Inilah Taktik Sudirman Usir Belanda dan Sekutu dari Ambarawa
Setiap 15 Desember diperingati sebagai Hari Juang Kartika untuk mengenang pertempuran pasukan infanteri
TRIBUNMANADO.CO.ID - Setiap 15 Desember diperingati sebagai Hari Juang Kartika untuk mengenang pertempuran pasukan infanteri Tentara Kemananan Rakyat (TKR) dan laskar rakyat melawan pasukan Sekutu di Ambarawa pada 1945.
Peringatan untuk mengenang Palagan Ambarawa ini awalnya bernama Hari Infanteri. Namun, pada 1999 muncul Keputusan Presiden RI Nomor 163/1999 untuk mengganti nama Hari Infanteri menjadi Hari Juang Kartika.
Peristiwa militer yang terjadi di Ambarawa begitu penting dalam sejarah militer Indonesia lantaran pasukan TKR dan laskar rakyat berhasil memukul mundur Belanda dan Sekutu.
Kemenangan TKR tercatat sebagai kemenangan pertama institusi militer Indonesia pasca-kemerdekaan.
Kejadian berawal dari kedatangan pasukan Sekutu dan NICA Belanda untuk melucuti tentara Jepang. Namun, Belanda diketahui ingin mengembalikan Indonesia menjadi negara jajahannya.
Berbagai insiden mulai dilakukan seperti pengibaran bendera Belanda, penyerangan Sekutu terhadap markas-markas TKR, penyiksaan dan pembunuhan terhadap rakyat sipil.
Akibatnya, muncul semangat nasionalisme dan patriotisme seluruh rakyat Indonesia untuk mengusir Sekutu dari Ambarawa. TKR dan laskar rakyat mulai melakukan perlawanan ke berbagai daerah di sekitar Ambarawa.
Tiga batalyon dari Resimen Kedu, enam dari Purwokerto, tujuh dari Yogyakarta, satu resimen gabungan dari Solo dan empat batalyon Divisi Salatiga diturunkan.
Namun karena peralatan yang digunakan Sekutu lebih modern, mereka bisa sedikit menghalau serangan dari pihak Indonesia.
Strategi "Supit Urang"
Ketika mendengar Letkol Isdiman meninggal, Jenderal Besar Sudirman yang saat itu menjabat kolonel menuju Ambarawa. Jiwa Kolonel Sudirman sebagai Komandan Divisi V terpanggil untuk turun ke medan pertempuran.
Pada 11 Desember 1945, seluruh komando pasukan TKR dan laskar rakyat di bawah kendali Sudirman. Saat itu, Sudirman mulai memperkenalkan dan membuat rencana untuk melakukan taktik baru dalam pertempuran ini, yakni cepat, cerdik, serentak di segala sektor dengan menggunakan taktik dan strategi “Supit Urang”.
Dilansir dari situs resmi Komando Daerah Militer (Kodam) XIV Hasanuddin, taktik Supit Urang dilakukan dengan gerakan pendobrakan oleh pasukan pemukul dari arah Selatan dan Barat ke arah Timur menuju Semarang.
Gerakan tersebut diikuti dengan gerakan penjepitan dari kanan dan kiri sebagaimana halnya seekor udang menjepit mangsanya, untuk selanjutnya supit bertemu di bagian luar Ambarawa ke arah Semarang.
Untuk menjalankan taktik ini digunakan empat kelompok yang terdiri dari beberapa pasukan dengan tujuan musuh benar-benar dalam kondisi terkurung dan komunikasi dengan pusat terputus
Kolonel Sudirman menggunakan beberapa tempat di dataran tinggi seperti Bawen, Lemahabang, Bandungan, Tuntang, Banyubiru, Ngampin, Jambu, Kelurahan dan Baran sebagai tempat menggempur musuh.