Gunung Soputan Meletus
Ini Pendapat Ahli Kenapa Gunung Soputan Meletus
Magma ini keluar dari dapur magma yang berada dalam perut bumi melalui lubang kepundan.
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Peristiwa meletusnya Gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Selatan Sulawesi Utara Selasa (18/9/2012) disebabkan oleh interaksi tiga lempeng mikro yaitu antara lempeng Sangihe, lempeng Halmahera dan lempeng laut Maluku.
Dosen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unsrat, Dolfie Pandara M Si mengatakan, gunung api merupakan tonjolan di permukaan bumi yang terbentuk karena keluarnya magma.
“ Magma ini keluar dari dapur magma yang berada dalam perut bumi melalui lubang kepundan, ” katanya kepada Tribun Manado, Rabu (19/9/2012)
Ia menjelaskan, aktivitas magmatik gunung api di Sulawesi Utara termasuk Gunung Soputan dipicu oleh proses interaksi tiga lempeng mikro yaitu antara lempeng Sangihe dan lempeng Halmahera dengan lempeng laut Maluku. Interaksi pergerakan lempeng membentuk zona subduksi ganda dan menghasilkan busur gunung api di Minahasa sampai Kepulauan Sangihe dan di pulau Halmahera.
“ Pergeseran lempeng pada zona subduksi inilah yang menyebabkan terjadi lelehan batuan mantel bumi atau yang kita kenal dengan istilah asthenosphere yang dinamakan magma dan merupakan awal dari dimulainya aktivitas vulkanik pada daerah busur gunung api, ” kata Dolfie
Menurutnya, pemicu meletusnya gunung berapi sangat berkaitan dengan aktivitas tektonik lempeng kerak bumi dan aktivitas vulkanik berupa perubahan parameter fisika dan kimia fisis dari magma yang berada di dalam kantung magma di bawah permukaan gunung api.
“ Aktivitas magma di dalam tubuh gunung api akan berinteraksi dengan material batuan di lingkungan gunung api dan akan menimbulkan getaran atau gempa yang dapat dideteksi dengan seismograf, ” kata Dolfie
Dolfie mengungkapkan, material erupsi yang dimuntahkan gunung api berupa bahan padat atau eflata, bom vulkanik yaitu eflata yang berukuran raksasa, pasir, abu vulkanik, lapili yaitu eflata berukuran besar, dari yang berukuran kerikil hingga sebesar bongkahan batu, bahan cair, dan lava yaitu magma yang keluar dari gunung, dapat berupa cair encer, cair kental, dan lava kental.
“Selain itu dapat berupa lahar yaitu aliran lumpur yang bercampur lava dan air, bahan gas, uap air, gas belerang, karbon dioksida, dan nitrogen, ” katanya
Ia menjelaskan, kuat atau lemahnya erupsi atau letusan gunung api dipengaruhi oleh besar kecilnya tenaga yang disimpan oleh dapur magma dan sumbatan yang ada di lubang kepundan.
“ Peristiwa keluarnya magma dari dalam gunung api akan disertai bahan-bahan padat, cair dan gas yang disebut erupsi, ” katanya
Menurut Dolfie, bahaya utama dari letusan gunung api yaitu adanya awan panas, lontaran material pijar, aliran lava, hujan abu dan gas beracun.
“ Letusan gunung api ini juga dapat menimbulkan banjir lahar dingin yang sangat berbahaya bagi manusia, ” katanya
Ia menjelaskan, material letusan yang dilontarkan gunung api akan berinteraksi dengan parameter-parameter fisika dari atmosfer lokal sehingga dapat menimbulkan berbagai fenomena alam seperti hujan es dan hujan pasir.
“ Hujan es ini disebabkan karena terjadi pendinginan pada ketinggian tertentu akibat banyak abu yang menutupi atmosfer. Sedangkan hujan pasir, hujan abu, serta air hujan seperti lumpur ini diakibatkan karena bergabungnya material pasir, abu dan air yang berkondensasi membentuk awan dan akibat gravitasi jatuh kembali ke permukaan bumi, ” ungkapnya
Dolfie mengatakan, ada beberapa mekanisme terjadinya erupsi suatu gunung api, yaitu diawali dengan adanya injeksi magma segar yang kental dan bersuhu tinggi menyebabkan tekanan magma di dalam kantung magma di bawah kawah gunung api menjadi cukup tinggi.
“Nah, pergerakan magma tersebut yang menimbulkan terjadinya deformasi elastik pada kantung magma berupa retakan-retakan dalam kantung magma yang memicu timbulnya gempa vulkano dan tektonik, ” ungkapnya
Ia menambahkan, sebelum terjadi letusan, tubuh gunung akan mengembang yang dapat dideteksi dengan melihat perubahan jarak kemiringan gunung serta jumlah gas belerang yang meningkat saat menjelang letusan.
“ Tanda-tanda visual akan meletusnya suatu gunung api yaitu adanya aktivitas fumarolik berupa penebalan asap kawah dan perubahan warna asap dari putih menjadi kelabu, adanya peningkatan panas atau suhu di sekitar daerah kawah serta mulai terciumnya gas belerang sampai beberapa kilometer dari gunung, ” jelasnya.