Minggu, 12 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Satwa

Populasi Maleo di Tangkoko Diperkirakan 200 Ekor

Sebelumnya memang diperkirakan populasinya sudah nol. Tapi sebagaimana data kami pada Juni 2011, populasinya mencapai 200 ekor

Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO ‑ Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Sulawesi Utara memerkirakan populasi burung Maleo (macrocephalon maleo) di Cagar Alam Tangkoko, Bitung, mulai meningkat.
     
"Sebelumnya memang diperkirakan populasinya sudah nol. Tapi sebagaimana data kami pada Juni 2011, populasinya diperkirakan mencapai 200 ekor," kata Kepala BKSDA Provinsi Sulawesi Utara, Sudiyono, di Manado, Jumat (18/11/2011).
     
Dia mengatakan, mulai meningkatnya populasi burung ini erat kaitannya dengan meningkatnya vegetasi tutupan hutan yang enjadi habitat aslinya, habitatnya biasanya terancam akibat kebakaran hutan.
     
"Sekarang ini faktor kebakaran hutan sudah tidak terjadi lagi. Karena itu kami memerkirakan populasinya mulai naik hingga di angka 200 ekor," katanya.
     
Hal serupa, menurut Sudiyono terjadi dengan hewan khas Sulawesi lainnya, Anoa. Dia mengatakan hewan itu sempat dikategorikan punah lokal, hanya saja dalam beberapa kesempatan melakukan pemantauan, selain menemukan berkas‑berkasnya pihaknya juga sempat bertemu langsung.
     
"Kami juga sempat memerkirakan sudah punah lokal. Tapi kami juga sempat menjumpai hewan ini. Artinya populasinya masih ada di Cagar Alam Tangkoko," imbuhnya.
     
Karena itu, kata Sudiyono, penangkaran hewan di luar kawasan harus terus dilakukan, ketika terjadi peningkatan populasi di luar kawasan, dengan sendirinya akan semakin sedikit tekanan untuk satwa di dalam kawasan akibat pencurian atau pengambilan secara tidak bertanggung jawab.
     
"Tekanan terhadap satwa bisa saja karena perburuan untuk dikonsumsi. Kalau alasannya untuk kecukupan gizi, bisa dicari alternatif lain misalnya dengan beternak. Ini yang coba kami pikirkan sehingga secara perlahan perburuan bisa dikurangi," tambahnya.
     
Dia mencontohkan, bila di luar kawasan dikembangkan peternakan kambing, atau hewan lokal lainnya yang bisa menopang ekonomi dan kecukupan gizi, perlahan aktivitas berburu akan ditinggalkan.
     
"Selain memang kita perlu meningkatkan aktivitas pengawasan di dalam kawasan. Termasuk membangun kesadaran masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan," katanya. (antara)
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved