Tribun Manado Road to Jerman
Dresden, Pesona Dunia dari Timur Jerman
Kegiatan Seminar Internasional “Civil and Human Right” kali ini sampai di Kota Dresden.
Penulis: | Editor:
Dresden makin cantik ketika matahari sudah mulai pulang ke peraduan. Sinar matahari malam (di Jerman pada musim panas, matahari benar-benar tenggelam sekitar pukul 20.00) yang menyinari tiap sudut bangunan barok membuat saya tak henti-hentinya mengambil gambar dengan kamera saya.
Ketika malam benar-benar tiba, Dresden menampilkan pesona ajaibnya. Jika ingin beromantis-romantis dengan pasangan, dan kebetulan punya kesempatan ke Jerman, Dresden adalah pilihan utama.
Jembatan bergaya kuno di atas Sungai Elba adalah surganya para pasangan yang sedang kasmaran. Dan benar saja, di salah satu sudut jembatan, seorang pria dan wanita sedang memadu kasih, berpandang-pandangan dan saling melempar senyum, sesekali mereka berciuman mesra.
Lampu temaram yang menghiasi jembatan, deretan bangunan barok di tepi sungai dan efek pantulan cahaya di air sungai membuat saya takjub dan merasa sangat bersyukur. Saya hagul yakin, di Indonesia, tempat seperti ini pastilah menjadi langganan untuk pemotretan pre-wedding.
Tapi lebih dari itu semua, Dresden menjadi contoh nyata pergumulan hidup bangsa manusia dari masa ke masa. Bagaimana perang menimbulkan kekelaman dan bagaimana kedamaian memunculkan keindahan. Hanya dua malam untuk sebuah kehancuran Dresden, dan butuh 50 tahun untuk membangunnya kembali. Keindahan Dresden adalah monumen atas keindahan perdamaian. (anthonius iwan adhipraja)