Benci PBB, Pengungsi Afganistan Namai Anaknya Tahanan PBB 1 dan Tahanan PBB 2 Tetap Sekolah

Zahra bercerita, dalam keadaan buruk itu kedua adiknya lahir yang kemudian diberi nama tahanan PBB 1 dan tahanan PBB 2.

Benci PBB, Pengungsi Afganistan Namai Anaknya Tahanan PBB 1 dan Tahanan PBB 2 Tetap Sekolah
ISTIMEWA
Pengungsi Afganistan 

TRIBUN MANADO.CO.ID - Tahanan PBB dan tahanan PBB 2 berangkat ke sekolah Senin (14/1/2019) pagi. Wajah keduanya ceria, kontras dengan cuaca Manado yang mendung pagi itu.

Keduanya adalah nama dua anak pengungsi Afganistan  yang ditampung di rumah Detensi Imigrasi Manado di jalan Ring Road.  Dinamai demikian, karena sang ibu jengkel dengan PBB.

"PBB, UNHCR dan IOM menolak permintaan suaka  kami, lantas menjadikan kami tahanan," kata Zahra yang didampingi saudaranya Sajad, Senin pagi.

Dikatakan Zahra, mereka sekeluarga lari dari Afganistan kerena perang.  Menumpang perahu yang sering diterpa ombak keras, secara beruntung selamat, tiba di Indonesia dan pada akhirnya dibawa ke Manado. Beber Zahra, dirinya sekeluarga menerima banyak perlakuan tidak manusiawi.

Pengungsi Afganistan
Pengungsi Afganistan (http://goo.gl/VmkVpd)

"Bantuan makanan dan obat obatan dihentikan justru saat ayah saya kena diabetes, ibu hamil serta saudara saudara saya kena malaria," katanya.
 

Baca: Kisah Anak-anak Pengungsi Afganistan Sekolah di Manado, Ali Belajar Bahasa Indonesia Lewat Handphone

"Kami dilarang sekolah, tak dapat izin kerja, diintimidasi dan lainnya," kata dia.

Zahra bercerita, dalam keadaan buruk itu kedua adiknya lahir yang  kemudian diberi nama tahanan PBB dan tahanan PBB 2. "Puncaknya adalah saat kelahiran tahanan PBB 2," kata dia dengan bahasa Manado.
 

Baca: Pejabat Afganistan Ragukan Kesepakatan Damai dengan Taliban

Zahra mengatakan, ia sekeluarga bertahan karena kebaikan warga Manado.  Sebut Zahra, para gurulah yang mengupayakan agar Tahanan PBB dan Tahanan PBB 2 bisa tetap bersekolah pada saat ini.

"Warga Manado lah yang memberi sedelah pada kami  hingga bisa bertahan hidup," kata dia.

Hingga kini, ia masih bertanya tanya mengapa permohonan suaka mereka ditolak dan mereka jadi tahanan PBB.
"Jika permohonan saya bohong dan Afganistan aman, mengapa PBB mengirim pasukan ke negara kami, " kata dia.

Sajad pengungsi lainnya merasakan keramahan warga Manado.  Ia menyebut warga Manado ramah serta sopan.
"Saya sendiri banyak teman disini, bahkan dari agama Kristen, disini rukun dan damai, " kata dia. (art)

Berita Populer: Ketika Judika dan Rossa Kunjungi Rumah Mewah 5 Lantai Milik Momo Geisha, Begini Kata Keduanya

Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Herviansyah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved