Turunnya Harga Kopra Sulut Pengaruhi Pelambatan Pertumbuhan Ekonomi

Sementara, perikanan cenderung stabil, namun secara keseluruhan pertumbuhan lapangan usaha pertanian melambat

Turunnya Harga Kopra Sulut Pengaruhi Pelambatan Pertumbuhan Ekonomi
DOK. TRIBUNMANADO/VENDI LERA
Kopra di Boltim 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Pertumbuhan Ekonomi (PE) Sulut tahun 2028 melambat. PE Sulut tahun 2019 tercatat 6, 01 persen, lebih rendah dari PE tahun 2017, 6,31 persen.

Menurut Bank Indonesia, melambatnya PE tak lepas dari melambatnya kinerja tiga lapangan usaha utama, pertanian, industri dan konstruksi.

"Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi Sulut secara keseluruhan melambat," kata Soekowardojo, Kepala Kantor Perwakilan BI Sulawesi Utara, Kamis (7/2/2019).

Beruntung, pertumbuhan sektor perdagangan dan transportasi yang tumbuh positif menjadi penahan pelambatan lebih dalam PE Sulut.

Lapangan usaha pertanian Sulut terutama ditopang oleh tiga sub lapangan usaha utama, Tanaman Pangan, Perkebunan Tahunan dan Perikanan.

Perlambatan terjadi pada sub lapangan usaha tanaman pangan dengan komoditas utama beras dan perkebunan dengan komoditas utama kelapa, cengkih dan pala.

"Sementara, perikanan cenderung stabil, namun secara keseluruhan pertumbuhan lapangan usaha pertanian melambat," katanya.

Perlambatan sektor pertanian terutama disebabkan oleh kegagalan
panen tanaman pangan di triwulan II 2018, sehingga produksi tanaman pangan tahun 2018 melambat dibandingkan tahun 2017.
Harga kopra

Sementara itu, harga coconut oil (CNO) yang terkontraksi menyebabkan penurunan harga kopra di tingkat petani sehingga mengurang insentif petani untuk berproduksi lebih banyak di tahun 2018.

Selain sektor pertanian, perlambatan juga terjadi di lapangan usaha industri yang didominasi oleh industri pengolahan makanan dan minuman (produk olahan kelapa dan olahan ikan) dengan pangsa 84% dari total output sektor industri pengolahan.

Produksi olahan kelapa dan olahan ikan tersebut sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga dunia komoditas tersebut.

Dimana sepanjang 2018, harga rata-rata komoditas CNO terkontraksi
sebesar 37,63% (yoy) yang berimplikasi pada berkurangnya insentif bagi industri untuk meningkatkan produksi.

Perlambatan pertumbuhan produksi ini tercermin dari nilai ekspor minyak nabati dan hewani tahun 2018 yangterkontraksi sebesar 16,23%(yoy), turun secara signifikan dibanding 2017 yang tumbuh sebesar 2,72% (yoy).

Sementara itu, lapangan usaha konstruksi tercatat tumbuh 7,16% (yoy) melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,41%(yoy).

Realisasi belanja modal pemerintah yang belum optimal di Semester I 2018 ditengarai menjadi faktor penyebab melambatnya pertumbuhan konstruksi di tahun 2018. (*)

Penulis: Fernando_Lumowa
Editor: Charles Komaling
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved