Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Komunitas

Push-up, Mencium dan Memeluk Tiang Bendera

SEBAGAI anggota Pasukan pengibar bendera merah putih (Paskibraka) memerlukan semangat yang tinggi dan

Penulis: Christian_Wayongkere | Editor: Andrew_Pattymahu
zoom-inlihat foto Push-up, Mencium dan Memeluk Tiang Bendera
TRIBUNMANADO/CHRISTIAN WAYONGKERE

Paskibraka Kota Manado Tahun 2011


SEBAGAI
anggota Pasukan pengibar bendera merah putih (Paskibraka) memerlukan semangat yang tinggi dan kemampuan untuk mengikuti setiap latihan yang diberikan oleh para pelatih maupun senior purna paskibraka Indonesia (PPI) manado. Untuk itulah tamu Smart Youngster kita hari akan berbagi pengalaman mereka sepanjang melaksankan tugas sebagai paskibraka... yuk kita simak.... ;)

Latihan, latihah, dan latihan inilah yang dilakuka oleh tamu Smart Yopungster kita kali ini. Sebelum melaksanakan tugas mereka sebagai paskibraka pada tanggal 17 Agustus lalu mereka harus menjalani berbagai rutinitas yang tidak boleh tidak untuk ditinggalkan. Langkah tengap dan harmonisasi gerak dan langkah dibadukan dengan balutan busana serba putih-putih, syal merah putih yang melilit dilehar dan peci hitam membuat mereka terlihat gagah. "Itu semua berkat kerja keras saat kami latihan kurang lebih tiga bulan lamanya," kata Kezia Mawuntu pembawa baki pagi paskibraka kota manado 2011 pada tim Edisi Minggu Tribun Manado. Menurutnya ada banyak pengalaman yang tidak bisa terlupakan selama mengikuti latihan dan masa karangtina sebelum tampil dilapangan Sparta Tikala Manado. "Bangun pagi- pagi harus pergi ketempat latihan sampai sore harinya baru kembali pulang," tutur putri pasangan dari Jessy Mawuntu, dan Novalin Pangkerego. Bagi gadis yang gemar baca buku ini semuanya itu bisa dilakukan dengan baik dan benar bersama-sama dengan reka-rekannya yang lain.

 "Semuanya dilakukan bersama-sama dan kebersamaan yang sangat tinggi," tambah Qey begitu ia dipanggil. Gadis kelahiran Lembean 24 agustus 1995 mengaku dengan mengikuti satu diantara semua tahapan dalam seleksi calon paskibra sampai menjadi anggota paskibraka membuatnya bisa lebih disiplin.

"Berkat Push Up yang diberikan pelatih waktu saya melakukan kesalahan bisa membuat saya lebih disiplin," ucap pelajar SMA Katolik Rex Mundi ini. Senada dengan Kezia Jelita Rumengan mengungkapkan apa yang ia lakukan selama menjadi calon dan anggota paskibraka dilakukan secara bersam-sama. "Semuanya kita lakukan bersama dari pagi sampai sore hari," kata gadis kelahiran Sonder 23 November 1994.

Menurutnya itu semua bisa mereka lakukan meskipun dalam satu kesatuan memiliki karakter yang berbeda-beda. "Meski begitu kami tetap bisa melewatinya dengan canda, tawa, senyum dan tangis," tambah pemilik moto hidup bekerja Keras itu penting tapi ada yang lebih penting lagi yaitu percaya pada diri sendiri. Sementara itu menurut pria yang bernama lengkap Miguel J.P.Abulhajat didalam keikutsertaanya manjadi anggota Paskibraka dilatih bagaiman cara untuk melaksanakan dan mengikuti latihan yang berat.

 "Disini kita dilatih untuk bisa sabar dan kuat dalam latihan agar tidak bosan," kata putra Mustafa Abulhajat, dan Jean Poluan.

Berbeda dengan Noval Rompis yang tak melupakan tradisi atau kebiasaan yang terus menerus berlasung dalam seleksi paskibraka. "Yaitu kami meminta ampun pada tiang bendera dalam posisi push up, serta mencium bendera dan memeluk tiang bendera," pungkas putra pasangan Marson Rompis, dan Meike lebene.(christianwayongkere)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved