Breaking News:

Menelusuri Kejayaan Kerajaan Siau (1)

Sebuah kerajaan ternyata pernah berjaya di Kabupaten Kepulauan Siau, Biaro, Tagulandang atau Kabupaten Sitaro,

Editor: Andrew_Pattymahu

Wartawan Tribun Manado, Yudith S Rondonuwu saat berkunjung ke makam Pertama Raja Siau.
Foto Ist


Sebuah kerajaan ternyata pernah berjaya di Kabupaten Kepulauan Siau, Biaro, Tagulandang atau Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Meski jejaknya nyaris tak berbekas, namun sejumlah warga di Pulau Siau masih tetap bangga sebagai bangsawan atau keturunan  para raja jaman dahulu.


MENEMUKAN
jejak kerajaan di Siau tidaklah sulit. Sebuah  pusara atau makam di Kampung Paseng, Kecamatan Siau Barat  menjadi awal penelusuran Kerajaan Siau oleh Tribun Manado, Kamis pekan lalu.
Makam yang diapit beberapa rumah warga ini terlihat bersih meski baru saja di siram gerimis. Seorang remaja terlihat tekun mengelap kaca makam dengan menggunakan  kain bercorak putih-biru yang dilipat menjadi kotak untuk makam yang berbentuk peti persegi panjang ini.

Makam ini bukanlah tempat pembaringan terakhir keluarga kandungnya, tetapi diyakini sebagai pusara Raja Pertama Kerajaan Siau. erajaan Siau  pernah dipimpin  secara beruntun  oleh 21 raja yang diyakini sebagai nenek moyang masyarakat asli di Sitaro.

Remaja tersebut mengatakan, anak-anak di kampungnya akan langsung membersihkan makam raja ini jika kotor, tanpa harus diperintahkan. "Kalau terlihat kotor langsung saya bersihkan," ujarnya sambil berlalu menuju ke sebuah rumah di belakang pusara itu.

Meneliti pusara, di bagian tengah makam terdapat  tulisan  Makan Raja Pertama Kerajaan Siau Lokombanua. Dipugar atas prakarsa serta bantuan/sembangan Bapak Roy Binilang Bawatanusa Janis SH, Siau 27 Juni 2001. 

Makam ini berjarak hanya sekitar 10 meter dari jalan raya. Sebelum mencapai makam, pengunjung akan melewati gapura besar bertuliskan 'Makan Raja Lokombanua' dengan gambar mahkota berwarna keemasan.

Lokong Banua adalah nama pertama raja pertama di Siau. Semua warga asli Siau percaya Lokong Banua merupakan raja yang mampu menjaga keselamatan warga dari serangan orang asing dan telah membawa kemakmuran bagi daerah Pulau Siau dan sekitarnya termasuk Biaro dan Tagulandang.

Raja ini  terkenal pintar dengan strategi perang. Layaknya seorang Raja Hayam Wuruk-yang memiliki panglima Gajah Mada, keberadaan Lokong Banua tak terlepas dari seorang panglima yang dikenal dengan nama Laksamana Hengkeng U Naung.

Laksamana Hengkeng U Naung pun makamnya tak jauh dari Rajanya yaitu di Kampung Kiawang Kacamatan Siau Barat Utara. Banyak kisah yang mereka torehkan dan menjadi cerita rakyat yang dipercayai masyarakat Siau sebagai sejarah asal-usul keberadaan mereka sampai saat ini.

Habju Salindeho (61), tokoh masyarakat Siau mengatakan kuburan raja ini dilindungi masyarakat sehingga sekitar sampai saat ini masih utuh batu nisan dalam lokasinya yang sebenarnya. "Ada beberapa tokoh-tokoh daerah sini yang ziarah ke makan raja maupun ke makam laksamananya," ujar Salindeho.

Menurut Salindeho, berbeda dengan makan raja, makam Laksamana Hengkeng U Naung seringkali dijadikan 'bahan mainan' sejumlah oknum tidak bertanggungjawab. "Pernah ada anak muda yang memotong tongkat yang diletakkan dikubur Laksamana Hengkeng U Naung. Kuburnya memang tidak dijaga dan berada di kawasan hutan. Waktu, dipotong kayunya patah tapi keesokan harinya tongkat itu utuh lagi seperti tidak terpotong dan sampai saat ini tidak ada lagi orang yang berani iseng dengan tongkat maupun kuburan itu," ungkap Salindeho.

Dikatakan Salindeho masyarakat Siau percaya ada 21 raja yang pernah memimpin Kerajaan Siau. Ada raja yang terpilih karena pertama kali menempati Pulau Siau dengan sebutan kulano, ada yang memenangkan perang, ada yang terpilih dari Komolang Bobatong Datu (Majelis Petinggi Kerajaan) yaitu semacam lembaga legislatif yang dibentuk oleh Raja Winsulangi dan ada juga karena intervensi Belanda pada masa pra penjajahan abad ke-18 Masehi.
Berdasarkan cerita sejumlah warga yang berhasil diwawancarai Tribun Manado dan sebuah karya tulis milik AKBP Rolly Laheba SH Mhum-seorang perwira putra Siau yang kini bertugas di Jakarta- tercatat ada 21 raja yang dipercayai pernah memimpin Siau sebagai sebuah kerajaan yaitu Raja Lokong Banua (Raja pertama yang menjabat tahun 1510-1549), Raja Pasumah ada juga yang menyebut Raja Posumah (Raja kedua menjabat tahun 1549-1587), Raja Wuisang (Raja ketigamenjabat tahun 1587-1591), Raja Winsulangi (Raja keempat menjabat tahun 1591-1631), Raja Batahi (Raja kelima menjabat tahun 1631-1678),

Raja Monasehiwu (Raja keenam menjabat tahun 1678-1680).  Raja Raramenusa dengan nama lain Raja Hendrik Daniel Yacobus (Raja ketujuh menjabat tahun 1680-1716), Raja Lohintundali dengan nama lain Raja David Yacobus (Raja kedelapan menjabat tahun 1716-1752), Raja Ismael Yacobus (Raja kesembilan menjabat tahun 1752-1788), Raja Begandelu (Raja kesepuluh menjabat tahun 1788- 1790).

Raja Umboliwutang dengan nama lain Egenos Yacobus (Raja kesebelas menjabat tahun 1790-1821), Raja Paparang (Raja keduabelas menjabat tahun 1822-1838), Raja Nicolas Ponto (Raja ketigabelas menjabat tahun 1839-1850), Raja Jacob Ponto (Raja keempatbelas menjabat tahun 1850-1889) Raja Lamuel David, (Raja kelimabelas menjabat tahun 1890-1895), Raja Manalang Dulag Kansil (Raja keenambelas menjabat tahun 1895-1908), Raja AJ Mohede (Raja ketujuhbelas menjabat tahun 1608- 1913) Raja AJK Bogar, (Raja kedelapanbelas menjabat tahun 1913-1918) Raja Lodewyk Nicolas Kansil, (Raja kesembilanbelas menjabat tahun 1920-1929), Raja Aling Yanis (Raja keduapuluh menjabat tahun 1930-1935) dan Raja PF Parengkuan (Raja keduapuluh satu menjabat tahun 1936- 1945).(yudith rondonuwu)
 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved