Multifinance Hadapi Risiko Likuiditas: Kemkeu Memeriksa Kantor Akuntan Publik Jiwasraya

Pada tahun ini isu likuiditas kembali akan menjadi isu yang harus diperhatikan perusahaan perusahaan

Multifinance Hadapi Risiko Likuiditas: Kemkeu Memeriksa Kantor Akuntan Publik Jiwasraya
kompas.com
Asuransi 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pada tahun ini isu likuiditas kembali akan menjadi isu yang harus diperhatikan perusahaan perusahaan pembiayaan atau multifinance. Ini disebabkan karena sumber dana utama dari multifinance yaitu bank sedang berkurang.

Suwandi Wiratno, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), menjelaskan, isu pertama perusahaan multifinance tahun ini adalah pembiayaan. "Penyebabnya beberapa faktor, seperti  makroekonomi dan risiko kenaikan bunga," kata Suwandi, Rabu (2/1).

Risiko likuiditas perusahaan multifinance ini juga karena ketidakpercayaan beberapa bank memberi pembiayaan setelah pada tahun lalu ada multifinance yang mengalami kasus seperti SNP Finance.

Mochamad Ichsanudin, Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank II Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengatakan, sumber dana multifinance ini mayoritas dari bank dan penerbitan obligasi. "Apalagi saat ini beberapa bank semakin hati-hati menyalurkan pembiayaan ke multifinance," kata Ichsanuddin, Kamis (3/1).

Berdasarakan data terbaru OJK sampai November 2018, tercatat memang porsi pendanaan dari bank dan non bank menyumbang 30% dari total pembiayaan multifinance. Pendanaan terbesar kedua adalah  surat berharga yaitu 7,9% dari total pembiayaan.

Strategi multifinance

Beberapa multifinance berusaha mengatasi risiko likuiditas ini dengan mengoptimalkan sumber dana baik dari bank maupun penerbitan obligasi.  Djaja Suryanto Sutandar, Direktur Utama WOM Finance, menjelaskan risiko likuiditas  multifinance yang tidak dimiliki bank.

"Kami  anak usaha Maybank relatif tidak terkena likuiditas karena gearing ratio masih 5% di bawah ketentuan OJK 10%," kata Djaja,  Kamis (3/1). Mengatasi risiko likuiditas WOM Finance mengoptimalkan penggunaan surat utang dan pinjaman bank. Komposisi surat berharga dan bank tergantung biaya dana dan pasar uang.        

Roni Haslim, Direktur Utama  BCA Finance bilang selain dari induk BCA Finance akan melakukan pinjaman dari bank lain, antara Rp 1,5 triliun-Rp 2 triliun," kata Roni.

Mulyadi Tjung, Managing Director Indosurya Finance bilang saat ini rasio likuiditas cukup baik. "Tercermin dari debt equity ratio 2,2 kali," kata Mulyadi, Kamis (3/1).  Untuk menjaga rasio likuiditas, Indosurya akan menjajaki kreditur dan investor baik onshore maupun offshore.     

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved