin perda yang benar-benar mengatasi persoalan tersebut," katanya.
Selama ini ia menilai solusi atas perbaikan Danau Tondano merupakan hanya untuk kepentingan politik bukan kepentingan yang dikaji secara ilmiah. Dengan perda maka jelas ada kebijakan misalnya membuat resapan air, tak boleh ada limbah masuk, dan sebagainya.
Kemudian ada juga pendekatan sosial kemasyarakatan yaitu memberikan penyadaran pada masyarakat melalui sosialisasi, seminar-seminar maupun pembuatan media yang mendukung pelestarian Danau Tondano.
Solusi lainnya adalah menghidupkan kembali Forum DAS Tondano (Fordaston). Namun sebelum dihidupkan ia meminta dilakukan penyelidikan atas hilangnya aset dan harta Fordaston lebih dari ratusan juta rupiah. "Saya sudah laporkan ke gubernur (Gubernur Sulut Dr Sinyo Harry Sarundajang) sudah beberapa tahun lalu tapi belum ada tindak lanjut," jelasnya.
Ia ingat setelah Ketua Umum Fordaston, Freddy Sualang tertimpa masalah hukum lalu dikelola oleh ketua pelaksana harian aset ratusan juta tak tahu rimbanya. "Ini harusnya masuk ranah hukum, harus diusut tuntas karena komputer, data-data atau baseline data sekarang raib," katanya.
Aset, peralatan maupun uang merupakan dana bantuan dari lembaga nirlaba luar negeri seperti JICA Jepang. Lembaga nirlaba menurut dia tidak bersedia untuk membantu lagi karena terjadi penggelapan," jelasnya. (rob)