Ingat! Ketika 'Nilai-nilai' Agama Diabaikan, Manusia Tak Luput dari Kekeliruan dan Hilang Akal Sehat

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Ketua PPP Romahurmuziy alias Rommy di Surabaya, Jumat (15/3) lalu.

Ingat! Ketika 'Nilai-nilai' Agama Diabaikan, Manusia Tak Luput dari Kekeliruan dan Hilang Akal Sehat
Tribun Jateng
Rustam Aji 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Jumat (15/3) lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Ketua PPP Romahurmuziy alias Rommy di Surabaya. Romahurmuziy selaku anggota DPR diduga sebagai penerima suap dari Haris Hasanuddin (Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur) dan Muhammad Muafaq Wirahadi (Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik).

OTT oleh KPK sejatinya bukanlah hal yang baru. Sebab, sudah berulangkali KPK melakukan OTT terhadap sejumlah pejabat ataupun pengusaha yang terlibat dalam “kongkalikong” proyek ataupun penyalahgunaan jabatan dan anggaran.

Hanya saja, OTT terhadap Rommy menjadi istimewa dan mengejutkan public karena mereka yang tersangkut dalam kasus tersebut adalah orang yang mengerti agama secara mendalam. Dari sisi jabatan, mereka tentu tak diragukan lagi sebagai orang yang tahu tentang nilai-nilai agama (Islam), yang menganut prinsip sifat Nabi Muhammad SAW: sidiq (jujur), amanah (bisa dipercaya), fathonah (cerdas), dan tabligh (menyeru kepada kebaikan).

Baca: Psikolog Analisis Kelakuan Nikita Mirzani, Ternyata Alami Penyakit Kejiwaan Ini

Empat sifat Nabi tersebut, bukanlah slogan belaka tetapi (mestinya) mengejawantah dalam perilaku sehari-hari. Lebih-lebih bagi pejabat di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag), yang setiap hari bersentuhan dengan persoalan keagamaan.

Manusia memang tak luput dari kekeliruan, apalagi kalau itu sudah bersentuhan dengan kekuasan dan harta. Kadang kedua hal tersebut mampu mengalahkan akal sehat. Sekalipun tingkat keimanannya sudah mumpuni, bila bersentuhan dengan dua hal itu, tak menjamin tidak tergoda. Banyak orang ketika diuji dengan kemiskinan dan kesusahan justeru mampu melaluinya. Namun, tak sedikit orang ketika diuji dengan kekayaan dan kekuasaan malah gagal.

Baca: KPU Tetapkan165 Lokasi Kampanye Rapat Umum di Sulut, Berikut Daftarnya

Bertolak dari kasus di atas, manakala agama dikalahkan dengan ambisi kekuasaan, maka yang muncul adalah sifat korup, ingin menguasai. Tidak ada nilai keteladanan yang teraplikasi sebagaimana empat sifat Nabi. Yang ada justeru sifat serakah dan mengebiri. Batas antara halal dan haram menjadi tidak jelas. Karena semuanya telah dibutakan dengan harta.

Di balik peristiwa tentu ada pelajaran (ibrah). Pelajaran yang bisa diambil dari kasus OTT tersebut, bagi politisi, setidaknya harus lebih berhati-hati dalam menggunakan kekuasaannya. Tidak menjadikannya sebagai aji mumpung. Mentang-menta punya kekuasaan, lalu berlaku semena-mena dan semau gue, serta memeras yang yang lemah.

Haruslah diingat bahwa, kekuasaan yang dimiliki merupakan amanah dari rakyat, yang harus ditunaikan secara baik dan penuh tanggung jawab. Bila mampu, maka perjuangkan hak-hak rakyat.

Sementara bagi pejabat di pemerintahan, ibrah yang bisa diambil adalah bahwa jabatan tidak bisa diraih secara instan, apalagi dengan cara menyuap. Jabatan merupakan hasil dari sebuah kerja keras karena kompetensi dan kredibilitas, bukan hasil nepotisme. (*)

Baca: Bahaya Perokok Pasif, Lebih Berisiko Terkena Kanker Paru-paru!

Tautan: http://jateng.tribunnews.com/2019/03/22/fokus-ketika-nilai-nilai-agama-diabaikan.

Tonton juga:

Editor: Frandi Piring
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved